Vokasi
Rektor UNAIR (paling kiri) dan Pakde Karwo (tengah) bersama para pemateri pada Kongres FPTVI. (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Guna menanggapi perubahan global, Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) kembali menyelenggarakan kongres tahunan. Kali ini Universitas Airlangga menjadi tuan rumah Kongres Ke-V yang mengusung tema “Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”.

Dalam forum tersebut menghadirkan tiga pembicara utama. Ialah Dr. H. Soekarwo, S.H., M.H., selaku Gubernur Jawa Timur, Dr. Ir. Mohammad Rudy Salahuddin, MEM., selaku Deputi IV Kementerian Koordinator Perekonomian Republik Indonesia, dan Denni Puspa Purbasari, S.E., M.Sc., Ph.D., selaku Deputi III Staf Kepresidenan Republik Indonesia.

Sebagai pembicara utama Gubernur Jawa Timur yang akrab disapa Pakde Karwo itu menyampaikan berbagai hal mengenai dinamika pendidikan vokasional di Jawa Timur. Menurutnya, laju pertumbuhan penduduk yang rendah di Jawa Timur mengindikasikan nilai produksi kerja yang lebih tinggi. Soekarwo juga mengatakan pentingnya memetakan jumlah tenaga kerja dari pendidikan vokasional di Jawa Timur guna menentukan strategi terhadap pendidikan vokasi. Menyinggu tentang bonus demografi, Pakde Karwo mengatakan bahwa pemanfaatan penduduk di usia produktif harus digerakkan lebih cepat.

“Untuk berbagai kebijakan yang tepat telah mengubah kondisi ketenagakerjaan di Jawa Timur dengan jumlah tenaga kerja yang berasal dari pendidikan vokasi mengalami kenaikan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, kebijakan untuk pembangunan SDM berdaya saing dan mengoptimalkan pendidikan vokasi di tingkat SMK sudah dimulai sejak tahun 2015. Hal itu diwujudkan dalam kebijakan Dual Track Strategy dengan pendidikan non formal melalui SKM Mini, Balai Latihan Kerja, dan Madrasah Diniah.

Namun, imbuh Soekarwo, hal itu tidak cukup jika masalah kesehatan tidak terselesaikan. Untuk itu, penanganan kesehatan dan gizi terus diupayakan agar segera teratasi. Karena kualitas kesehatan juga menentukan kualitas pendidikan kita. Mengenai kebijakan Dual Track Strategy Pengembangan Pendidikan. Dicontohkan Pendidikan Non Formal SMK MINI yang dikerjasamakan dengan Jerman dan pengembangan BLK yang berstandar internasional.

“Dalam Pendidikan Formal, Dual Track Strategy berjalan antara SMK dengan Industri, SMK dengan PTN, SMK dengan mitra di luar negeri, 1 SMK Rujukan dengan 5 SMK Swasta,  dan Ekstra Kurikuler di MA,” ungkapnya.

Sementara kebijakan Double Track di Kurikuler SMA dan MA, siswa dibekali ketrampilan seperti Multimedia, Teknik Elektro, Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Listrik, Tata Boga, Tata Busana, dan Kecantikan.

Dari kebijakan yang telah dipaparkan oleh Pakde Karwo, Wakil Dekan 1 Fakultas Vokasi Universitas Airlangga dan Ketua Komisi Program Studi Sejenis FPTVI Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si (UNAIR), mengatakan bahwa dalam forum itu merupakan perjuangan FPTVI untuk berjuang bersama agar pendidikan vokasi di Universitas, sekolah tinggi dan akademik (UNISTA) mampu mencetak lulusan terampil di industri dan masyarakat.

“Menurut UU 12 tahun 2012 pasal 16, Pendidikan  vokasi  merupakan  Pendidikan  Tinggi program diploma (Diploma 3 maupun Diploma 4/ Sarjana Terapan) yang menyiapkan mahasiswa  untuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu sampai program sarjana terapan,” jelasnya.

Usai paparan, agenda dilanjutkan dengan peluncuran serta sosialisasi “Asosiasi Ahli dan Dosen Ilmu Terapan Indonesia (A2DITI)”, sebuah wadah kegiatan bagi dosen Vokasi anggota FPTVI dan pelaku Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kemudian juga dilanjutkan dengan agenda sidang perbidang dan diteruskan dengan Sidang Pleno.

Penulis: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone