SUKMA Ningrum ketika tampil di semifinal Duta Edelweiss. (Foto: Istimewa)
SUKMA Ningrum ketika tampil di semifinal Duta Edelweiss. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Melalui ketertarikan terhadap bunga edelweiss, Sukma Ningrum, mahasiswa teknik lingkungan, terpilih menjadi Duta Edelweiss 2018. Duta Edelweiss berperan sebagai ujung tombak media promosi dan branding semua hal tentang bunga edelweiss, terutama kelestarian dan konservasi di luar area konservasi melalui Desa Edelweiss yang dinaungi kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Pemilihan yang diselenggarakan pada Hari Pahlawan (10/11) itu merupakan serangkaian acara ”Festival Land of Edelweiss”. Termasuk digelar peresmian Desa Edelweiss oleh Bupati Pasuruan H. M. Irsyad Yusuf, S.E, M.M.A., dan Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari, S.E.

Sebelum terpilih menjadi duta, banyak proses seleksi yang harus dilewati Sukma. Mulai seleksi administrasi, interview, dan tes fisik sampai terakhir di final yang dilaksanakan secara publik. Sebelum interview, Sukma sempat terganjal restu orangtua karena meninggalkan kuliah dan harus menempuh perjalanan jauh Surabaya–Malang.

”Dengan memberikan pengertian dan penjelasan serta tekad bulat saya syukurlah orangtua merestui kembali,”ungkapnya.

Bukan hanya itu, segenap proses hingga final pemilihan duta harus dilalui dengan kuliah aktif dan tugas kuliah. Harus ijin kuliah selama dua hari dengan melewatkan satu kuis dan posttest, Sukma bersyukur masih bisa mengikuti susulan.

Dalam proses seleksi itu pula, Sukma harus membuat video bersama empat orang tim kreatifnya. Pergi tengah malam dengan motor pribadi sampai ke Bromo yang kondisinya sangat dingin.

SUKMA Ningrum ketika tampil di semifinal Duta Edelweiss. (Foto: Istimewa)
SUKMA Ningrum ketika tampil di semifinal Duta Edelweiss. (Foto: Istimewa)

”Dengan kondisi seperti itu, kami harus mengelilingi TNBTS termasuk juga di Desa Edelweiss dan pada malam itu juga kami harus pulang karena besok kuliah pagi,” tutur Sukma.

Setelah pengumuman semua finalis, Sukma menyadari bahwa dirinya merupakan finalis yang paling muda. Ditambah lagi finalis lainnya umumnya sangat berbakat dan jago di bidang public speaking. Meskipun begitu, Sukma meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa melakukan yang terbaik dan mengoptimalkan ilmu yang diperolehnya dari jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST).

”Sebagai mahasiswa teknik lingkungan, saya percaya diri dan menjadi bekal terbaiK karena ilmu di dunia perkuliahan berkorelasi dengan pemilihan Duta Edelweiss ini,” ungkap Sukma bangga.

Hal tersebut terbukti saat tahap interview awal dan sesi tanya jawab di tahap final. Sukma menuturkan bahwa para juri memberi tahu bahwa program kerjanyalah yang paling logis dan nyata dapat dilihat. Saat sesi tanya jawab juga, jawaban Sukma ditunjang dengan data yang akurat dan undang-undang mengenai perlindungan bunga edelweiss.

Pada akhir, setelah perjuangan dengan sepenuh hati, Sukma berpesan bahwa mencari pengalaman dan mengoptimalkan peluang sekarang adalah upaya untuk tidak mengatakan kata menyesal pada masa mendatang. (*)

 

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone