Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc saat memamparkan materi Jum’at (16/11). (Foto: Rolista Dwi Oktavia)
Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc saat memamparkan materi Jum’at (16/11). (Foto: Rolista Dwi Oktavia)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Jayalah Universitas Airlangga, jayalah Negeriku. Hari kian menua dengan berkurangnya usia. Sembari Dies Natalis Ke-64 Universitas Airlangga. Kini Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) pun menginjakkan usia yang tidak muda lagi ialah 41 tahun. Dies Natalis yang dilaksanakan di Aula Soetandyo, Lantai 3, Gedung C FISIP Kampus B UNAIR, pada Jumat (16/11).

Dalam Puncak Dies Natalis Ke-41 FISIP UNAIR: Penganugerahan Soetandyo Award mengangkat tema ”Millenial Challenges, Pursuing Innovation and Necessity of Action” dengan pembicara Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc. Dia merupakan wakil gubernur Jawa Timur terpilih.

”Seiring Dies Natalis Ke-41 FISIP, tentu mengenang Soetandyo dan melanjutkan perjuangan beliau hingga tercipta Soetandyo lainnya untuk FISIP yang terus berkarya, bertumbuh, dan bersinergi. Yakni, dengan mengembangkan pemikiran dan perjuangan beliau akan keadilan demokrasi mutualisme,” tandas Dr. Falih Suedi, Drs. M,Si., selaku dekan FISIP dalam sambutannya.

Dr. Falih mengungkapkan, FISIP termasuk tiga fakultas terbesar di UNAIR. Bahkan cukup signifikan. Sebab, FISIP mampu melampaui Fakultas Kedokteran (FK) dalam Student Outbond. Tentu itu menjadi bukti kerja keras bersama sehingga capaian positif tersebut mampu dicapai.

”Selamat atas Dies Natalis Ke-41 yang merupakan salah satu bukti dalam masa milenial, kita biasa mengukur dengan cara yang tidak ilmiah. Seperti berinteraksi dengan masyarakat. Dan semanagat menuju nomor satu terbaik terus dinyalakan FISIP UNAIR,” ujarnya.

Dr, Falih menambahkan, tentu atas capaian itu, FISIP tidak pernah berpuas tinggi. FISIP UNAIR harus berjuang terus karena telah memasuki era digital.

Setiap hari industri digital terus mengalami discruption atau gangguan. Misalnya, dampak negatif maupun positif. Hal itu secara tidak langsung turut memengaruhi dunia pendidikan, khususnya FISIP. Namun, hal tersebut mampu dimanfaatkan sebagai peluang untuk meneguhkan cita-cita FISIP, khsusnya UNAIR sebagai bagian dari salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia.

”Kreatif ada yang terlahir seperti dalam suara syahdu dari seorang penyanyi yang memiliki intonasi dan suara yang berbeda dari lagu yang dinyanyikannya,” ucapnya.

Sementara itu, Emil Dardak yang turut hadir dalam perayaan itu sekaligus memberikan paparan materi menyebut pernyataan Dr. Soekarwo ketika mengutarakan ”Jika semua beralih ke digital menjadi e-commers. Yang dijual barangnya siapa? apakah kita hanya menjual barang orang–orang?”.

Pemikiran itu, lanjut emil, mesti dimiliki. Kepada mahasiswa, Emil turut berpesan untuk membaca buku Bung Hatta zaman dahulu. Yang isinya memiliki value, yaitu Value of Penjajahan.

”Sesuatu teknologi yang sudah turun dalam Matter 5.0. Maka, suatu hal yang semakin kecil dan semakin kecil. Dari laptop yang menuju smarthphone atau seperti halnya collaboration robbots. Mahasiswa, bahkan semuanya mesti bersama-sama memepersiapkan diri menghadapi ini semuanya,” pangkasnya. (*)

 

Penulis: Rolista Dwi Oktavia

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone