Dr. Sri Sumarmi, SKM., M. Si, peneliti sekaligus dosen Gizi UNAIR saat memberikan paparan dalam seminar Kamis (1/11). (Foto: Istimewa)
Dr. Sri Sumarmi, SKM., M. Si, peneliti sekaligus dosen Gizi UNAIR saat memberikan paparan dalam seminar Kamis (1/11). (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Indikator ketiga SDG’s dalam mewujudkan pembangunan kesehatan secara global adalah “Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik”. Berdasar The Copenhagen Consensus 2012, para ekonom terkenal dunia menyatakan bahwa strategi paling cerdas memutus lingkar kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara adalah melakukan investasi perbaikan gizi penduduk. Investasi gizi sebanyak $1 mampu meningkatkan kesehatan, pendidikan, sekaligus produktivitas ekonomi suatu negara sejumlah $30.

Dalam pergelaran workshop Program Studi (Prodi) Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga pada Kamis (1/11), dibahas bahwa Investasi gizi harus dimulai sedini mungkin. Sejak seorang bayi masih di dalam rahim ibu hingga lahir ke dunia (masa balita).

Sebab, pada usia tersebut, seorang balita berada pada tahap golden age. Di mana segala sesuatu akan diserap dengan cepat oleh sang balita.

Pada umumnya, para orangtua di Indonesia hanya memperhatikan pertumbuhan balita dari sisi berat badan. Padahal, tinggi badan menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Mereka akan merasa puas apabila anaknya makan dengan lahap dan memiliki badan gemuk. Menurut mereka pula, hal itu menjadi penentu seorang anak berada dalam kategori sehat.

Sebagian besar orang mungkin belum akrab dengan istilah stunting. Stunting adalah kondisi terhambatnya pertumbuhan pada balita yang mengakibatkan tubuhnya lebih pendek daripada anak seusianya.

Fakta miris yang terjadi, menurut WHO, sekitar 182 juta anak di dunia menderita penyakit stunting. Di Indonesia sendiri, terdapat 7,8 juta dari 23 juta balita menderita penyakit yang serupa. Bila dipersentasekan, sebanyak 35,6  persen mengalami penyakit stunting. Padahal, WHO menetapkan batas toleransi stunting maksimal sebanyak 20 persen saja.

Sementara itu, Dr. Sri Sumarmi, SKM., M. Si, peneliti sekaligus dosen Gizi UNAIR menyatakan bahwa stunting sudah tidak bisa ditangani apabila balita memasuki usia dua tahun. Karena itu, para ibu perlu melihat asupan gizi anak, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Mulai hari pertama konsepsi, terbentuk embrio dalam kandungan, hingga buah hati berusia 2 tahun.

Pada dasarnya, kelangsungan hidup dan kesehatan anak tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ibunya. Penyebab lain stunting adalah sanitasi buruk. Sanitasi buruk berkaitan dengan terjadinya penyakit diare dan infeksi cacing usus (cacingan) secara berulang. Kedua penyakit berperan menyebabkan anak kerdil.

”Hal yang perlu dipersiapan adalah fisik calon ibu dan gizi pra-konsepsi. Gizi pra-konsepsi adalah pemenuhan kebutuhan gizi untuk mempersiapkan kehamilan sehat. Kecukupan gizi diperlukan untuk membuat cadangan makanan sehingga saat memasuki kehamilan ibu terhindar dari risiko kurang gizi dan komplikasi kehamilan,” jelasnya.

Lalu, apa saja gejala penyakit Stunting?

Gejala penyakit stunting sebenarnya sudah bisa teramati sejak sang buah hati lahir. Beberapa gejala yang terjadi, antara lain, anak mengalami pertumbuhan yang lambat sehingga lebih pendek dari anak seusianya. Selain itu, proporsi tubuh cenderung normal, tapi berat badan tidak kunjung naik malah menurun. Lalu, ketika beranjak dewasa, anak perempuan akan mengalami haids terlambat dan mudah terkena penyakit infeksi.

Risiko yang dialami oleh anak penderita stunting adalah mudah lelah, kesulitan belajar karena kemampuan kognitif melemah, risiko mengalami berbagai penyakit kronis saat dewasa, seperti diabetes, jantung koroner, kanker, dan lain-lain. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone