Drs. Sularso memberikan wawasan mengenai koperasi kepada mahasiswa pada acara Youth Conference Seminar yang diadakan oleh koperasi mahasiswa Ekonomi Pembangunan (kopmep) (foto: M. Najib Rahman)
Drs. Sularso memberikan wawasan mengenai koperasi kepada mahasiswa pada acara Youth Conference Seminar yang diadakan oleh koperasi mahasiswa Ekonomi Pembangunan (kopmep) (foto: M. Najib Rahman)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Guna meningkatkan minat dan wawasan mahasiswa mengenai koperasi, koperasi mahasiswa Ekonomi Pembangunan (kopmep) Universitas Airlangga mengadakan Youth Cooperation Seminar (YCS) dengan tema “Peran Koperasi dalam Mendorong Usaha Mikro Kecil pada Era Digitalisasi”. Kegiatan itu diadakan di Aula Soepoyo Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga pada Selasa, (6/11).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Drs. Sularso, MM selaku sekretaris DEKOPIN wilayah Provinsi Jawa Timur, H. Muhammad Sholeh Wafie selaku Direktur 1 (SDI DAN Keuangan) KSPPS BMT UGT SIDOGIRI, dan Firdaus Putra, HC yang merupakan Direktur Kopkun Institute dan Board for Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI). Turut hadir pula 200 mahasiswa baik dari Universitas Airlangga maupun sekitar Universitas Airlangga serta perwakilan koperasi mahasiswa se-Surabaya.

Rosanto Dwi Handoyo, perwakilan Departemen Ekonomi Pembangunan dalam sambutannya mengatakan bahwa YCS merupakan pertemuan yang sangat bagus karena bisa mengingatkan jati diri koperasi di tingkat mahasiswa. Dengan acara tersebut, Rosanto berharap  wawasan mahasiswa mengenai koperasi bukan hanya sebatas teori tapi secara praktek dan empiris dari para aktivis koperasi.

“Semoga bisa memberikan wawasan kepada kita mengenai koperasi dan diharapkan peserta dapat mempelajari pengalaman tentang mengelola koperasi yang baik dari para pembicara,” tuturnya.

Sementara itu, Drs. Sularso, MM., dalam paparannya menuturkan koperasi awalnya diposisikan sebagai soko guru keuangan nasional. Namun setelah amandemen ke-4 (10-8-2002) perekonomian nasional diserahkan pada pasar bebas. Berkoperasi, lanjutnya, ialah bekerja bersama, sukses bersama, dan menikmati hasil bersama.

“Jika koperasi ingin maju, anggota koperasi sebaiknya yang berbasis UMKM dan anggotanya memiliki persamaan, baik dalam visi maupun produksi,” tambahnya.

Saat ini, tambah Sularso, koperasi memiliki banyak hambatan salah satunya ialah sertifikasi. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyaratkan pabrik-pabrik harus memiliki International Organization for Standardization (ISO).

“Saat ini banyak koperasi yang masih belum memiliki ISO,” tambahnya.

Sementara itu, Ratisya Rismadani, koordinator acara tersebut mengatakan YCS bertujuan untuk meningkatkan minat dan wawasan mahasiswa mengenai koperasi. Ratisya berharap dengan acara tersebut dapat mendorong pemuda terutama mahasiswa untuk memajukan usaha pada era digital saat ini.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone