Gunawan A. Sambodo memberikan materi kepada peserta mengenai bentuk-bentuk Aksara Jawa Kuna. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Aksara Jawa merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia yang patut dilestarikan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, aksara Jawa semakin ditinggalkan. Bahkan tidak sedikit kawula muda yang lebih tertarik mempelajari aksara asing seperti Korea dan Jepang daripada Aksara Jawa yang merupakan produk budaya lokal sendiri.

Melihat keresahan itu, mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerjasama dengan Komunitas Tapak Jejak Kerajaan menyelenggarakan acara bertajuk Sinau Aksara Jawa Kuno (Sinjakun) di Rumah Kebudayaan UNAIR, Minggu (7/10).

Dalam acara tersebut, turut diundang narasumber Gunawan A. Sambodo lulusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai pembicara. Dia menjelaskan bahwa selain aksara Pallawa, di Nusantara juga terdapat Aksara Kawi atau Jawa Kuno yang sebagian besar digunakan dalam prasasti masa kerajaan Hindu-Buddha.

“Namun sayangnya, aksara Jawa Kuna sekarang dapat dikatakan sebagai aksara mati karena sudah tidak digunakan lagi,” terangnya dalam pemaparan.

Dalam forum itu juga, Gunawan yang akrab disapa Mbah Gun, menjelaskan mengenai aksara Jawa Kuno seperti bentuk-bentuk aksara Jawa Kuna, cara membacanya, prasasti-prasasti yang ditemukan di masa Mataram Kuna, sampai diskusi-diskusi tentang masyarakat Jawa Kuna.

Andri Setyo Nugroho selaku panitia pelaksana mengatakan, dengan diadakannya kegiatan ini, masyarakat, khususnya generasi muda, bersedia kembali untuk meng-uri-uri (menggali, red) budaya Jawa.

“Dengan adanya acara ini, tentunya dapat menambah minat para remaja terhadap aksara Jawa Kuna. Selain itu, adanya acara ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan kepada mereka tentang sejarah masyarakat Jawa, yang justru jarang diajarkan di bangku sekolah,” terang mahasiswa ilmu sejarah itu.

“Setelah itu, kami berharap para remaja akan melakukan kegiatan-kegiatan positif yang bertujuan untuk melestarian kebudayaan dan benda-benda hasil kebudayaan masa lampau, khususnya di era Hindu-Buddha,” tambahnya.

Setelah di UNAIR, acara Sinjakun akan diselenggarakan secara rutin di beberapa wilayah di Jawa Timur, salah satunya di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, setiap satu kali dalam sebulan. Biasanya dalam pertemuan itu, peserta bisa diajak untuk praktik langsung membaca inskripsi atau prasasti dalam sebuah situs kuno. (*)

Penulis                 : Fariz Ilham Rosyidi

Editor                    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone