DEVI Rahmawati Putri, S.Pi., M.Si., saat membahas “peran karantina ikan dalam menjamin mutu hasil perikanan” di Kuliah Tamu FPK PSDKU Ke-3. (Foto: Nabila Salsabila)
DEVI Rahmawati Putri, S.Pi., M.Si., saat membahas “peran karantina ikan dalam menjamin mutu hasil perikanan” di Kuliah Tamu FPK PSDKU Ke-3. (Foto: Nabila Salsabila)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Ketiga kalinya di semester ganjil 2018, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga di Banyuwangi mengadakan kuliah tamu. Kali ini, kuliah tamu itu bertema ”Pengembangan Mikrobiologi di Bidang Perikanan”.

Tak tanggung-tanggung, kuliah tamu pada Senin (15/10) tersebut mendatangkan dua pemateri yang sudah berpengalaman di bidang mikrobiologi perikanan. Dua pemateri tersebut adalah Devi Rahmawati Putri, S.Pi., M.Si. dan Taufik Indarmawan, S.Pi., M.Si.

Materi pertama disampaikan Devi Rahmawati Putri, S.Pi., M.Si., yang merupakan staff Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Hasil Perikanan (BKIPMHP) Surabaya II. Topik yang diangkat adalah ”peran karantina ikan dalam menjamin mutu hasil perikanan”.

”Karantina ikan sendiri sangat erat hubungannya dengan mikrobiologi. Contohnya, virus yang menyerang ikan atau biasa disebut hama dan penyakit ikan,” ujar alumni FPK UNAIR tersebut.

Dia menambahkan sebagai pintu masuk dan pemeriksaan mutu komoditas perikanan yang akan keluar masuk Indonesia, balai karantina ikan mempunyai tujuan untuk mencegah masuknya hama dan penyakit ikan (HPIK) dari luar negeri ke Indonesia. Termasuk mencegah tersebarnya HPIK ke daerah-daerah di Indonesia dan mencegah keluarnya HPIK dari wilayah Indonesia.

”Karena itu, demi menjaga mutu hasil perikanan yang masuk ke Indonesia dan akan keluar dari Indoenesia, balai karantina ikan di seluruh Indonesia berusaha untuk melayani dengan baik dan tetap menegakkan peraturan dengan tegas. Sebab, kualitas ikan yang sehat dapat meciptakan generasi bangsa yang cerdas,” katanya.

Selanjutnya, materi kedua disampaikan Taufik Indarmawan, S.Pi., M.Si., yang merupakan Staff R&D PT. Merck Tbk. Topik bahasan diungkap adalah ”peranan bioteknologi perikanan dan keberlanjutan akuakultur Indonesia”.

”Jika kalian terjun ke dunia bioteknologi, tidak akan terlepas dengan dunia riset atau penelitian. Contoh penerapan bioteknologi, yaitu vaksin dan bioremediasi lingkungan tercemar. Jadi, peneliti akan mencari biologi yang cocok untuk digunakan vaksin dan bisa digunakan untuk mengatasi lingkungan tercemar,” tuturnya.

Selain menjelaskan mengenai bioteknologi, pria yang juga merupakan alumnus FPK UNAIR tersebut lebih banyak melakukan sharing mengenai dunia riset. Menurut Taufik, terjun di dunia riset harus memiliki passion. Jika tidak, hal itu akan mengakibatkan yang bersangkutan mudah capek dan menyerah.

”Alhasil dimarahin atasan. Namun, pendapatan menjadi peneliti di dunia riset sangat menguntungkan,” ujarnya.

”Orang beruntung di dunia pengusaha masih mungkin. Tapi, orang beruntung di dunia riset tidak mungkin. Dunia riset membutuhkan kemampuan dan wawasan luas, tidak memiliki hal tersebut akan ditendang. Selain itu, perlu ditekankan, bahwa dunia perikanan juga keras, tidak hanya di dunia bioteknologi dan riset, semua aspek di perikanan bisa menjadi keras dan butuh kerja keras,” tambahnya. (*)

 

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone