bakti palu
DOKTER dari RS Lapangan “Ksatria Airlangga” melakukan pemeriksaan terhadap masyarakat korban gempa dan tsunami di Donggala, Sulteng. Hampir satu bulan pasca-bencana sivitas UNAIR masih memberikan layanan kemanusiaan. (Foto: Dok RSTKA)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Satu bulan pasca bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu, Donggala dan Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, penanganan krisis kesehatan oleh Rumah Sakit Ksatria Airlangga (RSKA) masih terus berlanjut. RS yang digawangi sejawat dokter alumni FK UNAIR dan relawan dari sivitas yang lain, dalam sepekan kemarin, yaitu Senin (21/10) hingga Jumat (26/10) setidaknya melayani 400 lebih pasien.

Jumlah tersebut diperkirakan akan lebih banyak lagi jika penyampaian informasi adanya pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada masyarakat, dapat dilaksanakan secara baik dan normal. Tetapi realitanya terkendala karena keterbatasan sarana.

Para pasien tersebut mayoritas masyarakat setempat yang selamat dari peristiwa 28 September 2018 lalu. Mereka merupakan pasien berobat/perawatan lanjutan, pasien berobat jalan, dan atau pasien baru dampak dari musibah tersebut. Hal tersebut dibenarkan oleh Suwaspodo Henry Wibowo, dr., Sp.And., MARS., Sekretaris Yayasan Ksatria Medika Airlangga (YKMA), Minggu (21/10).

Seperti diberitakan, kendatipun kapal Rumah Sakit Terapung “Ksatria Airlangga” (RST-KA) sejak Kamis (18/10) sudah dipindah bakti kemanusiaannya dari Donggala menuju Maluku, namun bantuan kesehatan untuk korban bencana di Palu dari sivitas Universitas Airlangga masih berlanjut melalui RS lapangan di sekitar Donggala.

bakti palu
TRAUMA Healing dilaksanakan oleh relawan UNAIR terhadap anak-anak korban bencana di Donggala, tepatnya di lokasi dekat penampungan pengungsi. (Foto: Dok RSTKA)

Dihimpun dari laporan harian Tim RS Ksatria Airlangga yang dilakukan dr. Intan, dr. Ragil, dr. Winni, dr. Nita,  dr Monica, dan dr Aga, pelayanan kesehatan tersebut diberikan di Posko Kesehatan Pengungsi di Lapangan Batusuya, di Desa Sigi, Desa Saliru, Desa Saloya, Poskesdes Kaliburu, serta trauma healing di Desa Seliru.

”Kalau di rata-rata setiap hari Tim RSKA  melayani sekitar 60 pasien dari berbagai macam keluhan sakit,” tambah dr. Henry.

Salam satu contoh pada pelayanan di Posko Pengungsian di lapangan Batusuya, dr. Intan mencatat hari Minggu (21/10) lalu itu terdapat 51 pasien. Dominasi pasien memang orang dewasa, tetapi juga ada pasien anak-anak, balita, remaja dan lansia.

Keluhan/gangguan kesehatan masyarakat yang dicatat dari berbagai pos layanan kesehatan itu, paling banyak adalah Mialgia atau yang populer disebut nyeri otot, badan terasa pegal-pegal yang diduga akibat aktivitas pasca-bencana. Setidaknya terdapat sekitar 20% merupakan pasien dengan keluhan mialgia.

Selain mialgia, lima besar keluhan yang lain antara lain ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), HT (hipertensi), dyspepsia atau maag (gangguan perasaan nyeri pada saluran pencernaan atas), gastritis (radang lambung/asam lambung), gangguan pencernaan, dermatitis (peradangan kulit), dsb.

bakti palu
RELAWAN Mahagana UNAIR sebagai instruktur senam untuk memberikan upaya kesehatan untuk masyarakat Donggala, korban bencana. (Foto: Dok RST-KA)

Berbagai pemeriksaan dan usaha pengobatan lantas diberikan oleh relawan Tim RS Ksatria Airlangga yang terdiri dari dokter Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, perawat, psikolog dan ahli farmasi UNAIR, serta perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan UKM Mahagana UNAIR. Misalnya melakukan pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat, pemberian tambahan gizi, edukasi dan sosialisasi, senam bersama untuk orang dewasa di pengungsian, serta trauma healing untuk anak-anak.

Satu hal tentang kendala yang ditemui, antara lain keterbatasan sarana laboratorium sehingga memperlambat pemeriksaan. Selain itu juga keterbatasan sarana transportasi yang sedikit banyak juga menghambat upaya relawan UNAIR dalam usahanya melakukan motivasi pemulihan ekonomi bagi nelayan, karena jarak yang harus ditempuh relatif jauh. Selain itu ada lokasi Poskesdes yang jauh dan medannya susah dijangkau, kemudian kelengkapan ATK pelayanan yang terbatas, kesulitas mendapatkan obat-obat kulit, serta ada pasien yang seharusnya dirujuk tetapi ia menolak. (*)

Penulis: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone