airlangga donggala
DISINILAH di pelabuhan Donggala, kapal RST Ksatria Airlangga merapat. Selain itu juga akan mendirikan tenda sebagai RS lapangan untuk melayani pasien korban gempa dan tsunami di Kab. Donggala, Sulteng. Foto diambil Jumat siang. (Foto: Gandhi Wasono/Nova)
ShareShare on Facebook99Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Rumah Sakit Terapung “Ksatria Airlangga” (RST-KA) berhasil merapat dengan selamat di pelabuhan Pantoloan, Palu, selepas Subuh hari Jumat (5/10) pukul 04.35 WITA, setelah melanjutkan pelayaran dari Makasar, Rabu (3/10) siang pukul 11.00 WITA.

Namun karena disana sudah ada RST KRI dr. Soeharso yang sekaligus sebagai rumah sakit rujukan di sekitar Kota Palu, atas saran dari Sekjen IDI Pusat dr. M. Adib Kumaidi, Sp.OT., maka RST-KA digeser untuk operasional di Pelabuhan Donggala, karena korban gempa dan tsunami disana belum banyak tersentuh pelayanan medis secara maksimal.

Akhirnya kapal Phinisi sepanjang 27 meter dan lebar 7,2 meter yang disediakan oleh Ikatan Alumni Universitas Airlangga ini bergeser meninggalkan Palu, dan berhasil merapat di pelabuhan Donggala, 90 menit kemudian, yakni pukul 06:08. Direktur RST-KA Agus Harianto, dr., Sp.B dan Kapten Kapal RST-KA, Almudatsir, membenarkan informasi tersebut.

airlangga donggala
KAPAL RST Ksatria Airlangga, Jum’at Subuh tadi berhasil sandar di Pelabuhan Donggala. Siap melayani korban gempa dan tsunami di daerah tersebut. (Foto: dr. Agus Harianto)

”Kapal merapat di pelabuhan Donggala, kala pagi itu dermaga belum ada aktivitas,” tulis dr. Agus Harianto di WAG Perduli Palu.

Kemudian dalam diskusinya dengan petugas kesyahbandaran Pelabuhan Donggala, dr. Agus Harianto menjelaskan, kantor pelabuhan Donggala yang bangunannya masih berdiri tegak dipersilahkan dijadikan tempat pelayanan kesehatan RST-KA di darat (sebagai RS lapangan).

Tetapi Jumat tadi pagi dr. Agus mengharapkan ada bantuan dua buah tenda dari BNPB (Badan nasional Penanggulangan Bencana), 30 velbed, dan satu atau dua buah ambulan. Kemudian dari RS Karsa Husada, Batu Malang, juga menyatakan siap membantu RST-KA. Namun sebelas tenaga medis ini baru akan berangkat Senin (8/10).

Di Donggala, RST-KA juga akan saling koordinasi dengan RSUD Kabelota yang tidak jauh dari pelabuhan. Di Donggala juga sudah masuk bantuan tenaga medis RS dr. Karyadi Semarang. Bahkan diantara titik-titik pelayanan kesehatan korban bencana itu akan saling berkoordinasi, khususnya mengenai suplay personil dan logistik medis.

Kepala Satgas RST KRI dr. Soedarso, IDGN Nalendra D.I., dr., SpB., SpB-TKV(K), yang juga Direktur RSAL Dr. Ramelan Surabaya, menjelaskan bahwa sebagai RS rujukan, RST KRI dr. Soedarso selain didukung oleh tim medis dari Surabaya (RSU Dr. Soetomo, RSAL Dr. Ramelan, Diskes Koarmada II, Diskes/Dispen/Yonmarhanlan Lantamal V, Rumkital Dr. Oepomo, dan Rumkitmar Gunungsari) juga mendapat support tim dari RS Ortopedi Solo dan RS Hasan Sadikin Bandung.

Tenaga dokter ahli yang memperkuat RS rujukan KRI dr Soedarso boleh dikatakan komplet. Ada dokter spesialis (ahli) bedah umum, konsultan digestif, ahli bedah TKV (Torak Kardio Vaskuler), ahli bedah tulang, ahli anaestesi, ahli syaraf, bahkan ahli bedah plastik, serta puluhan tenaga paramedis lainnya.

airlangga donggala
SEORANG pasien korban gempa dan tsunami di Palu, Jumat (5/10) sore diangkat bersama-sama oleh petugas/relawan ke atas KRI Dr. Soeharso sebagai RS rujukan untuk dilakukan tindakan lanjut. (Foto: Istimewa).

Dr. Nalendra juga menjelas, pada Kamis (4/10) malam berhasil mengoperasi 12 kasus dan satu SC (Sectio Caesarea) yaitu operasi persalinan. Mulai Jumat ini koordinasi antar berbagai pusat pelayanan media dengan tim krisis bencana dari Kemenkes juga ditingkatkan untuk berbagi kekuatan dalam membantu Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah.

”Kita targetkan dalam dua minggu penangan bantuan ini harus selesai, dan fungsi fasilitas kesehatan daerah juga diharapkan sudah jalan. Karena itu sambil mencari korban yang belum tersentuh penanganan kita bantu Puskesmas-Puskesmas untuk bisa berfungsi normal,” kata dr. Nalendra.

Pasien yang diterima dan harus dirawat inap sampai Jumat (5/10) pagi tadi sebanyak 14 orang, termasuk bayi yang baru dilahirkan. Namun siangnya seorang pasien sudah bisa keluar rumah sakit.

Sedangkan tindakan operasi terhadap pasien yang terdampak bencana antara lain, operasi ortopedi dengan tambahan penyangga (tibia), operasi dengan ORIF (Open Reduksi Interna Fiksasi), operasi dengan laparatomi, reposisi dislokasi bahu, operasi sectio, operasi debridement yaitu menghilangkan jaringan yang mati dan membersihkan luka dari kotoran, operasi patah tulang dengan fiksasi. (*)

Penulis: Bambang Bes

ShareShare on Facebook99Tweet about this on Twitter0Email this to someone