RONNIE Hatley menjelaskan materi kuliah tamu di Ruang Adi Sukadana, (28/11) kemarin. (Foto: Fadhila Inaz Pratiwi)
RONNIE Hatley menjelaskan materi kuliah tamu di Ruang Adi Sukadana, (28/11) kemarin. (Foto: Fadhila Inaz Pratiwi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Pernahkah terlintas dalam benak diri masing-masing, bagaimana asal-muasal penduduk pribumi sehingga memiliki etnis yang beragam? Mengapa masyarakat penghuni pulau Jawa & Daratan Asia Tenggara 50 persen memiliki genetika yang sama dan masyarakat Maluku serta Nusa Tenggara Timur (NTT) sepintas mirip dengan orang Papua? Bagaimana leluhur kita cerdas mengasah kemampuan bercocok tanam, memanfaatkan sumber daya yang tersedia? Bagaimana cikal bakal terbentuknya kerangka bahasa Nusantara?

Menjawab pertanyaan tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga melaksanakan kuliah tamu pada Rabu (28/11) di Ruang Adi Sukadana, Lantai 2, Gedung A FISIP. Ronnie Hatley, Ph.D didapuk sebagai pengajar materi kuliah dengan tema “Melacak Leluhur Indonesia dari Taiwan, Papua, dan Pantai Champa 1500–4200 tahun yang lalu”. Kuliah tamu tersebut dihadiri sekitar 72 orang dari berbagai institusi pendidikan.

”Ronnie Hatley merupakan profesor asal Amerika yang concern dengan Indonesia. Ronnie sebenarnya telah emeritus (professor yang sudah pension, Red), namun masih aktif menulis dan meneliti. Utamanya dalam malacak leluhur Indonesia serta menyumbangkan pemikiran tentang Indonesia, berdasar bukti arkeolog,” terang Dra., Myrtati Dyah Artaria M.A., Ph.D selaku wakil dekan III FISIP UNAIR.

Dalam paparan Ronnie, Mrytati turut menceritakan bahwa asal-usul manusia Indonesia bukan hanya dari satu tempat. Indonesia memiliki letak strategis, berada di persimpangan jalur perdagangan dan lintas internasional. Hal itu memungkinkan Indonesia pada zaman dahulu disinggahi oleh banyak penduduk asing.

Salah satu nenek moyang yang mendominasi Indonesia diketahui adalah suku Austronesia. Indonesia menjadi salah satu tempat tujuan perantauan suku Austronesia setelah mengarungi negara Taiwan, sepanjang pantai Asia Tenggara (pantai Champa), lalu ke Indonesia, dan Madagaskar.

Suku Austronesia menjadi leluhur yang membawa cikal bakal kebudayaan dan bahasa Indonesia. Suku Austronesia juga turut andil memajukan pertanian Nusantara kala itu. Mereka memiliki teknologi irigasi maju seperti sengkedan dan terasiring.

Rumpun Austronesia menyebar dan menetap hampir di seluruh Indonesia, kecuali di wilayah timur, seperti Papua, NTT, Maluku. Dampaknya, dapat dilihat ada kesenjangan etnis dan ras. Itulah mengapa penduduk wilayah barat Indonesia sekilas terlihat mirip dengan penduduk di Asia Tenggara, berbeda dengan wilayah timur Indonesia.

”Saya berharap materi yag telah disampaikan oleh Ronnie Hatley dapat menggugah para peserta mengenal lebih dekat sejarah leluhur Indonesia. Setidaknya mereka memahami perkembangan Indonesia sehingga bisa seperti ini,” pungkas Dra., Myrtati. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone