Ilustrasi: www.kompas.com
Ilustrasi: www.kompas.com
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWSMSG (Monosodium glutamate) atau yang biasa disebut micin merupakan bumbu penyedap makanan yang sudah lama beredar luas. Wujud MSG berupa garam, ditemukan kali pertama oleh profesor kimia Universitas Tokyo, Kikunea Ikeda. MSG dianggap sebagai garam paling stabil yang mampu memberikan rasa umami (gurih dan lezat) pada makanan.

Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai membuat asumsi bahwa MSG dapat merusak otak dan berpengaruh terhadap penurunan intelegensi. Bahkan, dikenal pula istilah generasi micin berupa penggambaran perilaku orang zaman now yang tidak jelas.

Micin sering dikambinghitamkan oleh masyarakat luas sebagai dalang di balik ketidakwarasan sikap generasi muda yang melakukan tidakan tanpa berpikir. Padahal, asumsi masyarakat tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya.

MSG sejatinya adalah bahan tambahan pangan yang sengaja disisipkan untuk meningkatkan selera makan. Bila dikaji lebih dalam, MSG tersusun dari natrium dan glutamat yang merupakan bagian dari protein (asam amino non esensial). Dua zat tersebut tidak membahayakan tubuh apalagi menyebaban kebodohan. Pada proses pembuatannya, MSG dihasilkan melalui proses fermentasi alami dari gula tebu, gula bit, dan gula jagung.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengklaim bahwa MSG aman dikonsumsi. Hal itu berdasar pada hasil pengujian laboratorium yang dilakukan WHO. WHO sama sekali tidak melarang peredaran penyedap rasa. MSG sendiri juga telah memiliki ijin edar dari BPOM. Hal itu menandakan MSG layak konsumsi.

Namun, ada beberapa orang yang memiliki hipersensitivitas terhadap MSG. Mereka bisa mengalami gatal, kemerahan di kulit, sesak, atau reaksi alergi lainnya. Hal terpenting, sejauh ini belum ada penelitian yang membuktikan efek berbahaya MSG terhadap otak. Berbagai badan kesehatan di seluruh dunia sepakat, MSG aman dikonsumsi selama tidak berlebihan.

”Kuncinya adalah makan dengan porsi tepat. MSG standarnya dikonsumsi 3 gram per hari. Kalau makan MSG sampai 30 gram ya masalah,” ujar Dr. Ir. Annis Catur Adi, M. Si., dalam seminar gizi di , Kampus C Universitas Airlangga beberapa waktu lalu. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone