EMIL Dardak saat menyampaikan keynote speech dalam event Millenials Peace Festival di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen Kampus C Univeritas Airlangga. (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)
EMIL Dardak saat menyampaikan keynote speech dalam event Millenials Peace Festival di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen Kampus C Univeritas Airlangga. (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Siapa yang tidak suka damai? Semua orang di muka bumi ini pasti suka dan cinta pada kedamaian. Tidakkah semua orang sangat membenci kekerasan, ketidakadilan, kebencian, dan ketidakdamaian?

Namun, tidak sedikit ungkapan kecintaan itu berhenti pada pernyataan-pernyataan yang normatif. Ungkapan yang tidak diikuti dengan aplikasi yang benar-benar berdampak dan berwujud pada pembentukan iklim damai di lingkungan sekitar atau terdekat mereka.

Emil Dardak saat menyampaikan keynote speech dalam event Millenials Peace Festival di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen Kampus C Univeritas Airlangga, memberikan sejumlah tips dan cara generasi millenial bersikap dan memupuk cinta damai itu. Mengingat, generasi millennial aktif dalam dunia virtual di media sosial sebagai buah dari kemajuan teknologi dalam berinteraksi terhadap sesama.

”Di antara kita, banyak yang menyatakan bahwa suka dan cinta damai. Ada berupa ujaran langsung, status, atau yang lain. Tapi, mereka juga dengan mudah nyinyir di media sosial,” ujarnya.

”Apakah ini juga bagian dari bentuk dan ekspresi cinta damai itu?” imbuhnya.

Menurut Emil, ujaran kebencian berupa nyinyir dan menghujat akhir-akhir ini begitu banyak beredar di media sosial. Terlebih, pengguna media sosial didominasi oleh kalangan anak muda atau generasi millennial. Topik-topik perbedaan pendangan menjadi penyebab maraknya ujaran kebencian beredar di media sosial.

Kenyataan tersebut, lanjut Emil, bisa berdampak serius pada kemudian hari. Mengingat, Indonesia merupakan negara yang beragam. Baik suku, agama, maupun ras.

Mulai dari Ber-comment

Emil menjelaskan, upaya menebarkan virus cinta damai itu bisa dilakukan dari hal-hal yang sangat kecil, sepele, dan terdekat. Misalnya, membiasakan diri untuk tidak mudah terpancing dan berkomentar negatif kepada siapa pun serta terhadap apa pun. Terutama di dalam dunia internet semacam media sosial saat memberikan komentar.

”Ini menjadi rahasia umum, bahwa mau tidur dan bangun tidur, hal yang kali pertama dicari generasi millennial adalah smartphone,” sebutnya.

”Ibaratnya, nggak ada sinyal kayak nggak ada oksigen. Jadi, sikap cinta damai itu, dimulai dari cara kalian berinternet dan bermedia sosial,” tambahnya.

Tindakan-tindakan yang sederhana semacam itu, lanjut Emil, menjadi kunci untuk memberikan dampak pada kedamaian yang lebih besar, yaitu perdamaian dunia. Selain itu, generasi millennial mesti memeiliki komitmen untuk membangun perdamaian itu melalui internet. Terutama dalam upaya mengurangi praktik ujaran kebencian.

”Kita harus punya komitmen. Kita harus care dengan yang ada di dekat kita,” tuturnya.

”Saat konek ke internet. Nitijen harus mengakkan etikat yang baik, tapi juga terbuka dengan perbedaan apa pun. Selain itu, peka terhdap gejolak intoleran di internet untuk berkomitmen menguranginya. Kita juga aktif memerangi citra buruk masyarakat kita (Indonesia, Red) yang dibangun netijen. Saatnya sailnet majority bangkit menebar virus kedamaian,” tambahnya. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria Rifai

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone