Nur Afiqah Binti Hj. Mamit (kiri) dan Yunaz Ali Akbar Karaman (tengah) sedang memberikan pemaparan mengenai kebudayaan Indonesia dan Brunei dalam acara Cultural Exchange 2.0 (Foto: Aziz Mahasiswa UBD)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Untuk mempererat hubungan antara Indonesia dan Brunei Darussalam, Urban Care Community bersama mahasiswa Community Outreach Program Universiti Brunei Darussalam (UBD) beserta jaringan komunitas di Surabaya mengadakan kegiatan Cultural Exchange Festival 2.0 di Aula Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya pada Minggu (4/11).

Tema dari kegiatan tersebut adalah Serumpun Budaya. Konsepnya, kesenian dan kebudayaan. Menjadi pemateri dalam acara itu Yunaz Ali Akbar Karaman Ketua BEM FIB 2018 dan Nur Afiqah Binti Hj. Mamit perwakilan Mahasiswi Universiti Brunei Darussalam (UBD).

“Keduanya merupakan penggerak kebudayaan yang dapat merepresentasikan kedua negara,” ujar Erin Sebtiarini selaku ketua acara.

Tujuan kegiatan ini, lanjut Erin, untuk memberikan pengetahuan budaya Indonesia dan Brunei ke pemuda, agar bisa peduli dengan kelestarian budaya.

“Biar bisa sharing dengan negara tetangga, kayak ngasih tips gimana kebudayaan di sana dengan kita. Makanya kita juga kerjasama sama (anak-anak binaan, Red) Komunitas Pelajar Mengajar dan Kampung Dolanan yang jadi tempat pengmas mereka (mahasiswa UBD, Red),” terang Erin.

Selain itu, acara tersebut menampilkan tari Dikir Putri asal Brunei yang ditarikan serentak oleh mahasiswa UBD. Selain mahasiswa UBD, turut menari anak-anak dari SD Muhammadiyah 9 Surabaya bersama puluhan peserta yang hadir.

Erin berharap, kegiatan ini bisa memantik pemuda untuk lebih peduli dengan budaya dan menyebarluaskan dengan masing-masing passion yang dimiliki.

“Seperti Yunaz yang bergerak di bidang literasi, dia bisa memotivasi teman seusianya untuk turut aktif dalam menjaga kebudayaan lewat buku-buku, dongeng-dongeng, dan perjalanannya (gowes, Red),” papar alumnus kebidanan FK itu.

Selain itu, Erin menegaskan output terbesar kegiatan ini adalah melestarikan budaya Indonesia di era Revolusi Industri 4.0. Supaya kedepan, Indonesia bisa tetap dengan kebudayaannya serta mempunyai ciri khas dengan tidak kehilangan identitas.

Diakhir talkshow, Yunaz mengatakan kepada peserta yang hadir bahwa masa depan Indonesia akan cerah karena masih banyak anak muda yang peduli dengan kebudayaannya.

“Kita bisa lihat semua di sini ada (anak-anak binaan, Red) kampung dolanan, urban care, dan pelajar mengajar berkumpul untuk tahu (mempelajari, Red) kebudayaan Indonesia dan Brunei,” pungkasnya dalam akhir acara. (*)

Penulis : Fariz Ilham Rosyidi

Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone