University of Amsterdam dan UNAIR Kolaborasi Diskusikan Konflik Sosial

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SUASANA Simposium Regional bertajuk Decoding the Labyrinth of Conflict: Menggali Pembelajaran Resolusi Konflik Pasca Reformasi dari Gerakan Maiyah Nusantara pada Kamis (29/11) di Aula Adi Sukadana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga. (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)
SUASANA Simposium Regional bertajuk Decoding the Labyrinth of Conflict: Menggali Pembelajaran Resolusi Konflik Pasca Reformasi dari Gerakan Maiyah Nusantara pada Kamis (29/11) di Aula Adi Sukadana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga. (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)

UNAIR NEWS – Sebagai bentuk kepedulian civitas akademika pada di lingkungan sekitar serta pengembangan tradisi collaborative research dan collaborative engagement, Universitas Airlangga, aktif mengadakan diskusi ilmiah soal problem kemasyarakatan. Seperti halnya yang digelar pada Kamis (29/11) di Aula Adi Sukdana, Lantai 2, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga.

Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR berkolaborasi dengan Amsterdam Institute of Social Sciense Research (AISSR), University of Amsterdam, Belanda, pada Kamis (29/11) menggelar Simposium Regional bertajuk Decoding the Labyrinth of Conflict: Menggali Pembelajaran Resolusi Konflik Pasca Reformasi dari Gerakan Maiyah Nusantara. Simposium itu juga ditujukan sebagai upaya penciptaan rasa aman, toleransi atas keberagaman, dan pencegahan berbagai potensi konflik dan bencana sosial maupun bencana alam di tengah-tengah masyarakat.

Selain itu, akhir-akhir ini keamanan, integrasi, dan keutuhan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, serta bernegara di Indonesia kembali diuji. Khususnya atas gejolak alam dan sosial yang magnitude serta intensitasnya semakin mengkhawatirkan.

Di sisi lain, harmoni sosial sering sekali terancam oleh social disasters berupa konflik antaretnis, agama, dan kelompok atau golongan. Penyebabnya, penduduknya Indonesia yang banyak terkesan tidak melihat fakta Bhineka Tunggal Ika. Indonesia adalah satu dari tidak banyak negara yang memiliki keragaman etnis, budaya, dan agama yang luar biasa.

Dalam konteks ini, Gerakan Maiyah Nusantara yang hadir dan berkembang pesat sejak era reformasi. Maiyah menjalankan sebuah alternatif baru yang ternyata menyentuh aspek pengamanan dan pencegahan konflik yang selama ini tidak banyak ”digarap” oleh state actors maupun non-state actors, yaitu ”pengamanan ruang berpikir”.

Dalam khazanah pergerakan sosial di Indonesia, istilah Maiyah belum banyak mendapatkan sorotan dan kajian mendalam, baik dari kalangan akademisi, jurnalis, analis sosial, maupun para penentu kebijakan public. Khususnya dalam hal resolusi konflik. Namun, kiprah Maiyah sangat luas dan mencakup banyak spektrum.

Ketua Pusat Informasi dan Humas UNAIR yang membuka simposium itu menyampaikan bahwa Maiyah menjadi ruang publik yang benar-benar publik. Artinya, Maiyah menjadi medium bagi semua kalangan masyarakat untuk berbincang dan saling belajar.

“Maiyah ini mengedepankan sesrawungan. Sebagai nilai kebudayaan Indonesia yang mulai hilang tergerus modernitas,” sebutnya pada Kamis (29/11).

Refleksi dari berbagai lapisan masyarakat, ungkap Dr Suko, menjadi bahan obrolan yang memberikan banyak nilai dalam Maiyah. Pada akhirnya, pencarian jawaban secara bersama-sama itu berujung pada kepemahaman antar sesama untuk meminimalkan konflik di masyarakat.

“Jadi, di sini (Maiyah, Red), ada sebuah dialog yang saling memberikan jawaban tanpa bermaksud saling merasa lebih, dibandingkan yang lain,” ujarnya.

Perlu diketahui, symposium regional itu terbagi dalam dua sesi. Memberikan paparan dalam sesi I adalah Ahmad Karim, S.Ant, MA dari Bappenas, AISSR UvA, Amsterdam; Dr. Suko Widodo, M.Si. dosen Ilmu Komunikasi FISIP serta ketua Pusat Informasi dan Humas; Hokky Situngkir, direktur BandungFe Institute, Pakar Kompleksitas Sosial; serta Prof. dra. Rachmah Ida, M.Com, Ph.D, pakar media Unair.

Selanjutnya, dalam sesi kedua, hadir memberikan materi Ahmad Fuad Effendy, Anggota Dewan Pengawas pada King Abfullah bin Abdulaziz International Center for Arabic Language; Prayogi R. Saputra, penulis Spiritual Journey Emhq, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Drs Gitadi Tegas S, M.Si., pakar kebijakan publik; dan Joko Susanto, S.IP, M.Sc, pengajar Hubungan Internasional FISIP UNAIR.

Sembilan Hasil

Dari simposium selama sehari itu, didapat sembilan poin kesepakatan hasil. Pertama, keragaman (diversity) dan kemajemukan (plurality) Indonesia adalah kekayaan dan anugerah, tapi bisa menjadi potensi konflik sebagaimana yang telah terjadi pasca reformasi.

Kedua, yang berkembang saat ini di Indonesia didominasi narasi yang segregatif sifatnya. Jadi, polarisasi semakin menjadi dan berpotensi untuk menjadi masalah dan konflik sosial pada kemudian hari.

Ketiga, salah satu tanggung jawab akademis Universitas Amsterdam dan Universitas Airlangga adalah turut mengupayakan pencegahan atas konflik yang mungkin terjadi. Keempat, pengupayaan tersebut adalah penyelenggaraan Simposium Regional “Decoding the Labyrinth of Conflict: Menggali Pembelajaran Resolusi Konflik Pasca Reformasi dari Gerakan Maiyah Nusantara”.

Kelima, Gerakan Maiyah Nusantara yang sudah berkembang menjadi lebih dari 60 simpul Maiyah dalam 25 tahun terakhir menunjukkan atmosfir sosial yang harmonis. Meski di dalamnya semua pihak bebas menjadi dirinya, tanpa perlu dilarang untuk menunjukkan identitasnya.

Keenam, shifting orientation Gerakan Maiyah Nusantara adalah khazanah keilmuan baru yang layak dielaborasi lebih detail dan lebih jauh sebagai sebuah tawaran resolusi konflik dengan prinsip pencegahan konflik sebagai upaya preventif. Ketujuh, di tengah maraknya eksploitasi politik identitas dalam narasi yang dominan saat ini, manajemen atas identitas-identitas dalam sebuah kelompok, komunitas bahkan bangsa –sebagaimana berlaku di dalam Gerakan Maiyah Nusantara– menjadi kian terasa urgensinya.

Kedelapan, upaya resolusi konflik dengan prinsip preventif semacam ini adalah upaya yang ”sepi” dari glorifikasi dan kepahlawanan, namun wajib ada yang melakukannya. Sebab, kerugian material maupun immaterial dari sebuah konflik sosial terbuka, terlalu mahal harganya.

Kesembilan, simposium ini sangat terbuka dan membuka diri untuk dikaji, didiskusikan, atau dielaborasi lebih dalam. Setidaknya dari beberapa sisi: karakteristik emergence dan self-organized society, Maiyah sebagai ruang publik baru mengisi dengan narasi penyeimbang pada narasi dominan yang cenderung segregatif, konstelasi meta-politics dengan dekonstruksi Maiyah, narasi keberagamaan yang mengamankan, dan beberapa hal lain. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu