Prof. Myrta diundang mengajar sebuah sekolah internasional, Surabaya European School. Ia menyampaikan materi tentang biological anthropolgy yang mengarah pada antropologi forensik. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Menjadi seorang dosen rupanya tak lantas membuat salah satu dosen Antropologi UNAIR ini hanya fokus pada kegiatan pembelajaran di kampus bersama mahasiswa. Ialah, Prof. Dra. Myrtati Dyah Artaria, MA., Ph.D, dosen sekaligus guru besar antropologi UNAIR yang dikenal ramah dan hobi berbagi pengetahuan kepada siapa saja.

Sebab itu, seringkali dirinya diminta untuk menjadi pengajar tamu di sekolah-sekolah. Mulai dari mengajar di TK, SD, dan SMP, semua pernah dilakoninya. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, mendorong dirinya untuk bisa terus berbagi ilmu. Ia tak pernah menolak tawaran mengajar dan ceramah sejauh waktunya cocok.

“Itu menyenangkan buat saya. Artinya kita bisa memberikan ilmu ke anak kecil sampai orang dewasa, baik yang disiplin ilmunya dekat dengan kita atau bahkan orang lain tidak tahu sama sekali. Hal itu untuk memberikan pembelajaran pada masyarakat tentang pentingnya disiplin ilmu ini, apa sumbangannya untuk masyarakat. Jadi saya sangat welcome andai diundang ke sekolah-sekolah,” terangnya.

Yang paling baru, Prof. Myrta diundang untuk mengajar sebuah sekolah internasional, Surabaya European School. Di situ, Prof. Myrta menyampaikan materi tentang biological anthropolgy yang mengarah pada antropologi forensik.

“Jadi waktu itu saya mengajar di kelas science. Siswa mendengarkan bersama gurunya. Bahkan mereka mengajukan pertanyaan luar biasa. Anak-anak SMP itu kreatif banget, mereka kritis. Mereka sangat tertarik, karena memang jarang yang tahu tentang antropologi di Indonesia,” ungkapnya.

Prof. Myrta mengatakan, butuh seni untuk menyampaikan materi terkait antropologi kepada anak-anak. Semisal, menggunakan kata-kata sederhana dalam menjelaskan nama-nama anggota tubuh manusia, dan menghindari penggunaan istilah asing. Dirinya juga kerap membawa alat peraga untuk memudahkan anak-anak memahami apa yang disampaikan.

“Saya pernah membawa peraga berupa replika tengkorak manusia. Mereka nggak takut. Waktu itu saya tanya, apakah kalian pernah lihat human skull? Terus saya kasih lihat, saya tunjukkan bahwa ini lho, tengkorak laki-laki sama perempuan itu beda. Jadi kalau menjelaskan sambil nunjuk yang saya maksud itu ini,” jelasnya.

Prof Myrta saat menjelaskan tentang tengkorak manusia dan antropologi forensik. (Dok. Pribadi)

Pentingnya antropologi

Mengenalkan antropologi sejak dini rupanya sangat penting dilakukan. Sebab, melalui antropologi, anak-anak akan mempelajari keberagaman baik fisik maupun budaya. Mempelajari keberagaman sejak awal akan menanamkan rasa toleransi terhadap berbagai perbedaan yang dimiliki setiap manusia.

“Nah, kalau misalnya kita paham bahwa manusia itu beragam, dan kita menerima itu, maka tidak akan ada tindak pelecehan terhadap orang lain, bullying. Jadi mempelajari keberagaman itu bisa diajari sejak awal sehingga mereka akan tumbuh menjadi anak yang toleran ketika menghadapi orang-orang yang berbeda,” tutur alumnus S3 Adelaide University itu.

Ke depan, ia ingin mengajak dan mendorong mahasiswanya untuk turut serta memberi pembelajaran kepada adik-adik di sekolah.

“Selama ini mahasiswa kan mendapat pembelajaran di kelas. Maka mereka juga punya kesempatan untuk memberikan pembelajaran kepada adik-adik di sekolah. Jika hal ini digandengkan dengan PKL, KKN, maka hasilnya akan bagus. Sehingga praktikum mahasiswa tidak sekadar turun ke lapangan untuk mengambil data, menganalisis, dan membuat laporan, melainkan mereka juga memiliki pengalaman untuk berbagi pengetahuan,” pungkas Prof. Myrta. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone