Didampingi Dekan FISIP UNAIR, Warek III UNAIR Prof. Amin menandatangai MoU dengan Dr. Siswo dari BPPK Kemlu RI. (Foto: Nuri Hermawan)
Didampingi Dekan FISIP UNAIR, Warek III UNAIR Prof. Amin menandatangai MoU dengan Dr. Siswo dari BPPK Kemlu RI. (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS  – Pusat studi atau pusat kajian menjadi salah satu hal yang dibutuhkan bagi perguruan tinggi. Selain menjadi wadah untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai wadah pendidikan dan penelitian, pusat studi juga mampu menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi dan kerja sama.

Untuk itu, melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk mendirikan Pusat Studi Afrika.

Bertempat di Ruang Sidang Pleno, Kantor Manajemen, Kampus C UNAIR pada Jumat (9/11), pendirian Pusat Kajian Afrika FISIP UNAIR itu dihadiri langsung oleh Wakil Rektor III UNAIR Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D, bersama jajaran pimpinan di lingkungan UNAIR. Dalam sambutannya, Prof. Amin mengatakan bahwa pendirian Pusat Kajian Afrika FISIP UNAIR menjadi suatu kebanggaan bagi UNAIR. Mengingat, hal itu akan menambah berbagai pusat studi yang sudah dimiliki UNAIR.

“Tidak hanya itu, urgensi Pusat Kajian Afrika tentu tidak bisa dilepaskan dari pentingnya posisi Afrika di dunia. Hal itu mengingat bahwa Afrika menjadi salah satu bagian kawasan yang memiliki kebudayaan tertua di dunia,” jelasnya.

Dengan adanya kajian itu, imbuh Prof. Amin, menjadi salah satu cara untuk melakukan kerja sama yang baik dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Nantinya, menjadi satu hal yang unik lagi, jika Pusat Kajian Afrika yang ada di bawah FISIP UANIR ini nantinya menjadi pusat unggulan IPTEK.

“Karena ini juga menjadi program yang di dorong oleh pihak Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Dan ke depan, kami sangat berharap bahwa Pusat Kajian Afrika FISIP UNAIR menjadi besar dimasa-masa yang akan mendatang,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan, Kementerian Luar Negeri RI Dr. Siswo Pramono, yang juga alumni UNAIR mengatakan bahwa melihat UNAIR hari ini sangat berkembang dengan pesat.

“Banyak mahasiswa asing yang studi di sini. Sebagai alumni, kegiatan semacam ini bagi saya adalah pulang kampung,” ungkapnya.

Menurutnya, Pusat Kajian Afrika FISIP UNAIR menjadi salah satu wadah untuk menggali banyak hal dari Afrika. Hal ini, tandasnya, bisa menjadi salah satu upaya untuk menguatkan peran bangsa.

Tidak hanya itu, baginya, hal itu bisa mendukung banyak hal kerjasama politik, bisnis, dan pendidikan dengan berbagai kebijakan di Afrika. Alumni HI UNAIR juga menandaskan bahwa dari pihak BPPK Kemlu akan siap membantu untuk turut mengembangkan Pusat Kajian Afrika FISIP UNAIR.

“Karena ini bagian dari upaya diplomasi yang dilakukan Kemlu kepada berbagai pusat kajian Asia yang ada di negara-negara Afrika. Semoga kerja sama ini bisa memberikan manfaat bagi hubungan baik Indonesia dan Afrika,” pungkasnya.

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone