DARI kiri, Prof. Dr. Drs. Ida Bagus Putera Manuaba M.Hum.; Drs. Aribowo, M.S.; Prof. Drs. Kacung Marijan, M.A., Ph.D, saat diskusi bertema ”Masa Depan Politik Indonesia”dalam Gelar Inovasi Guru Besar di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen UNAIR, pada Kamis (15/11). (Foto: Feri Fenoria)
DARI kiri, Prof. Dr. Drs. Ida Bagus Putera Manuaba M.Hum.; Drs. Aribowo, M.S.; Prof. Drs. Kacung Marijan, M.A., Ph.D, saat diskusi bertema ”Masa Depan Politik Indonesia”dalam Gelar Inovasi Guru Besar di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen UNAIR, pada Kamis (15/11). (Foto: Feri Fenoria)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Menjelang tahun politik 2019, ragam narasi politik dari setiap koalisi, termasuk masyarakat, begitu banyak tersebar di media sosial. Bukan hanya itu, dalam beberapa program acara di televisi, diskusi terbuka bertema dua arah dari setiap perwakilan partai politik kerap menghiasi layar televisi nasional. Bahkan tak sedikit terjadinya gesekan antar pendukung yang saling berdebat di media sosial.

Bahkan, isu politik yang paling segar saat ini adalah perdebatan tentang istilah yang dimunculkan Presiden Jokowi melihat geliat politik Indonesia terkini. Presiden menyebut istilah sontoloyo dan gendruwo. Lebih tepatnya untuk menyebut oknum politikus yang menyebarkan isu ketakutan dan menebarkan isu pesimisme terhadap masyarakat. Lantas, bagaimana akademisi menilai kemunculan kondisi-kondisi tersebut?

Merespons hal itu, Universitas Airlangga melalui Pusat Informasi dan Humas mengadakan Gelar Inovasi Guru Besar di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen UNAIR, pada Kamis (15/11). Diskusi yang turut mengundang kalangan partai tersebut mengangkat tema ”Masa Depan Politik Indonesia”. Prof. Drs. Kacung Marijan, M.A., Ph.D, dihadirkan sebagai pembicara dalam Gelar Inovasi Guru Besar bulan November 2018 dengan moderator Drs. Aribowo, M.S.

Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) Dr. Suko Widodo dalam sambutannya, mengakui bahwa terkini arus informasi terkait dengan isu politik begitu marak terjadi di media sosial. Belum termasuk pengangkatan isu-isu SARA (suku, agama, dan ras) yang juga muncul dalam berbagai narasi-narasi tersebut.

Karena itu, sebagai kalangan akademisi, diskusi terkait hal itu menjadi sangat penting dilakukan. Khususnya sebagai upaya menentukan formula baru yang dapat dijadikan rekomendasi bagi pembuat kebijakan. Yakni, secara bersama-sama turut memajukan demokrasi di Indonesia.

”Dikusi ini penting dan akan membahsa tentang masa depan politik Indonesia. Selamat datang di Gelar Inovasi Guru Besar dan selamat berdikusi,” ujarnya saat membuka acara yang turut dihadiri mahasiswa dari dalam maupun luar UNAIR.

Masih Wajar

Tidak sedikit anggapan yang muncul bahwa narasi politik menjelang pilihan legislative (pileg) dan pilihan presiden (pilpres) 2019 berlebihan. Namun, melihat konstelasi politik yang terjadi saat ini, Prof. Drs. Kacung Marijan, M.A., Ph.D., menggangap hal itu masih dalam batas yang wajar.

”Saya kira ini (yang tejadi, Red) masih dalam batas wajar. Ya, namanya politik,” ungkapnya.

Lalu, soal isu tentang penggunaan istilah sontoloyo dan gendruwo oleh Presiden Jokowi, Prof Kacung menggap tak perlu memperdebatkan hal tersebut secara berlebihan. Aktor politik yang saling memperdebatkannya mesti mampu mengambil hal yang lebih substantif.

”Toh, itu juga konteks guyonan,” katanya saat dimintai tanggapan tekait istilah yang disampaikan presiden.

Justru, Prof Kacung mempertanyakan fenomena politikus yang saling berbalas puisi. Menurut dia, hal tersebut alangkah baik tidak diterus-teruskan. Jauh lebih baik membahas hal yang lebih subtantif. Terutama dalam upaya membangun demokrasi Indonesia yang lebih baik. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone