Penyandang Disabilitas Turut Ramaikan E-Week 2018

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
E-Week hari pertama diadakan acara social action yang mengundang para disabilitas sebagai pembicara. (Foto: Regina)
E-Week hari pertama diadakan acara social action yang mengundang para disabilitas sebagai pembicara. (Foto: Regina)

UNAIR NEWS – Economic Week atau yang biasa disebut E-Week merupakan salah satu program kerja terbesar yang dimiliki oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga. Tahun ini E-Week mengangkat tema Indonesia Staring the World yang mana akan diadakan 3 sub acara yaitu social action, International Development Seminar Conference (IDSC), dan Efestaphoria.

Pada acara social action yang dilaksanakan pada Minggu, (28/10), wakil dekan I FEB Dr. Rudi Purwono, SE., MSE., mengatakan bahwa bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, pemuda memiliki porsi yang sama. Setiap individu pemuda pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

“Kekurangan bukan penghalang kita untuk menunjukkan bahwa kita mampu, jadi mari tunjukkan kelebihan kita,” jelasnya dihadapan 250 peserta baik mahasiswa maupun masyarakat umum.

Sementara itu, Hinanda Tomi Adikoro, selaku ketua E-Week menuturkan E-Week terdiri atas 3 sub acara yaitu social action yang dilaksanakan pada 28 Oktober 2018, IDSC pada tanggal 29 – 31 Oktober dan Efestaphoria pada tanggal 3 November. Selain untuk branding FEB, lanjutnya, E-Week juga diadakan untuk menunjukan bahwa mahasiswa Indonesia mampu membuat kegiatan yang mengangkat isu-isu hangat dunia seperti disabilitas, ekonomi digital, dan ekonomi kreatif pemuda.

Mahasiswa Manajemen 2016 tersebut menambahkan, acara social action diisi dengan talkshow yang mengundang orang disabilitas sebagai pembicara. Hal itu dikarenakan semakin maraknya isu disabilitas di Indonesia. Banyak orang yang tidak menghargai mereka dan bahkan untuk berkomunikasi dengan mereka pun jarang.

“Jadi kami ingin menunjukan bahwa mereka itu aslinya sama,” tuturnya.

Hinandi menambahkan, acara tersebut juga ingin menunjukan bahwa orang disabilitas itu memiliki kemampuan luar biasa.  Dia menceritakan pernah terjadi ada seorang tuna netra yang baru saja turun dari angkot dan berdiam diri di pinggir jalan. Tiba-tiba ada seseorang yang menyeberangkan orang disabilitas tersebut tanpa bertanya terlebih dahulu. Padahal aslinya ia tidak ingin menyebrang sama sekali.

“Jadi sebelum membantu, tolong tanyai apakah mereka butuh bantuan atau tidak serta ajarkan mereka untuk mandiri dan hargai mereka seperti orang normal,” tambahnya.

Hinandi berharap, acara tersebut memiliki kesinambungan untuk kedepannya dan juga dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap isu yang diangkat serta dapat bermanfaat untuk masyarakat umum.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu