Mahasiswa UNAIR Sosialisasikan Ciri Keaslian Uang Rupiah di Pulau Gili Noko

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dua Mahasiswa Universitas Airlangga melakukan sosialisasi ciri keaslian uang rupiah (Cikur) di Pulau Gili Noko Gresik (Foto: Maulya)

UNAIR NEWS – Masih dalam serangkaian kegiatan Ksatria Maritime Project (KMP), dua mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan kegiatan sosialisasi Ciri Keaslian Uang Rupiah (Cikur) di Pulau Gili Noko, Bawean, pada Selasa (13/10). Kegiatan tersebut merupakan hasil pembekalan yang dilakukan oleh Bank Indonesia sebelum keberangkatan panitia Ksatria Maritim di Pulau Gili yang bertempat di sebelah timur Pulau Bawean.

Sufiati Alfa sebagai penanggung jawab kegiatan mengatakan latar belakang kegiatan ini berawal dari seruan Muadz Akbar Kepala Desa Sidogentung Batu ke pedagang ikan yang kesulitan dalam memahami keaslian uang.

“Sehingga pernah terjadi transaksi yang membuat masyarakat menggunakan uang palsu, terutama pada pedagang di pulau Gili Noko,” ujar Sufi

Untuk mengatasi hal itu, panitia Ksatria Maritim Project mengadakan sosialisasi Cikur agar masyarakat dapat mengetahui ciri keaslian uang rupiah dengan uang palsu.

Cara Mengetahui Keaslian Uang

Sufi mengatakan, untuk mengetahui uang palsu cukup menerapkan 3D. Dilihat, diraba dan diterawang.  Jika dilihat, warna uang asli lebih cerah dari uang palsu. Kemudian, hologram yang bertuliskan Bank Indonesia punya keaslian yang tidak bisa ditiru oleh uang palsu.

Jika dilihat, gambar garuda bisa dilihat. Jika diterawang terasa ada garis timbul dibagian pinggir uang.

“Uang pecahan seratus ribu punya garis satu pasang di pinggirnya, uang lima puluh ribu punya dua pasang,” terang mahasiswa jurusan administrasi negara tersebut.

Lalu yang yang terakhir, jika diterawang ada gambar pahlawan dan logo Bank Indonesia yang terletak di bawah nominal rupiah.

Sufi berpesan kepada warga Gili, agar ciri keaslian uang tetap terjaga harus dirawat dengan menerapkan 5 J. Yaitu jangan dicoret, jangan diremas, jangan disteples, jangan dibasahi, dan jangan dilipat.

Foto bersama usai sosialisasi ciri keaslian uang rupiah (Cikur) di Pulau Gili Noko, Bawean, pada Selasa (13/10). (Foto: Maulya)

“Uang di pesisir biasanya disteples dan basah. Kemudian kami menawarkan solusi supaya disimpan dalam kantung dompet besar supaya tidak basah. Insya Allah dengan menerapkan itu nilai keaslian uang tetap utuh dan tidak cepat rusak,” pungkasnya dalam wawancara. (*)

Penulis : Fariz Ilham Rosyidi

Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu