FOTO bersama ketiga pemateri seminar nasional akuakultur dengan beberapa peserta seminar. (Foto: Tim Pubdekdok)
FOTO bersama ketiga pemateri seminar nasional akuakultur dengan beberapa peserta seminar. (Foto: Tim Pubdekdok)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Bidang akuakultur atau budidaya perikanan sudah seharusnya menjadi perhatian nasional dalam pengembangannya. Kontribusi akuakultur Indonesia terhadap produksi perikanan dunia terus mengalami peningkatan.

Salah satu faktor yang mendukung, yaitu potensi lahan yang dimiliki Indonesia masih begitu luas dan belum sepenuhnya tergarap. Selain itu, Indoensia kaya akan keanekaragaman hayati. Sebanyak 45 persen spesies ikan dunia terdapat di Indonesia.

Meskipun bidang perikanannya dibagi menjadi dua, yakni penangkapan dan akuakultur, kini Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan sektor penangkapan. Indonesia harus fokus untuk pengembangan sektor akuakulturnya.

Hal tersebut dilakukan demi keberlanjutan dan menjaga kondisi sungai atau laut Indonesia yang masih ada. Sebab, saat ini sektor penangkapan di Indonesia telah mencapai titik over fishing. Karena itu, yang terancam bukan hanya biota, kondisi lingkungan pun berpotensi rusak.

Pengembangan akuakultur di Indonesia harus dilakukan dengan memanfaatkan potensi yang ada. Menjawab hal tersebut, Program Studi Akuakultur PSDKU Universitas Airlangga Banyuwangi bersama Himpunan Mahasiswa Budidaya Perairan mengadakan seminar nasional yang bertajuk ”Pengembangan Potensi Akuakultur Menuju Pembangunan Perikanan Indonesia yang Berkelanjutan” pada Jum’at (16/11) di gedung Aula Minak Jinggo, Pemerintah Daerah Banyuwangi.

Sesi pertama dibawakan oleh Moh. Saikhu Sabah selaku ketua kelompok pembudidaya ikan air tawar Dunia Air Genteng-Banyuwangi. Dalam pemaparannya, dia menyampaikan potensi perikanan tawar di Kabupaten Banyuwangi

Menurut Saikhu, Banyuwangi merupakan kabupaten yang sangat berpotensi di bidang perikanan. Terdapat lima hal yang menjadi potensi perikanan di Banyuwangi.

”Yaitu, sumber perairan melimpah, banyak kanal atau sungai, banyak bendungan dan embung desa, banyak kawasan sisa galian pasir, dan pekarangan yang kurang termanfaatkan,” tuturnya.

Jika lima hal tersebut bisa termanfaatkan. Sangat mungkin sektor perikanan di Banyuwangi meningkat pesat. Namun, hal itu juga bergantung pada regulasi dari pemerintah Kabupaten Banyuwangi sendiri.

Selanjutnya, sesi kedua diisi oleh Ir. Pantja Walujo Prasetyanto dari Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi. Dalam materinya, dia berfokus pada peningkatan produksi perikanan budidaya payau di Indonesia.

”Terdapat tiga strategi dasar dalam pengembangan akuakultur. Yakni, ekstensifikasi, intensifikasi, dan diversifikasi,” katanya.

”Jika diambil contoh suatu usaha tambak, ekstensifikasi ini memperbanyak cabang-cabang usaha tersebut di berbagai daerah. Untuk intensifikasi dengan menambah lebih banyak jumlah dalam satu jenis komoditas yang dibudidayakan. Sedangkan, untuk diversifikasi, yaitu dengan menambah berbagai jenis komoditas yang dibudidayakan,” tambahnya.

Berikutnya, sesi ketiga dibawakan oleh Dr. Gede Sumiarsa dari Balai Besar Riset Budidaya Air Laut dan Penyuluhan Perikanan Gondol. Dalam pemaparannya, dia berfokus pada komoditas air laut yang berpotensi dikembangkan di Indonesia.

”Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa. Beberapa komoditas perikanan laut yang berpotensi untuk dikembangkan, yaitu teripang, abalon, tuna, ikan kuwe, dan lobster. Syukurnya, semua komoditas tersebut sudah berhasil dikembangkan di Gondol. Tinggal menyuluhkan ke para pembudidaya, kecuali lobster yang masih tersedat regulasi dari pemerintah,” pungkasnya. (*)

 

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone