Huda Abdul Rohman saat menyampaikan materi dalam 5th Dies Natalies AUBMO PSDKU UNAIR Banyuwangi. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Mahasiswa peraih bantuan pendidikan Bidikmisi identik dengan kurang mampu secara ekonomi. Sejauh ini, Bidikmisi hanya diperuntukkan bagi calon mahasiswa untuk gelar sarjana (S1). Lalu, bagaimana bagi mahasiswa Bidikmisi yang ingin melanjutkan studi jenjang S2?

Menurut Hudha Abdul Rohman, S.Hum., M.Hum., awardee LPDP jalur Afirmasi tahun 2015 PK-44 yang hadir sebagai pembicara dalam rangkaian 5th Dies Natalies AUBMO PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi, ada tiga pilihan setelah lulus sarjana. Tiga hal tersebut adalah bekerja, menikah, atau melanjutkan studi.

Mayoritas mahasiswa Bidikmisi setelah lulus langsung bekerja. Merawat orang tua, menyekolahkan adik, membangun rumah, seringkali menjadi momok untuk melanjutkan pendidikan S2. Namun, tak sedikit yang nekat ingin melanjutkan pendidikan. Baik fresh graduate maupun setelah bekerja beberapa tahun.

“Jangan takut untuk melanjutkan S2. Ada bantuan pemerintah lewat beasiswa LPDP yang setara dengan beasiswa Bidikmisi untuk meringankan beban bagi mahasiswa kurang mampu,” ujar Hudha, sapaan karibnya.

Merespon cukup banyaknya keinginan mahasiswa Bidikmisi untuk melanjutkan S2 dengan jalur beasiswa, Hudha memberikan beberapa tips agar bisa lolos. Pertama, jangan lewat jalur umum tapi lewatlah jalur afirmasi.

“Berat kalau lewat jalur umum, saingannya dari selain alumni Bidikmisi juga. Mahasiswa Bidikmisi lebih diprioritaskan diterima pada jalur afirmasi yang memang diperuntukkan bagi mereka,” papar Hudha.

Kedua, kenali kemampuan diri dan persiapkan sejak dini untuk memilih kategori dalam jalur afirmasi.

“Kenali passion-mu. Ingat, prestasi tidak hanya dapat piala saja. Kontibusi semacam pengabdian masyarakat juga merupakan prestasi yang jadi pertimbangan. Ada kategori khusus yang memudahkan yaitu beasiswa alumni Bidikmisi berprestasi,” tutur mahasiswa peraih wisudawan terbaik UNAIR tahun 2014 itu.

Ketiga, persiapkan matang matang-matang rencana masa depan sebelum tes wawancara.

“Sampaikan alasan mengambil jurusan itu, bagaimana rencanamu mendatang. Jangan muluk-muluk.  Sampaikan secara unik, realistis, dan sudut pandang yang berbeda. Misalnya, saya ingin jadi dosen sastra, konsentrasi sosiologi sastra, karena prodi ini sudah terakreditasi A. Artinya sudah terjamin. Saya ingin jadi dosen linguistik karena yang mengambil ini masih jarang. Dosen saya sudah sepuh, nanti biar bisa meneruskan. Dan seterusnya,” jelas Hudha.

Tips keempat, berdoa dan restu orang tua.

“Jika rezeki, semua pasti ada jalannya. Tinggal berdoa. Jika orang tua tidak mengizinkan, coba yakinkan kembali secara halus. Apabila terkendala ngopeni adik, nah ini sempat saya alami juga. Insya Allah pandai-pandainya kita menyisihkan, Insya Allah cukup dari uang saku bulanan untuk bantu adik kita,” pungkas Hudha. (*)

Penulis: Siti Mufaidah

Editor : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone