Fajri Kurnia Larasanty dab Isnaini Nur Amalina mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga sedang berinteraksi dengan warga untuk mendata makanan desa Sindukarto Kabupaten Wonogiri. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Fajri Kurnia Larasanty dan Isnaini Nur Amalina, Mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) berkesempatan mengikuti riset kuliner yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Direktorat Riset dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Acara riset kuliner itu berlangsung di Dusun Songputri Desa Sindukarto Kecamatan Eromoko Kabupaten Wonogiri pada Jum’at-Minggu (5-7/10).

Acara itu berajuk “Bimbingan Teknis Pendataan Kekayaan Kuliner Tradisional secara Partisipatif untuk Pengembangan Riset Industri Kreatif bidang Kuliner Pada Enam Wilayah Bandung, Wonogiri, Pontianak, Makassar, Palembang, dan Ternate”. Acara ini diadakan dengan tujuan menggali kekayaan kuliner Indonesia dengan cara memantik industri kreatif kuliner agar dapat menggerakkan ekonomi secara produktif dan massal.

Kegiatan penelitian itu berisi tentang serangkaian acara seperti makan bersama rakyat, pemetaan kekayaan kodefikasi data kuliner, sistem mimetik data kuliner, pencatatan kuliner tradisional, serta kunjungan ke pasar tradisional.

Fajri Kurnia Larasanty (kiri) dan Isnaini Nur Amalina (kanan) mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Universitas Airlangga yang mengikuti penelitian kuliner LIPI dan BEKRAF di Kabupaten Wonogiri (Dok. Pribadi)

Fajri Menuturkan, selama kegiatan di Wonogiri dirinya harus tinggal di rumah penduduk (live in). Dia melakukan wawancara setiap proses pengolahan dan penyajian makanan dan mencatat setiap jenis makanan yang ada.

“Dari (kegiatan, Red) itu, saya mengetahui makanan-makanan tradisional seperti Cabuk (makanan yang terbuat dari biji Wijen, Red), Sambel Walang Sangit (sambal belalang, Red), dan Gablok (sejenis lontong santan, Red),” terangnya.

Selepas penelitian, data kuliner sebanyak minimal 3.000 item yang mencakup makanan pokok, lauk-pauk, kue atau jajanan, minuman, dan sambal-sambalan dapat terinput dan menjadi buku eksiklopedia kuliner Indonesia.

“Harapan saya setelah diselenggarakannya acara ini adalah berkembangnya industri kreatif yang mengangkat kuliner tradisional Indonesia dan tidak ada lagi anggapan bahwa kuliner tradisional itu adalah jajanan ndeso. Sehingga, orang tidak malu untuk menyantap atau membelinya,” tutup mahasiswa asal Mojokerto itu. (*)

Penulis : Fariz Ilham Rosyidi

Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone