DARI kiri, Mr Nathan Austin, environment, science, technology and health officer, U.S Embassy Jakarta; Wakil Rektor IV UNAIR Prof. Djoko Santoso dr., Ph.D., Sp.PD.K-GH.FINASIM; Wahyuni Kamah, U.S. department of State Biosecurity Engagement Program; Dekan FKH UNAIR Prof., Dr., Pudji Srianto, drh., M.Kes.; dan Prof. Dr. Fendik Abdul Rantam, DVM dalam sesi foto bersama. (Foto: Feri Fenoria)

Gandeng Lembaga Internasional, UNAIR Adakan One Health Research Translation Workshop

UNAIR NEWS – Antraks dan avian influenza (AI) masih menjadi problem bidang zoonosis di Indonesia yang membutuhkan perhatian serius. Zoonosis merupakan bidang penyakit yang disebabkan organisme infeksius seperti virus, bakteri, dan parasit yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia, termasuk sebaliknya.

Peningkatan kemampuan pencegahan, pendeteksian, dan penanganan oleh institusi terkait terhadap penyakit zoonosis sangat diperlukan. Terutama menyangkut integrasi upaya bersama antara peneliti dan pemerintah dalam menghadapi problem-problem yang muncul di masyarakat.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Universitas Airlangga melalui Airlangga Disease Prevention and Research Center (ADPRC) menggelar One Health Research Translation Workshop pada Rabu (10/10) hingga Kamis (11/10) di Aula Tandjung Adiwinata, Gedung Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR. Workshop itu memberikan perhatian yang lebih terhadap identifikasi peluang untuk menerapkan penelitian pada kebijakan pengendalian penyakit zoonosis.

Menurut Ketua Panitia Prof. Dr. Fendik Abdul Rantam, DVM., hasil workshop tersebut diharapkan bisa diterapkan pada institusi maupun lembaga seluruh peserta. Mengingat, sejumlah peserta dalam workshop itu berasal dari dinas-dinas pemerintah.

Workshop tersebut, lanjut Prof. Fendik, merupakan buah kerja sama ADPRC dengan Indonesia One Health University Network (Indohun). Mengingat ADPRC merupakan One Health Collaboration Center (OHCC). Termasuk hasil kerja sama dengan Gryphon Scientific; Colege of Veterinary Medicine, University of Minnesota; BEP, Biosecurity Engagement Program Amerika Serikat; dan International Federation of Biosafety Associations (IFBA).

”Workshop ini berfokus pada pengendalian penyakit antraks dan avian influenza. Mengingat, kedua penyakit masih menjadi problem yang kita hadapi,” ujarnya.

Antraks dan Avian Influenza (AI)

Prof. Fendik menyampaikan bahwa antraks di Indonesia sudah endemik lama. Khususnya sejak muncul kasus di Purwokerto, Gorontalo, dan Jawa Tengah. Antraks, lanjut dia, merupakan penyakit yang menyerang pada sapi, tapi bisa menular kepada manusia.

Kuman pada antraks sangat sulit diberantas. Penyebabnya, kuman itu membentuk spora, yaitu satu atau beberapa sel yang terbungkus oleh lapisan pelindung atau bulatan. Seiring berjalannya waktu, spora itu bisa membuka dan dapat menyerang manusia.

”Kuman (bakteri, Red) itu berlindung di dalam spora itu,” sebutnya.

”Sampai 16 tahun (spora, Red). Pada babi di Papua itu baru muncul,” imbuhnya.

Menurut Prof. Fendik, kini terjadi perbedaan terkait dengan kebijakan yang berpengaruh pada pengendalian persebaran penyakit tersebut. Bukan berarti kebijakan tersebut berpengaruh langsung, bernilai kurang.

Namun, di sektor lain, potensi persebaran penyakit bisa tinggi. Misalnya, soal kebijakan pasar atau ekonomi. Lebih tepatnya soal pergerakan, jual beli, sapi lintas daerah dan kawasan.

”Itu (pergerakan jual beli sapi) sulitnya mengontrol. Makanya, antara peraturan dan perdagangan kan sulit,” ungkapnya. ”Jadi, di satu sisi, kalau ditutup, nggak jalan perdagangan. Di sisi lain, penyakit bisa tersebar,” imbuhnya.

Avian Influenza (AI) pun demikian. Prof. Fendik menjelaskan, AI menular melalui udara, juga bisa melalui kontak langsung. Karena itu, AI menjadi penyakit strategis yang memiliki dampak ekonomi yang cukup besar. Termasuk untuk keamanan negara.

”Kalau ini (penyakit zoonosis) benar-benar tidak bebas, bagaimana orang mau datang ke sini (Indonesia),” katanya.

Karena itu, tutur Prof Fendik, penting melakukan pendekatan penanganan itu melalui riset. Selanjutnya, riset tersebut digunakan untuk policy, kebijakan. Pada dasarnya, menurut dia, bagian mana yang lebih dulu, antara policy dan riset, tidak menjadi patokan utama. Sebab, keduanya sangat berpengaruh.

”Kalau saya, dua komunikasi yang balance (seimbang), dua arah. Tidak salah satu. Agar kita bisa memecahkan masalah,” ucapnya.

”Informasi riset dipakai policy. Policy juga menentukan bagaimana riset yang harus dilakukan. Ya kan,” tambahnya.

Prof. Fendik melanjutkan, jika tidak dengan komunikasi dua arah, diperlukan strategi komprehensif. Hal itu menjadi sangat penting agar tujuan atau hasil itu bisa tercapai.

Sementara itu, Wakil Rektor IV UNAIR Prof. Djoko Santoso dr., Ph.D., Sp.PD.K-GH.FINASIM., sangat mengapresiasi pergelaran workshop itu. Keberadaan UNAIR sebagai bagian dari pengabdian harus terasa. Baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Khususnya melalui kegiatan penelitian dan riset terhadap kasus-kasus yang muncul di masyarakat.

”Pendidikan dan penelitian adalah bagian yang tidak boleh dipisahkan,” ujarnya.

”Workshop ini menjadi sangat penting sebagai media diskusi inovasi terbaru. Tepatnya untuk membentuk gaya hidup masyarakat secara baik. Sebab, gaya hidup sangat dipengaruhi oleh upaya pengendalian atas temuan penelitian yang merugikan,” imbuhnya. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria