Ilustrasi oleh Ujiansma
Ilustrasi oleh Ujiansma
ShareShare on Facebook4Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Ketika usai membaca buku sejarah, sesuatu mengganjal dibenakku. Pertanyaan sederhana mengenai mengapa sejarah harus bermula dari Yunani kuno? Peradaban yang melahirkan banyak manusia bijak yang gagasannya masih dikutip oleh manusia dihampir seluruh penjuru dunia hingga sekarang. Pertanyaan selanjutnya muncul, apakah nenek moyang orang Nusantara tidak memiliki peradaban yang penuh oleh manusia bijak. Seharusnya memang ada, seluruh kebijakannya lenyap pudar dalam kabut sejarah. Keganasan waktu menelan itu semua tanpa belas kasihan hingga menyisakan apa yang dinamakan kebijakan setempat atau kearifan lokal.

Semua kearifan lokal berasal dari tradisi lisan yang tidak menyebutkan siapa penuturnya. Dari sini, kita mengetahui bahwa ukuran sebuah peradaban yang sudah terkonstruksi dalam pemikiran global adalah karya tulis. Salah satu manusia kuno yang bijak yaitu Herodotus yang mewariskan quote sederhana “Aku menulis untuk mengabadikan seluruh tindakan manusia”. Bapak sejarah itu merekam peristiwa yang ditemui sehingga tulisannya sekarang menjadi arsip penting. Akibat dari manusia manusia bijak seperti Herodutus dan filsuf-filsuf lainnya, yang meninggalkan karya tulis adalah penobatan Yunani kuno sebagai pusat peradaban dan intelektual tertua.

Rekam jejak kegemilangan Yunani kuno dapat ditelusuri berkat adanya arsip. Oleh karena itu, arsip merupakan memori kolektif masyarakat. Diary kehidupan masyarakat yang berhasil terdokumentasi dengan baik akan mampu mengisahkan ulang kenangan masa lampau. Elie Wiesel bahkan dengan keras mengatakan “Without memory, there is no culture. Without memory, there would be no civilization, no society, no future. Ungkapan Elie Wiesel memberikan pemahaman bahwa pelestarian memori sangatlah penting untuk keperluan eksistensi identitas sebagai suatu budaya, masyarakat, peradaban maupun demi mengisi jawaban pertanyaan masa lalu ketika sudah berada di masa depan.

Setiap individu membutuhkan identitas. Untuk memperolehnya mereka akan mengorek-ngorek memori masa lalunya, begitu pula masyarakat. Individu dan masyarakat adalah komponen sosial yang tidak dapat dipisahkan, saling melengkapi dan tidak berseberangan. Setiap manusia adalah bagian dari masyarakat sehingga memori individu juga merupakan memori masyarakat. Memori masyarakat terdiri dari gabungan dari memori memori individu. Jadi dapat pula disebut memori kolektif. Istilah memori berasal dari Yunani kuno, diangkat dari nama ibu dari sembilan dewi, Mnemosin. Ibu dari sembilan dewi mengkiaskan sebagai induk segala seni. Bahasa Latin pun menyerapnya menjadi memor-oris atau ia yang mengingat.

Menurut Fernando Baez, adanya memori menyebabkan teks arsip bisa dilihat sebagai patrimonium budaya. Pakar perbukuan asal Venezuela ini berusaha mencermati hubungan memori dengan patrimonium budaya melalui kajian Historio-Linguistik.  Patrimonium juga berasal dari bahasa Yunani Padre berarti Ayah dan kata kerja moneo yang diterjemahkan sebagai mengingat.

Maka secara harfiah partrimonium berarti yang diingat oleh ayah. Patrimonium budaya yang berperan sebagai ayah dan Mnemosin sebagai ibu. Patrimonium budaya berupa perpustakaan, arsip dan museum sedangkan Mnemosin adalah gudang memorinya yang akan melahirkan memori memori lainnya. Keduanya merupakan bentuk dari identitas masyarakat, bangsa, negara maupun peradaban. Oleh karena itu, pelestarian arsip yang sesuai dengan prosedur, ketentuan dan tata tertib yang berlaku bisa dikatakan sebagai upaya menjaga identitas masyarakat, bangsa maupun negara dengan tujuan akhir membangun peradaban.

Tradisi tulis menulis menjadi tolak ukur kemajuan peradaban. Oleh karena itu, menulis adalah sarana untuk berkontribusi kepada kemajuan peradaban. Universitas didirikan untuk melawan tradisi lisan sekaligus mendokumentasikan seluruh tradisi lisan. Sementara itu, tradisi lisan dalam dunia akademis merupakan simbol keprimitifan atau keterbelakangan. Jadi sadar arsip bisa menjadi perilaku positif yang menunjukkan kontribusi membangun peradaban.

Masyarakat yang sadar arsip memahami bahwa arsip adalah memori kolektif mereka. Eksistensi dan identitas serta warisan budaya yang menandakan bahwa mereka ada. Arsip adalah kebanggaan masyarakat yang telah berlalu. Arsip memang seperti tanda bukti kehadiran. Ketakutan paling mendalam setiap orang adalah dilupakan, sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh nenek moyang kita. Arsip mencegah keberadaannya menghilang begitu saja dalam perputaran roda sejarah.

ShareShare on Facebook4Tweet about this on Twitter0Email this to someone