Ilustrasi oleh Kiblatnet
Ilustrasi oleh Kiblatnet
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Memasuki penghujung akhir tahun, dunia kampus kini disibukkan oleh gema regenerasi dalam rangka menyiapkan sosok pemimpin maupun kader-kader baru yang akan berlaga dalam pesta demokrasi. Kegiatan tersebut berlangsung secara kontinuitas, yakni dilakukan setiap menjelang akhir tahun. Proses kaderisasi yang telah dipersiapkan sejak dini oleh organisasi mahasiswa (ormawa) terhadap mahasiswa baru rupanya cukup efektif untuk mencetak para kader yang siap tampil menghadap panggung publik. Berbagai macam cara ditempuh seperti melalui kegiatan ospek, kepanitiaan, cangkruk maupun dalam hal lainnya yang sifatnya produktif. Hal ini merupakan salah satu upaya dalam melakukan pendekatan serta untuk sekedar melihat potensi terhadap para kader yang telah dibidik, maupun secara random.

Beberapa waktu kini, terlihat sudah berbagai event maupun kegiatan yang disemarakkan oleh ormawa untuk merealisasikan program kerja yang telah dirancang sebelumnya pada rapat kerja tahunan. Apalagi dengan mendekati masa akhir periode kepengurusan, justru kian nampak bagi ormawa untuk berlomba-lomba mempersiapkan event akhir tahunan sebagai penutup penghujung tahun. Saling sikut dalam upaya perebutan hegemoni atas waktu dan tempat maupun tarik ulur terhadap pemenuhan sumber daya manusia dalam hal kepanitiaan terlihat sudah lazim dilakukan. Langkah tersebut ditempuh sebagai upaya untuk sekadar melegitimasi ataupun cukup mengkultuskan kekuasaan bahwa organisasi juga harus berkompetisi.

Ruang Strategi

Perebutan ruang semakin nampak dengan ramainya titik pusat kumpul mahasiswa di kampus seperti gazebo, perpustakaan, student center, galeri, ataupun tempat lainnya yang telah disediakan birokrat kampus. Namun di luar lingkaran tersebut, juga telah tercipta obrolan-obrolan hangat yang terjadi di warung kopi.

Kini warung kopi tak lepas dari kehidupan keseharian mahasiswa baik untuk sekadar mengerjakan tugas, diskusi, memenuhi kebutuhan perut, ngobrol mengenai kuliah atau kehidupan maupun sebagai ajang wadah silaturahmi. Citra warung kopi  kemudian turut berubah seiring dengan obrolan yang tecipta didalamnya. Kini warung kopi dapat dikatakan mengalami perubahan makna dari yang awalnya berlabel ruang “cangkruk” menjadi ruang “berdialektika”.

Kampus yang saat ini tengah memasuki bulan regenerasi rupanya juga turut mengubah peran warung kopi menjadi ruang untuk mengatur strategi.

Gelaran pesta demokrasi tak ubahnya menjadi ajang mahasiswa untuk saling berdiskusi membahas percaturan politik kampus. Obrolan yang dibicarakan tak lain adalah untuk mempersiapkan diri (individu) maupun sekelompok orang untuk maju dalam kontestasi panggung politik kampus. Jabatan untuk mengisi ketua, ataupun masuk dalam jajaran kepengurusan organisasi rupanya sudah dipersiapkan begitu matang. Hal ini lah yang menarik untuk diamati, bahwasannya obrolan-obrolan politik kampus telah merambah menuju warung-warung kopi. Ekspansi mahasiswa terhadap warung kopi, juga bisa membawa stigma bahwa kampus saat ini belum bisa mewadahi ruang bagi mahasiswa untuk berekspresi. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya pemadaman arus listrik atau wifi yang kemudian dimatikan. Selain itu pemberlakuan jam malam, dirasa semakin mengkultuskan bahwa peran kampus hanya sebagai tempat untuk melakukan kegiatan perkulihan saja.

Perebutan Hegemoni

Peran koalisi dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) maupun dari pihak oposisi (netral) sangatlah menentukan dalam upaya untuk meraup suara. Utusan ataupun perwakilan yang menjadi calon haruslah berkompeten melalui proses seleksi yang sehat dan sesuai prosedur. Selain itu penilaian dari sosok figur atas calon pemimpin yang akan maju dalam pesta demokrasi tersebut juga tak kalah menentukan untuk dapat melihat, membaca serta memprediksikan siapa yang akan keluar menjadi jawara.

Perjalanan karier atau track record maupun latarbelakang personal dalam upaya untuk menghimpun massa adalah hal yang patut diperhitungkan. Tak hanya itu, pembagian status kursi jabatan untuk menempati posisi strategis seperti badan pengurus harian pun tentu sudah didiskusikan secara bersama. Apa yang ada dibelakangnya serta orang-orang yang berada di lingkarannya seperti kehadiran tim sukses (timses) merupakan kunci yang menjadi penentu atas keberhasilan untuk memenangkan salah satu calon.

Menjadi pemimpin haruslah bijaksana, berhati nurani serta memiliki tingkah laku yang lembut. Menurut Hatta pemimpin berarti suri tauladan dalam segala perbuatannya. Semua manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin, setidaknya dalam lingkup kecil yakni menjadi pemimpin atas dirinya sendiri. Manusia harus bisa memberi, bukan hanya menerima. Dengan demikian tak hanya sosok seorang pemimpin yang mengemban tanggungjawab sebagai pemegang tampuk kekuasaan. Seorang pemilih sejati haruslah mengawal dan bisa bertanggungjawab atas pilihannya.

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone