SESI talkshow bersama para pembicara. (Foto : Galuh Mega Kurnia)
SESI talkshow bersama para pembicara. (Foto : Galuh Mega Kurnia)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebagai bagian dari rangkaian acara Pekan Kesehatan Mental bertajuk Atmalexia (Atma: Jiwa, Lexi: sehat) untuk memperingati World Mental Health Day pada Rabu (10/10), BEM Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR) berkolaborasi dengan Ibunda.id dan Menjadi Manusia mengadakan talkshow pada Sabtu (13/10). Selain talkshow, dilaksanakan pelatihan Psycological First Aid oleh Lisyo Yuwanto, psikolog klinis sekaligus praktisi psychological first aid. Art Exhibition terdiri atas dark room, screen room, wall of thoughts, visual room, dan music theraphy.

Talkshow seputar kesehatan mental tersebut dibagi menjadi empat sesi dengan topik yang berbeda. Sesi pertama dibuka Andrea Gunawan (Independent Image Consultant and Date Coach) dan Linda Setiawati, M.Psi., Psikolog (psikolog klinis personal growth) yang membahas mengenai toxic relationship. Selanjutnya, sesi kedua oleh Adjie Santosoputro (praktisi emotional healing) dan Atika Dian Ariana, S.Psi., M.Sc (psikolog klinis dan kesehatan mental) membahas How to Respect Others in Social Media.

Sesi berikutnya diisi Alvi Syahrin (penulis) dan Linda Setiawati, M.Psi., psikolog (psikolog klinis personal growth) membahas mengenai learn to rest not to quit. Serta, ulasan ditutup dr. Jiemi Ardian (mental health professionals) dan Octian Anugeraha (founder of SINGYOURMIND.com) membahas How Can We Find the One.

Desi Putri Pertiwi atau akrab dipanggil Tiwi, penanggung jawab pelaksana kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa kali ini BEM FPsi UNAIR menggandeng Ibunda.id serta Menjadi Manusia. Menjadi manusia merupakan platform yang concern dengan kesehatan mental.

Atas kolaborasi tersebut, Tiwi percaya apapun yang baik melalui sosial media dan salah satunya adalah perayaan hari kesehatan mental dunia dapat menarik teman-teman semua. Khususnya kaum milenials untuk sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental setiap individu.

”Dalam kegiatan talkshow ini, kami mengajak dan mengedukasi masyarakat untuk menjadi individu yang sadar akan pentingnya kesehatan mental dengan gaya yang lebih kasual dan lebih disukai millenials,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Tiwi, art exhibition merupakan pameran yang menggabungkan unsur seni dan ilmu psikologi. Terdapat beberapa metode psikologi melalui sarana refleksi diri. Misalnya, melalui dark room. Pengunjung dapat mengekspresikan perasaan mereka dengan cara berteriak atau melemparkan cat.

Lalu, Visual room yang dikelilingi kutipan tentang kesehatan mental serta beberapa karya seni visual lainnya. Ada screen room. Ruang dilakukannya pemutaran film pendek tentang kesehatan mental.

Music Theraphy, yaitu ruangan yang memiliki lima kategori suara yang berbeda seperti musik instrumen terapi untuk pengidap schizophrenia. Dan terakhir adalah release room untuk terapi melepas energi negatif dalam diri individu.

Art exhibition dan curhat corner menjadi tempat mengurangi dan melepas masalah yang ada dengan berani bercerita. Lebih kepada, untuk berani bercerita. Sebab, ketika sudah sadar, individu akan lebih bisa menyadari ketika dirinya merasa berbeda atau sedang tidak baik-baik saja sehingga bisa menjaga kesehatan mental sendiri,” katanya.

”Selain itu, wall of thoughts, pengunjung dapat berbagi cerita dengan menuliskannya di dinding tersebut,” imbuhnya.

Tiwi berharap acara tersebut dapat memberikan edukasi kepada teman-teman di luar. Membantu mereka menjaga kesehatan mental diri. Dan, ketika sudah bisa menjaga kesehatan mental diri, mereka bisa menjadi agen untuk mengingatkan atau mengedukasi pentingnya kesehatan mental kepada masyarakat sekitar dengan tidak mengenyampingkan kesehatan diri sendiri. (*)

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone