PROF. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D. (Warek III) ketika sambutan. (Foto : Galuh Mega Kurnia)
PROF. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D. (Warek III) ketika sambutan. (Foto : Galuh Mega Kurnia)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebagai fakultas termuda di Universitas Airlangga (UNAIR), Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) terus berupaya untuk meningkatkan kualitas dosen, staf, maupun mahasiswanya. Salah satunya upaya tersebut terwujud dalam kegiatan International Conference of Fisheries and Marine Science (InCoFiMS) untuk kali pertama pada Sabtu (6/10) dengan tema ”Fisheries and Marine in Supporting Sustainable Development Goals (SDGs) achievement.

Dihadirkan dalam konferensi tersebut tiga keynote speakers yang berasal dari tiga negara di Asia. Yakni, Prof. Kazuhiko Koike (Graduate School of Biosphere Science Hiroshima University, Japan); Prof. Hyun-Woo Kim (Departement of Marine Biology Pukyong National University, South Korea); dan Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si (General Director of Aquaculture Ministry of Marine Affairs and Fisheries Republic of Indonesia).

Ketua Panitia Dr. Woro Hastuti Satyantini, Ir., M.Si. dalam conference tersebut menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut dilatarbelakangi oleh perkembangan perikanan terbarukan. Di antaranya, isu terkait global changes, climate changes, serta mandat dari menteri kelautan bahwa Indonesia adalah negara poros maritim dunia dan harus kita jaga.

Salah satu upaya mewujudkan itu adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Khususnya sivitas akademika UNAIR melalui kegiatan konferensi internasional terkait perikanan dan kelautan tersebut.

”Indonesia kaya akan sumber hayati kelautannya sehingga harus kita jaga. Bagaimana kita menjaganya? Salah satunya adalah melalui penangkapan yang harus ada rambu-rambunya. Untuk menunjang kebutuhan protein, kita tidak hanya menangkap saja, tapi harus ada kegiatan aquaculture,” ujarnya.

”Selain budidaya, kita harus memperhatikan lingkungan. Sebab, tidak tertutup kemungkinan dari kegiatan aquaculture tersebut kita membuang limbah. Jadi, kita harus mengelola limbah tersebut, kita manage agar tidak merusak lingkungan,” imbuh Dr. Woro.

Sementara itu, Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D. selaku wakil rektor III UNAIR dalam sambutannya menyampaikan bahwa SDGs (Sustainable Development Goals) sangat penting untuk negara Indonesia. Sebab, Indonesia adalah satu di antara negara-negara yang berkomitmen untuk menjalankan SDGs.

”Perikanan dan Kelautan adalah sektor yang tepat untuk mencapai SDGs mengingat 60 persen bagian dari Indonesia adalah air (laut, Red). Sejak Indonesia dideklarasikan sebagai poros maritim dunia. Kami berharap, conference ini akan dapat meningkatkan kualitas performance kita, menjaga kualitas lingkungan dan sumber daya maritim kita, mengembangkan sosio-ekonomi masyarakat kita, serta menemukan potensi baru dari bidang perikanan dan kelautan yang mana penting untuk kehidupan manusia,” jelas Prof. Amin.

Menambahkan pernyataan tersebut, menurut Dr. Woro, selain sebagai wadah pertukaran informasi dan teknologi bidang perikanan, konferensi Internasional tersebut sekaligus menjadi upaya untuk membantu  dosen maupun mahasiswa UNAIR. Khususnya FPK dalam pembuatan artikel ilmiah pada prosiding internasional yang terindeks basis data internasional (Web of Science, Scopus). Sebab, dalam konferensi itu, panitia juga menggandeng prosiding dari publisher yang terindeks scopus.

”Saya berharap, konferensi dapat diagendakan secara berkelanjutan ke depan dan dilakukan perbaikan-perbaikan dari hasil evaluasi kegiatan hari ini,” pungkas Dr. Woro. (*)

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone