Rektor Hingga Mahasiswa Kompak Bantu Korban Gempa dan Tsunami Palu-Donggala

UNAIR NEWS – Gempa dan Tsunami yang terjadi di Palu – Donggala telah menggerakan seluruh elemen bangsa dan masyarakat dunia. Tak terkecuali jajaran civitas Universitas Airlangga. Bahkan dengan solidnya, seluruh jajaran civitas mulai dari rektor hingga mahasiswa UNAIR terus melakukan berbagai aksi nyata untuk meringankan beban korban gempa tsunami Palu-Donggala.

Tercatat, sehari setelah gempa terjadi, tim Rumah Sakit Terapung UNAIR langsung bergerak dari Lombok menuju Palu-Donggala. Bahkan, tak berselang lama, dari mahasiswa yang terdiri dari BEM, Mahagana, dan beberapa UKM juga bersiap melakukan persiapan untuk menuju lokasi bencana.

Tidak hanya itu, UNAIR juga menyambut dengan terbuka perihal himbauan Rektor Universitas Tadulako (Untad), Palu – Sulawesi Tengah dalam Majelis Rektor PTN se-Indonesia (MRPTN) dan Forum Rektor Indonesia (FRI), terakait permohonan untuk menerima mahasiswa Untad belajar sementara di berbagai kampus yang ada di Indonesia.

“Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, tentu UNAIR menyambut baik dan dengan sangat terbuka siap menerima mahasiswa Universitas Tadulako yang ingin belajar sementara di UNAIR, hingga nanti konidisi kampus Universitas Tadulako bisa digunakan kembali untuk belajar,” tandasanya.

Sementara itu, menambahkan pernyataan rektor, Ketua BEM UNAIR Galuh Teja Sakti kepada UNAIR NEWS (5/10) mengatakan, upaya menerima mahasiswa Untad untuk sementara studi di UNAIR merupakan keputusan yang sangat mengesankan.

“Kita berani, karena kita sangat mengedepankan prinsip kemanusiaan, agar saudara kita tetap bisa mengenyam pendidikan hingga kondisi di Palu-Donggala pulih seperti semula,” ungkapnya.

Mengenai teknis, Teja menjelaskan bahwa mahasiswa yang bersangkutan bisa menghubungi pihak Direktorat Pendidikan dengan menunjukan kartu pengenal yang sah dari Universitas Tadulako. Untuk selanjutnya, yang bersangkutan akan diarahkan ke dekan fakultas untuk pemilihan minat dan prodi sesuai prodi yang di ambil ketika menjadi mahasiswa Untad.

“Kita adalah keluarga, kita satu saudara, kita satu negara, mari sisihkan segala kepentingan yang ada, mari bantu sukseskan misi kemanusiaan ini, mereka berteriak kepada kami, karena mereka tahu, bahwa kita adalah insan akademis, pencipta dan pengabdi yang siap untuk terjun apapun keadaannya apapun halangannya,” pungkas Teja.

Penulis: Nuri Hermawan