defile FK
JUARA. Inilah peserta defile alumni FK UNAIR angkatan 1984 yang menjadi Juara I “Defile Alumni” dalam rangka Dies Natalis FK UNAIR ke-105. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Hari Minggu pagi 11 November 2018 lalu, halaman kampus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) hingar-bingar penuh warna dalam beragam atraksi dan busana. Pada hari itulah rangkaian kemeriahan peringatan Dies Natalis FK UNAIR ke-105 diselenggarakan “Defile Alumni”. Inilah tradisi Ikatan Alumni FK setiap memperingati dies natalisnya.

Menurut Ketua IKA FK UNAIR Dr. Pudjo Hartono, dr., Sp.OG(K), defile tahunan kali ini jauh lebih ramai, lebih berwarna, dan tentunya lebih meriah dibandingkan pelaksanaan defile sebelumnya. Namun wilayah defilenya masih kalah dengan yang dilaksanakan pada dies natalis fenomenal tahun 2013 saat “Seabat FK UNAIR”. Saat itu defile juga dilakukan di “Taman Surya” Pemkot Surabaya.

Suwaspodo Henry Wibowo, dr., Sp.And., MARS., panitia seksi defile, menjelaskan, tahun ini 43 angkatan alumni FK UNAIR ambil bagian memeriahkan. Angkatan paling senior tahun 1952 (masih alumni angkatan NIAS). Dilihat dari riwayatnya, FK UNAIR memang berawal dari sekolah kedokteran Netherlands Indische Artsen Schools (NIAS) yang didirikan Belanda tahun 1913. Jadi hingga kini sudah berusia 105 tahun.

defile FK
ALUMNI FK Unair angkatan 1968 dengan tema tradisional, atraksi-atraksinya meraih juara III “Defile Alumni” 2018. (Foto: Bambang Bes)

Dekan FK UNAIR Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U(K), sejak acara dimulai pukul 07.30, Guru Besar Ilmu Urologi FK UNAIR ini tak beranjak dari tempatnya menyaksikan. Dilakukan tidak sambil duduk di kursi, tetapi sambil berdiri dan wira-wiri di sekitar panggung penjurian. Sesekali ikut berdendang, berlenggang, dan menyanyi bersama sejawat alumni yang saat itu timnya dinilai.

”Kemeriahan seperti ini bisa terjadi karena semua alumni punya tekad dan semangat sama, yaitu kompak untuk memajukan almamaternya. Dengan alasan itu maka mereka akan kompak terus. Mulai angkatan 1951 sampai yang termuda akan begitu, rukun, guyup dan semangat tinggi,” katanya. “Dan, modal utama menjadi dokter memang begitu. Tidak boleh saling menyalahkan, dan semua harus cerdas dalam belajar untuk terus berinovasi,” tambah Prof. Soetojo.

Baik Prof. Soetojo dan Dr. Pudjo Hartono mengakui bahwa sukses rutinitas defile alumni FK ini karena faktor kemandirian kelompok angkatan. Menurut Dekan, hal demikian itu karena adanya tuntutan untuk mandiri, inovatif, kreatif, dan unggul di tingkat nasional dan internasional.

defile fk
ANGKATAN tahun 1971 dengan tema busana dan kesenian nasional. (Foto: Bambang Bes)

”Dari tuntutan itu membuat jiwanya bersemangat dan mandiri. Selain itu kalau mengandalkan anggaran fakultas atau universitas, jelas sulit terjadi. Karena semangat dan kekompakan itu sehingga hal-hal yang membuat mereka senang, maka sesuatunya tidak dipikirkan. Demi nilai-nilai kekompakan dan semangat itu mereka tidak menghitung-hitung,” kata Prof. Soetojo.

Dr. Pudjo menambahkan, kekompakan dan antusiasme kebersamaan itu menunjukkan sebuah tekad bahwa kita, alumni, ingin maju bersama almamaternya. Yang jelas, tambahnya, semua bergerak secara luar biasa.

”Ini saya kira kekuatan kita itu. Dan hikmahnya kalau kita akan selalu ingin menjaga nama baik, ingin berprestasi dan kita sukses, maka ujung-ujungnya nanti yang diuntungkan ya masyrakat. Jadi apapun yang kita kerjakan disini, dan prestasi ini, semua untuk masyarakat,” kata Dr. Pudjo, Ketua IKA-FK.

Ia berharap akan terus seperti ini, baik yang di Surabaya dan yang di seluruh Indonesia akan selalu membawa nama baik almamater. Artinya, setiap alumni melangkahkan jejak, berkiprah, maka kita akan selalu ingat bahwa membawa nama baik Airlangga, jadi harus selalu menunjukkan prestasi untuk bangsa dan negara. “Itu saya kira,” tandasnya.

Dalam defile kemarin dibagi dua kelompok. Kelompok alumni sebelum angkatan ’70, rutenya diperpendek. Keluar dari pintu keluar di sisi kiri halaman FK, belok kanan masuk ke jalan raya dan berjalan melawan arus untuk masuk melalui pintu utama kampus FK. Di sisi luar Aula FK itulah penjurian dilaksanakan oleh tim.

defile fk
ANGKATAN 1979 berdefile dengan mengangkat tema busana khas Papua. (Foto: Bambang Bes)

Sedangkan sejawat angkatan setelah 1970 rutenya lebih jauh. Dari pintu keluar halaman FK, belok kiri, sesampai di traffic light Jl. Karang Menjangan langsung putar balik dan berjalan di sisi Jl. Prof. Dr. Moestopo (sisi depan RSU Dr. Soetomo). Kemudian setelah traffic light dekat kampus FKG, defile putar balik dan memasuk kampus FK melalui pintu utama.

Beragam gaya dan penampilan dipertunjukkan. Ada yang mengambil tema “djadoel” (djaman doeloe), tradisional, kekinian dengan boneka-boneka dan aneka busana, satire dengan joke-joke tertentu, menampilkan replika perahu RS Terapung “Ksatria Airlangga” dsb. Seusai dinilai, peserta bebas memilih konsumsi makan siang yang disediakan dengan berbagai menu.

Dari 43 peserta defile alumni FK tahun 2018 ini, tim juri memilih Juara I Tim defile Angkatan 1984. Juara II defile angkatan tahun 2006, dan Juara III angkatan tahun 1968. Sedangkan Juara Favorit terpilih tim defile gabungan angkatan tahun 1952-1962. (*)

Penulis : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone