Sesi diskusi film bersama dosen Fakultas Psikologi Margaretha Rehulina (dua dari kanan) dan salah satu peserta Psychology Film Festival. (Foto: Zanna Afia Deswari)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Fakultas Psikologi Universitas Airlangga kembali mengadakan kompetisi film pendek nasional bertajuk Psychology Film Festival (PFF) pada Sabtu (3/11) dan Minggu (4/11). Acara ini merupakan salah satu rangkaian Psychology Festival (Psychofest) 2018.

Memasuki tahun ketujuh, PFF kembali memberikan kesempatan bagi sineas muda Indonesia untuk berkreatifitas dalam mengemas masalah kesehatan mental melalui karya seni audo visual.

Aulia Regasani Yaswi, selaku koordinator acara mengatakan, 7th Psychology Film Festival  bertujuan untuk mengenalkan dan mengedukasi masyarakat tentang isu-isu dalam dunia psikologi melalui media film.

“Film saat ini tak bisa dianggap remeh karena sudah banyak sekali peminatnya. Kami juga ingin mengapresiasi karya film maker di Indonesia, dan turut mengajak adik-adik kita (pelajar, Red) untuk terus berkarya sejak dini,” terang Rere.

Selain itu, dirinya juga menambahkan, tema PFF kali ini merupakan turunan tema besar Psychofest 2018.

“Di mana tema PFF sendiri adalah Aksi dalam Inklusi, yang artinya ketika individu mampu melakukan sebuah pendekatan atau aksi untuk lingkungannya,” sebutnya.

Ia berharap dengan adanya acara semacam ini, ke depan makin banyak karya yang diciptakan oleh anak bangsa. PFF dapat menjadi salah satu wadah berbagi edukasi bahwa sebenarnya isu-isu psikologi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Terdapat dua jenis kategori peserta PFF, yakni kategori umum dan pelajar, dengan total pendaftar sebanyak 213 orang. Namun, setelah melalui tahap seleksi, hanya 25 karya yang dinyatakan lolos untuk melaju ke babak pemutaran film. Pemutaran film dibagi ke dalam enam sesi, empat sesi diputar di hari pertama, Sabtu (3/11) dan dua sesi berikutnya diputar pada Minggu (4/11).

“Ini contoh kerjasama potensial ke depan, antara film dengan ilmu kesehatan mental. Betapa kita perlu menampilkan lebih banyak lagi topik-topik kesehatan mental atau gangguan mental, supaya ada penambahan wawasan kepada masyarakat bahwa ada banyak jenis-jenis ganguan mental di sekitar kita,” ungkap Margaretha, S.Psi., P.G.Dip.Psych.,M.Sc., dosen Fakultas Psikologi yang turut hadir menjadi pembicara pada sesi diskusi.

Pengumuman pemenang lomba dilakukan pada Minggu malam usai acara special screening film Ziarah, karya B. W. Putra Negara.

Film kategori pelajar dimenangkan oleh Ryan Sebastian dari Jakarta, dengan judul The Line of Dragons. Sedangkan kategori umum dimenangkan oleh Rivandy Adi Kuswara dari Yogyakarta, dengan judul Munggah Kaji. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone