Ketua Badan Wakaf Indonesia Prof. Nuh menyerahkan sertifikat Nazhir Wakaf Uang kepada Prof. Djoko Santoso. (Foto: Nuri Hermawan)
Ketua Badan Wakaf Indonesia Prof. Nuh menyerahkan sertifikat Nazhir Wakaf Uang kepada Prof. Djoko Santoso. (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam urusan wakaf. Untuk mengoptimalkan potensi itu, Badan Wakaf Indonesia bersama berbagai perguruan tinggi negeri di Surabaya menggelar kegiatan Wakaf Goes to Campus pada Kamis (15/11).

Hadir sebagai pemateri utama dalam kegiatan yang dilangsungkan di Aula Garuda Mukti Kampus C Universitas Airlangga, Ketua Badan Wakaf Indonesia, Prof. M. Nuh, DEA. Dalam sambutannya, Prof. Nuh mengatakan bahwa kegiatan Wakaf Goes to Campus menjadi salah satu upaya untuk mendorong generasi milenial agar mau melakukan wakaf. Utamanya dalam bentuk uang.

“Kenapa wakaf masuk kampus? Karena kampus berisi banyak pemuda. Sejarah telah mencatat bahwa perubahan peradaban kerap dilakukan oleh anak muda,” jelasnya.

Untuk itu, imbh Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya itu menambahkan, potensi yang begitu dahsyat pada anak muda jangan diabaikan. Termasuk dalam urusan wakaf.

“Kenapa mahasiswa? Mereka SDM muda unggul yang terdidik. Dan dengan jumlah yang banyak,” tandasnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2009 – 2014 itu juga menuturkan, dengan pendidikan yang tinggi. Nantinya, lima hingga sepuluh tahun ke depan, mereka (mahasiswa, red) potensial untuk menjadi orang dengan ekonomi yang tinggi.

“Untuk itu, mereka yang hari ini menjadi mahasiswa, ke depan saat menjadi orang dengan ekonomi yang baik sangat potensi untuk ke depan menjadi wakif. Karena sudah terbiasa sejak mahasiswa,” jelasnya.

Selanjutnya, Prof. Nuh berharap bahwa dengan kegiatan ini menjadi pengukir sejarah wakaf dan peradaban baru di Indonesia. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa hal itu kini telah dilakukan oleh UNAIR.

“Sebagai kampus yang besar dan memiliki mahasiswa yang besar pula, UNAIR sangat berpotensi untuk mengembangkan hal-hal yang demikian. Dan kini, UNAIR menjadi kampus pertama yang menjadi Nazhir Wakaf uang di Indonesia,” tuturnya.

Pada akhir, Prof. Nuh menegaskan bahwa pemilihan UNAIR sebagai Nazhir bukan tanpa sebab. Ini semata karena pihaknya meniliai bahwa UNAIR mampu untuk menjalankan tugas Nazhir.

“Karena Nazhir memiliki peran penting dalam mengoptimalkan dana wakaf untuk dikelola dan dimanfaatkan demi kepentingan umat,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).