Kumarza Mulia, Ph.D dari Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia tengah memberikan paparan mengenai Problem based Learning (PBL). (Foto: Istimewa)
Kumarza Mulia, Ph.D dari Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia tengah memberikan paparan mengenai Problem based Learning (PBL). (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Merespon terhadap amanah yang diberikan pimpinan universitas mengenai kebutuhan pembelajaran yang sifatnya integratif, interaktif, dan kolaboratif di bidang health related issue, Divisi Interprofessional Education (IPE) Direktorat Pendidikan Universitas Airlangga mengadakan kegiatan Lokakarya Penyamaan Persepsi Tutor Implementasi Program IPE di Universitas Airlangga. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, (2/11) di Aula Kahuripan 301.

Kegiatan itu dihadiri oleh taspos Interprofessional Education dan perwakilan dari enam fakultas yaitu Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Fakultas Farmasi, Fakultas Keperawatan (FKp), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), dan Fakultas Psikologi. Turut hadir pula tim pembuat modul  pembelajaran.

Hadir sebagai pembicara, Kumarza Mulia, Ph.D., menuturkan pembelajaran dalam IPE dengan menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) dapat menyelesaikan suatu masalah dengan cara yang mudah. PBL, tambahnya, meliputi empat sesi yang mana sesi pertama ialah mengenai problem definition.

“Pada sesi ini mahasiswa akan mendapat pelajaran yang dapat menyelesaikan suatu masalah,” jelasnya.

Pada sesi kedua serta ketiga mahasiswa akan saling ajar dan mengajar. Dalam sesi tersebut masing-masing mahasiswa akan membuat Lembar Tugas Mandiri (LTM). Dan sesi keempat diadakan diskusi kelas untuk menemukan solusi terbaik dari mahasiswa dan dosen.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Prihartini Widyanti, drg., M.Kes., selaku koordinator kegiatan tersebut mengatakan IPE merupakan pendidikan yang mengampu beberapa profesi di dalamnya, sedangkan PBL adalah metodenya. Dengan PBL, mahasiswa akan diberikan paparan kasus kemudian mereka diminta mencoba mencari konsep solusinya.

“Metode PBL akan kita jalankan dalam pembelajaran IPE terlebih dahulu sebelum metode lainnya,” tambahnya.

Dr. Widyanti menceritakan,  mulai diinisiasi pada pertengahan tahun 2017, IPE di UNAIR mendapat dukungan dari para civitas akademika UNAIR. Hal itu dikarenakan manfaat IPE yang sangat besar.  Ketika mahasiswa terbiasa bekerja sama dan di lapangan mendapatkan masalah maka cara penanganan masalah itu akan lebih cepat dan tepat.

“Jadi bagus sekali sambutan dari civitas akademika UNAIR baik dari dosen maupun dari mahasiswa,” tambahnya.

Dr. Widyanti menuturkan, akan diadakan uji coba PBL pada Sabtu, (3/11) bagi mahasiswa terpilih. Dari 7 program studi, akan dipilih 10 anak dari masing-masing prodi. Kemudian mereka akan dibagi dalam 5 kelas dengan membahas isu-isu yaang berbeda.

Dengan semu proses yang sudah dijalani, Dr. Widyanti berharap dengan dinamika yang ada akan semakin mengukuhkan divisi IPE akan formulasi yang tepat untuk implementasi IPE di UNAIR.

“Saya berharap dengan IPE mahasiswa akan menjadi sarjana atau profesi yang unggul, mempunyai kemampuan komunikasi ynag efektif, berkolaborasi, akan menurunkan anka kesakitan dan meningkatkan angka kesehatan,” pungkasnya.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone