Laras Setyaningsih (bawah, dua dari kiri) bersama tim yang mengikuti Ekspedisi Jalur Rempah Direktorat Jenderal Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Pulau Makean (Makian) Provinsi Maluku Utara (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Laras Setyaningsih berkesempatan menjadi delegasi Jawa Timur mengikuti program ekspedisi jalur rempah. Program itu diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang berlangsung pada 27 September – 10 Oktober 2018.

Dalam ekspedisi itu, Laras bersama puluhan mahasiswa dari berbagai kampus berkesempatan melakukan napak tilas kemasyhuran jejak peradaban jalur rempah Nusantara di Pulau Makeng (Makian), Maluku Utara.

Ekspedisi itu, dikatakan Laras, diselenggarakan untuk menumbuhkan rasa kecintaan generasi muda Indonesia terhadap sejarah jalur rempah, mengingat sejarahnya merupakan salah satu sejarah yang megah di Indonesia. Sabab di mas lampau, jalur rempah yang berada di kepulauan Maluku Utara berhasil mengundang kedatangan bangsa-bangsa lain.

“Jadi, yang perlu ditekankan di sini adalah kita (Indonesia, Red) yang berhasil mengundang bangsa barat untuk melihat kebesaran dan kekayaan tanah kita, bukan sebaliknya kita yang menghamba pada bangsa barat. Dan tidak lupa, bukti-bukti kebesaran bangsa ini harus di share agar generasi muda tidak melulu merasa inferior terhadap bangsa barat,” tutur Laras, mahasiswa asal Ngawi.

Selama di Pulau Makian, Laras bersama tim membuat laporan berupa karya tulis, video, dan fotografi. Ia bersama tim melakukan riset dengan metode live in, tinggal di rumah warga untuk mempelajari kehidupan masyarakat sekitar. Ia pun ikut aktivitas harian seperti ke hutan untuk mencari kenari, pala, dan cengkih. Ia juga berkesempatan melihat secara langsung tradisi lisan berkembang pesat di Pulau Makian. Mayoritas adalah masyarakat maritim dengan tradisi lisan yang kuat.

“Juga yang aku lihat di sana, apa yang didapat (tangkapan ikan, Red) hari itu dibagi. Jadi hidupnya komunal banget. Hasil tangkapan yang mereka dapat hari itu disyukuri, seberapa banyak hasil memecah (toki, Red) kenari itu yang disyukuri,” terangnya.

Laras merasakan, selama di Pulau Makian, dirinya kagum dengan masyarakat pesisir Pulau Makian karena memiliki kultur berbeda dengan masyarakat Jawa.

“Jika biasanya aku dan orang-orang di lingkunganku (Jawa, Red) mengukur kebahagiaan dengan apa yang sudah kita capai, terus menuntut diri atas pencapaian itu, dari orang-orang Makeang aku belajar bahwa bahagia adalah tentang bersyukur,” tutur Laras.

“Aku juga belajar bahwa parameter kebahagiaan masing-masing orang itu beda-beda. Sepulang dari Makeang aku sangat setuju sama hasil survei Kumparan yang menempatkan Maluku Utara di provinsi paling bahagia di Indonesia,” tambahnya.

Usai kegiatan Laras berharap, ia dan tim dapat melakukan timbal balik kepada negara dengan turut mengabdikan diri lewat ilmu masing-masing.

“Karena aku berangkatnya dibiayai penuh pakai uang rakyat, jadi aku punya tanggungjawab untuk membagikan ilmu ini kembali ke masyarakat. Terlebih aku juga anak sejarah semoga bisa berbagi ilmu mengenai sejarah jalur rempah Moluku Kie Raha,” tutup mahasiswa ilmu sejarah angkatan 2015 itu. (*)

Penulis : Fariz Ilham Rosyidi

Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone