Transaksi Kemanusiaan dan (Bukan) Menulis di Titik Nol

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh beritatagar
Ilustrasi oleh beritatagar

Membicarakan perkara politik di negeri ini jika boleh dianalogikan adalah sebagai usaha kita dalam mengupas bawang, karena banyak sekali yang perlu dikuliti. Atas dasar inilah kita perlu menanggapi secara serius deskripsi Listiyono Santoso mengenai kondisi masyarakat politik kita yang benar-benar sakit (JP,18/9). Bagaimana tidak? politik yang semula merupakan alat perpanjangan kesejahteraan dan keadilan rakyat, ditempatkan dalam posisi praktis dan pragmatis dalam ruang serba tertutup. Bagaimana jika masyarakat akhirnya berubah menjadi masyakat yang apatis dan dicirikan dalam stigma apolitis. Padahal, kesalahan itu tidak muncul sekalipun dalam proyeksi mereka. Kecendrungan-kecendrungan inilah yang merobek kain kebangsaan yang dirajut oleh Founding Fathers bangsa kita.

Belum lama ini, kita dihebohkan dengan pemberitaan salah satu tokoh aktivis Ratna Sarumpaet yang menyita banyak sorot perhatian, penulis pun tidak ingin mengomentari perilaku tidak tersebut. Hanya saja, penulis bersikap secara objektif atas nilai kemanusiaan yang ditransaksikan. Tentu saja, kasus Ratna hanya kasus kesekian yang terlihat layaknya fenomena Iceberg, karena tidak seharusnya nilai-nilai kemanusiaan ditransaksikan

Urgensitas yang tengah kita hadapi hari ini, adalah dihadapkannya kita pada berbagai persoalan yang disajikan dalam narasi yang kering, utopis dan pesimisitis, kondisi ini ditengarai timbul akibat hilangnya sentuhan historis sebagai rekam jejak perbandingan maupun sebagai sumber primer berlakunya akal sehat dan terjerambabnya tatanan sosial masyarakat. Terjerembabnya tatanan sosial dalam aspek kebudayaan adalah akibat kontestasi – meminjam istilah kelompok Birmingham centre for contemporary cultural studies – kebudayaan yang berkepanjangan. Maka, tak heran kemanusiaan yang sejatinya merupakan esensi dan jati diri pembeda manusia dengan makhluk lainnya, diperjualbelikan dalam bentuk transaksi-transaksi ideologis dan dijual murah, miris.

Polarisasi politik identitas tengah menjalani perang taktis yang melegitimasi kemanusiaan. Kemudian, kegiatan ini secara masif didistribusikan sebagai jenis komoditas baru (new commodity). Adorno dalam pemikirannya menunjukkan bahwa asas pertukaran memaksakan kekuatannya secara khusus dalam dunia benda-benda budaya, dalam hal ini kemanusiaan (humanism) bertransformasi secara normatif sebagai benda budaya. Akibatnya, komoditas baru ini ditampilkan sebagai sebuah Headline maupun click bait dalam menjaring pasar utama bagi mereka yang haus akan nilai-nilai kemanusiaan.

Berkaca pada premis intelektual Birmingham, “Budaya adalah lahan kontestasi antara gagasan dan praktik material berlangsung”. Maka, kontestasi kebudayaan kita sedang tidak sehat karena porsi gagasan dan praktik material tidak berada dalam kondisi yang seimbang. Diskrimasi dan dominasi kepentingan pun terjadi secara unconscious false. Padahal kemanusiaan adalah modal tolak ukur moral dalam menengahi pertikaian ideologis.

Suatu ketika, almarhum Achdiat K Mihardja dalam novelnya yang terkenal Atheis menuliskan alasan mengapa manusia lemah dan takut akan kegelapan adalah karena basis intelegesia mereka dihuni oleh ketidaktahuan. Perlu ditegaskan, lahirnya sebuah karya sastra terdapat kesaksian kemanusiaan yang dipertaruhkan melalui ungkapan negativa serta berada dalam suasana kebisuan. Kebisuan dalam sastra adalah kemampuan “having an existence” yang ditinjau melalui bahasa dan gaya. Berkaca pada hal tersebut, Masyarakat kita sedang terjangkit penyakit ketidaktahuan akibat implikasi dominasi tanda maupun citra yang mirip dengan penjelasan Harvey dalam bukunya yang bertajuk The Condition of Posmodenity, yaitu hal-hal substansial tidak lagi menjadi konsumsi utama dalam masyarakat dibandingkan citra maupun tanda-tandanya.

Salah satu tokoh terkenal dalam kajian filsafat eksistensialis, Jean Paul-Sartre. pada masanya ia berjuang melawan arus deras Neokantianisme yang diistilahkan oleh Franz Magnis sebagai “filsafat pencernaan” akibat konsep utamanya yang memakan sentuhan historis dan meludahkannya kembali sebagi konsep abstrak. Neokantianisme adalah cerminan ketidaktahuan kita dewasa ini. Pasalnya, gagasan “eksistensi mendahului esensi” merupakan istilah terbatas dalam menjabarkan pola perilaku masyarakat Posmodern. Maka, tidaklah heran jika nalar akal sehat benar-benar tidak terawat akibat tabiat ketidaktahuan yang diruwat.

Oleh karena itu, dalam menghindarkan transaksi nilai-nilai kemanusian diperlukan pemahaman peran kemanusiaan sebagai core value dalam institusi sosial yang bergerak secara hagemonial, yaitu langkah dan kegiatan praksis dalam menopang dominasi budaya sebab dominasi budaya bersifat persuasi bukan koersi.

Menulis merupakan alternatif dalam membendung arus transaksi yang semakin liar. Mengapa ? karena tulisan adalah pilihan kemanusiaan (Barthes,1953). Hal ini perlu disinggung sebab kajian semiotika merupakan kajian “jeli” dalam menangkap visualisasi kebudayaan. Selain itu, sentralitas tulisan sebagi lokus utama kajian semiotika Roland Barthes menjadikannya sebagai sebuah alternatif tafsir diri dalam membendung arus deras transaksi kemanusiaan yang kerap terjadi lingkungan sekitar kita. Lalu, dalam buku Mythologies-nya, Barthes berujar, “The Language of linguistic community,that is a group of person who all interpret in the same way all linguistic statement” yang berarti jika hendak merajut kain kebangsaan, maka tulisan menempati posisi pertama dalam daftar alat yang dibutuhkan dalam merajut kain kebangsaan sebab tulisan adalah pilihan kemanusiaan.

Selanjutnya, perkara politik dalam negeri ini tidak diurai  lagi dalam analogi mengupas bawang, melainkan bagaimana merajut kain kebangsaan yang berlandaskan hati nurani kemanusiaan.

Berita Terkait

Muhammad Fuad

Muhammad Fuad

Penulis adalah mahasiswa program studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, angkatan 2017. Penggiat literasi, tinggal di: muhammad.fuad.izzatulfikri-2017@fib.unair.ac.id

Leave Reply

Close Menu