Dedi Setiawan (mahasiswa Psikologi UNAIR angkatan 2014) penulis buku Manusia Subuh. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Yang muda yang berkarya. Satu lagi sosok ksatria muda yang mantap melebarkan sayap di dunia kepenulisan. Ialah Dedi Setiawan, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga berhasil mewujudkan mimpinya melahirkan sebuah karya. Buku pertamanya berjudul Manusia Subuh menjadi pelunas janji yang sempat ia ikrarkan di awal perkuliahan.

“Berbicara motivasi untuk menulis buku ini, berangkat dari angan-angan awal menjadi mahasiswa baru di Fakultas Psikologi UNAIR. Pikiran saya tiba-tiba berbicara, sakdurunge lulus aku kudu minimal nduwe buku siji. Yang artinya, sebelum lulus, saya harus memiliki buku minimal satu,” kenang Dedi.

Dedi mengatakan, butuh waktu satu tahun untuk menyelesaikan teknis operasional buku. Mulai dari mengumpulkan puisi-puisinya yang ada di buku-buku, kertas-kertas, sosial media, maupun note yang ada di gawai miliknya. Kemudian ia melakukan proses penyalinan dokumen dalam bentuk digital di komputer.

Tak hanya seorang diri, Dedi mengungkapkan, proses penyusunan bukunya tidak terlepas dari dukungan serta bantuan teman-temannya maupun oang-orang terdekatnya.

“Proses editing redaksi dibantu oleh adik saya Hana Safira, mahasiswa Psikologi UNAIR angkatan 2015. Serta pembuatan sampul oleh adik saya Rizky Nofinda Ridho Isromi, mahasiswa Psikologi UNAIR angkatan 2017,” sebutnya.

Usai menyelesaikan penyusunan buku secara pribadi, ia pun mencari kontak penerbit lokal untuk membantu menerbitkan karyanya. Gayung bersambut, itikad baiknya mendapat respon positif dari pihak penerbit. Pada akhir Oktober lalu, Manusia Subuh resmi dirilis dan dipublikasikan.

“Saya termasuk pemula yang buta tentang kepenulisan, seperti, diksi, struktur, dan ragam penulisan. Maka dari itu tantangan dan rasa syukur bagi saya dalam menyelesaikan buku puisi ini yaitu belajar, belajar, dan belajar,” ujar laki-laki asal Lamongan tersebut.

Selama menyelesaikan tulisannya, banyak suka duka yang dialami Dedi. “Dari yang membuat gemes, sedih, bahagia semuanya ada,” paparnya.

Bebarapa puisi yang ia baca kadang membuat jengah pikiran saat mengetahui bahwa inti puisi itu hanyalah satu kata.

Cover buku Manusia Subuh karya Dedi Setiawan. (Dok. Pribadi)

“Betapa Maha Besar Tuhan menciptakan akal pikiran manusia yang begitu sempurna. Intinya satu, kita hanya perlu berbekal mau dulu, tidak perlu harus  memikirkan bekal mampu. Terkadang kata mampu bisa menghambat keinginan kita untuk berkarya, apapun itu karyanya,” terang Dedi.

Menurutya, ia sendiri adalah tipikal orang yang cukup takut dan hati-hati dengan harapan. Meski demikian, Dedi tetap berharap supaya Manusia Subuh dapat menjadi awal dobrakannya untuk melepas belenggu kata ‘literasi’ di Indonesia.

“Sering, bahkan hampir dari kita semua pernah mendengar, minat literasi masyarakat di Indonesia sangat rendah. Saya sempat berpikir, terus kenapa jika minat literasi masyarakat di Indonesia rendah? Banyak yang hanya berhenti pada pertanyaan-pertanyaan, namun sukar untuk menggali jawaban,” paparnya.

Berangkat dari hal tersebut, Dedi kemudian berupaya untuk menemukan jawaban atas permasalaan dunia literasi di Indonesia. Kini, dirinya patut berbangga, karyanya menjadi bukti kontribusinya sebagai pemuda yang peduli akan literasi.

Buku yang berisi 72 judul puisi pilihan sejak tahun 2015 hingga 2018 tersebut, banyak bercerita tentang spiritualitas, rumah, keresahan, lingkungan, suasana alam, romansa, serta pertanyaan-pertanyaan mendasar lainnya dalam kehidupan sebagai manusia.

Manusia Subuh, bagi saya adalah galian tanah saya pada awal penemuan harta karun bernama jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam rantai literasi,” pungkasnya. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone