Sebanyak 21 delegasi Belanda hadir di Dharmawangsa Hall RSUA (Rumah Sakit Universitas Airlangga), Lantai 8, pada Rabu (7/11). (Foto: Istimewa)
Sebanyak 21 delegasi Belanda hadir di Dharmawangsa Hall RSUA (Rumah Sakit Universitas Airlangga), Lantai 8, pada Rabu (7/11). (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Perkembangan penyakit di Indonesia, utamanya pada penyakit menular (HIV/AIDS dan TBC) terus mengalami peningkatan. Tentu hal itu bisa berdampak serius bila tidak segera diatasi. Sebab sangat mungkin hal tersebut menimbulkan risiko penularan penyakit secara luas.

Menanggapi itu, Rumah Sakit Universitas Airlangga melakukan kerja sama kesehatan dengan Kedutaan Besar Belanda (Delegation the Kingdom of the Netherlands). Kerja sama tersebut berfokus pada penyakit Tuberkulosis, HIV/AIDS, pengembangan kesehatan jantung, Microsurgery, kanker, dan kecantikan.

Sebanyak 21 delegasi Belanda hadir di Dharmawangsa Hall RSUA (Rumah Sakit Universitas Airlangga), Lantai 8, pada Rabu (7/11). Delegasi Belanda terdiri atas Amsterdam UMC, Delft Imaging System, Elsevier, Erasmus University Medical Centre, FMO, dan University Medical Center Groningen.

Kegiatan itu dibuka dengan sambutan dari Prof. dr., Nasronudin, Sp.PD-KPTI selaku direktur RSUA. Kepada Kedubes Belanda, Prof. Nasronudin menyampaikan terima kasih karena berkenan hadir. Sejumlah target, termasuk profil rumah sakit, mulai tahun 2016 sampai 2020 disampaikan Prof. Nasronudin. Termasuk soal masalah penyakit infeksi (global problems dan national problems).

”RSUA berperan aktif dalam menanggulangi masalah penyakit tropis, termasuk infeksi dengan mendirikan Institute Tropical Disease,” tuturnya.

Prof Nasronudin menyebutkan bahwa Kedubes Belanda menaruh perhatian yang besar terhadap RSUA. Sebab, RSUA merupakan salah satu rumah sakit pendidikan terkemuka yang ada di Indonesia.

RSUA memenuhi syarat sebagai rumah sakit berkompeten karena mempunyai posisi strategis di pusat kota. Selain itu, tenaga kesehatannya mempunyai kompotensi yang mumpuni. Alasan lain, imbuh dia, RSUA pada 2019 merencanakan Re-akreditasi nasional dan internasional.

”RSUA sedang mempersiapkan Global Medical Tourism dengan harapan turis domestik maupun luar negeri bila ingin mendapat pelayanan kesehatan bisa ke RSUA. RSUA juga terus melakukan pembenahan internal, supaya quality dan safety semakin baik,” katanya.

Pada sesi selanjutnya, dilakukan presentasi dan diskusi. Presentasi kali pertama dilakukan Prof. Dr. Muhammad Amin, dr., Sp. P(K)) selaku vice director of education and research UNAIR Teaching Hospital yang bertajuk ”Universitas Airlangga TB Initiative Research”. Presentasi kedua dijelaskan oleh Vice Director of Medical Services and Nursing Universitas Airlangga Teaching Hospital dr. Hamzah, Sp. AnKIC) tentang pelayanan di RSUA.

Pada akhir, dilakukan sesi foto bersama dan souvenir exchange. Serta, dilaksanakan Hospital tour bersama para delegasi di ICU ICCU NICU lantai 6, Maternal-Neonatal Lantai 5, Departemen Emergency di Lantai 1, dan RSPTI –Out patient clinic TB-HIV/AIDS.

Ke depan RSUA diundang oleh pihak Belanda untuk diskusi lebih lanjut. Setelah resmi melakukan kerja sama, beberapa perwakilan tenaga kerja RSUA akan diberi pelatihan terkait penyakit ke negara Belanda. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone