AZROHAL Hasan, salah seorang alumnus Ilmu Sejarah FIB UNAIR mewakili Indonesia pada perhelatan 24th ASEAN-JAPAN Regional Leader Forum 2018 pada Jumat–Minggu, (30/11–2/12) di Angkor Century Hotel Siem Reap, Kamboja. (Foto: Istimewa)
AZROHAL Hasan, salah seorang alumnus Ilmu Sejarah FIB UNAIR mewakili Indonesia pada perhelatan 24th ASEAN-JAPAN Regional Leader Forum 2018 pada Jumat–Minggu, (30/11–2/12) di Angkor Century Hotel Siem Reap, Kamboja. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Azrohal Hasan, salah seorang alumnus Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga yang tergabung dalam KAPPIJA-21 (Kumpulan Alumni Program Persahabatan Indonesia Japan Abad 21) menjadi salah seorang presenter representatif untuk mewakili Indonesia pada perhelatan 24th ASEAN-JAPAN Regional Leader Forum 2018. Acara tahunan AJAFA-21 itu dilaksanakan pada Jumat–Minggu, (30/11–2/12) di Angkor Century Hotel Siem Reap, Kamboja.

Regional Leaders Forum 2018 dibuka langsung oleh Deputi Gubernur Siem Reap, Presiden JICA (Japan International Corporation Agency) Kamboja, dan Sekretaris Umum AJAFA-21 (ASEAN Japan Friendship Association for the 21st Century).

Azrohal mengatakan, acara tersebut diisi dengan pemaparan dari semua anggota negara ASEAN terkecuali Singapura, Brunei Darussalam, dan Timor Leste yang tidak dapat hadir dalam forum tersebut. Kemudian, acara itu dilanjutkan dengan forum tukar pemikiran antar negara ASEAN dengan tema materi ”Green Tourism”.

Dalam paparannya, Azrohal menuturkan bahwa ”Green Tourism” di Indonesia belum maksimal. Beberapa destinasi wisata Indonesia, lanjut dia, keindahan alam Indonesia senantiasa tidak terjaga dengan baik. Masih banyak tempat wisata yang tidak ramah untuk menjaga lingkungan yang dibuktikan dengan fasilitas tempat pembuangan sampah yang kurang memadai.

”Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan di tempat wisata masih kurang,” tambahnya.

Azrohal mengatakan, permasalahan yang sama juga terjadi di hampir semua negara di ASEAN. Termasuk tuan rumah Kamboja dengan wisata sejarah ”Angkor Wat komplek” di Kota Siem Reap. Pada tempat wisata itu, permasalahan yang sama terjadi dengan banyaknya sampah plastik yang masih berserakan. Di beberapa tempat wisata Angkor Wat, tempat pembuangan sampah masih kurang memadai.

Acara yang terlaksana atas kerja sama AJAFA-21 dengan JICA tersebut merumuskan gerakan kampanye untuk Green Tourism di negara-negara ASEAN. Juga merupakan cita-cita Jepang untuk menyukseskan 17 Sustainable development Goals (SDGs).

”Para alumni program persahabatan Indonesia-Jepang diharapkan mampu membawa misi ini ke negaranya masing-masing,” sambungnya.

Acara itu dilanjutkan dengan heritage tour ke berbagai museum di Kamboja yang dilaksanakan selama beberapa hari. Salah satu tujuan heritage tour itu ialah Angkor Wat yang menjadi warisan peradaban kuno Kamboja dibawah kekuasaan Raja Khmer.

Kemegahan peninggalan candi-candi di Kamboja mempunyai banyak kesamaan stupa dan arca dengan candi yang ada di Indonesia. Bentuk stupa Budha tak jauh beda dengan di Borobudur. Begitu juga, bentuk candi utama Angkor Wat peninggalan Hindu tak jauh beda dengan Candi Prambanan.

Acara tersebut diakhiri dengan pertunjukan budaya dari setiap negara peserta. Termasuk Indonesia yang menampilkan tari Sajojo dari Maluku. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan singkat peserta representatif Indonesia dan undangan untuk seluruh hadirin agar tahun depan datang ke Bali untuk Regional Leaders Forum 2019.

”Tahun depan adalah giliran Indonesia untuk menjadi tuan rumah. KAPPIJA-21 mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk menjadi tuan rumah terbaik selanjutnya,” tutupnya. (*)

 

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone