ksatria airlangga
PARA anak buah kapal RST ‘Ksatria Airlangga’, termasuk Kapten Kapal Almudatsir (tengah baju putih) bersama Direktur RST-KA dr. Agus Harianto (kaos hitam, paling kanan) dan tenaga medis lainnya sebelum lepas dermaga di Makasar, Rabu (3/10) siang. (Foto: Gandhi Wasono M)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kesyahbandaran pelabuhan Makasar akhirnya mengijinkan Kapal Rumah Sakit Terapung (RST) “Ksatria Airlangga” (RST-KA) meneruskan perjalanan layarnya menuju Palu dan Donggala, kawasan bencana di Sulawesi Tengah. Dalam informasi melalui WhatsApp kepada unair.news, Kapten Kapal RST-KA, Almudatsir, menjelaskan tepat hari Rabu (3/10) pukul 11.00 Wita kapal sepanjang 27 meter dan lebar 7,2 meter itu bergerak meninggalkan dermaga.

Seperti diketahui, sejak berangkat dari pelabuhan Alor hari Minggu (30/9) siang, kapal milik Alumni Universitas Airlangga ini lego jangkar di pelabuhan Galesong, Sulawesi Selatan, tempat kapal ini dibuat, pada Senin (1/10) pukul 22.00. Atau delapan jam lebih cepat dari yang dijadwalkan.

Para pimpinan dan stakeholder RST-KA berharap secepatnya kapal bisa melanjutkan ke Palu, karena kehadirannya sangat dibutuhkan. Di Makasar, kapal menambah bahan bakar, logistik ABK, dan tambahan barang kebutuhan bakti kemanusiaan seperti obat-obatan, kain pembalut, kantong mayat, dsb, dijadwalkan Selasa (2/10) pukul 08.00 berangkat menuju Palu.

Namun, Mudatsir mengabarkan, sesuai laporan BMKG, Syahbandar Makassar memberikan status peringatan untuk berlayar. Ini karena cuaca yang tidak bersahabat, gelombang tinggi disertai angin kencang. Peringatan itu karena kapal akan mengarungi Selat Makasar bagian selatan yang gelombangnya relatif besar. Jadi RST-KA baru diijinkan berangkat Rabu (3/10) siang, dalam waktu sekitar 45 jam sampai di Palu.

”Dengan penuh semangat tim RST-KA bertolak menuju Palu. Mohon maaf atas memanjangnya waktu singgah,” tulis dr. Agus Harianto, SpB., Direktur RST-KA dalam WAG Perduli Palu-Donggala.

Dari Makasar, RST-KA juga membawa bantuan dari berbagai pihak berupa barang non-medis serta beberapa tenaga medis. Sedang obat-obatan yang diperlukan dan dipenuhi di Makasar antara lain Cefazolin 20 dus (100 vial), Surflo nomor 18 (3 box/100), Surflo No-22 (2 box), Infus set pediatri 100 set, Infus set dewasa 100 set, PZ 500 cc 10 box isi 20, Aqua pro inj 200 flash, RL 10 box isi 20, D5 sebanyak 5 box isi 20, Handscoen Nomor 8 (2 box), Nomor 7,5 (3 box), Handscoen Nomor 7 (2 box), Handscoen Nomor 6,5 (4 box), Handscoen Nomor 6 (3 box), Transufix 75 pcs, Fentanyl 10 box (@5 ampul), Metoclopramid 2 box (@10 ampul), dan Tramadol 10 box (@10 ampul).

”Semangat pagi semua kru RST, semoga Allah selalu memberikan kekuatan, keselamatan dan kemudahan kepada kapal kita dengan seluruh isinya untuk menunaikan misi kemanusiaan yang mulia ini,” kata Dr. Pudjo Hartono, dr., SpOG, Ketua Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

ksatria airlangga
ANAK buah kapal dan bantuan tenaga medis memasukkan barang medis dan non-medis ke kapal RST-KA di sebuah dermaga di Makasar, Selasa (2/10). (Foto: Dok RST-KA)

BANTUAN JAWA TIMUR

Provinsi Jawa Timur selain mengirimkan RS Terapung “Ksatria Airlangga” juga mengirim bantuan baik berupa barang dan tenaga medis ke kawasan bencana. Namun pengiriman obat-obatan lanjutan, mengutip informasi dari Posko Kesehatan di Palu, akan disesuaikan dengan hasil pemetaan di lapangan.

Seperti yang didata Dinas Kesehatan Provinsi Jatim, selain tim dokter dan paramedis RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR serta RST-KA, beberapa rumah sakit di Jatim membantu mengirimkan tim medisnya. Misalnya BPBD, IDI Surabaya, dan Dinas Sosial Jatim yang berangkat Sabtu (29/9).

Menyusul sepuluh tenaga IDI Kota Surabaya, berangkat Minggu (3/10). Kemudian dari RS dr. Soewandi Surabaya, RSUD Sidoarjo, RSU Dr. Soebandi Jember, RS Dr. Saiful Anwar Malang, RS dr. Soedono Madiun, dsb. Karena pelayanan kesehatan ini diperkirakan lama, maka Dinas Provinsi akan mengatur kelangsungannya.

Dalam koordinasi yang dipimpin dr. Budiman dari Kemenkes, diputuskan dengan sudah menyalanya listrik menggunakan Genset, maka beberapa fasilitas penunjang mulai difungsikan. Misalnya membuka lima kamar operasi, Puskesmas, dan laboratorium darurat agar lebih banyak pasien bisa ditangani. Sesuai assesment, yang banyak ditangani adalah kasus ortopedi.

Namun kendala kurang tenaga analis lab dan tenaga terampil untuk sterilisasi alat medis, diharapkan bisa dipenuhi dengan bantuan tenaga yang akan dikirim ke Sulteng dan memperhatikan kebutuhan. Misalnya tenaga analis lab, radiografer, penata anastesi, apoteker, dan fisioterapi.

”Kepada para donatur, mungkin bisa mendonasikan bantuan dananya kepada lembaga-lembaga yang amanah untuk dapat didayagunakan membeli alat kesehatan habis pakai, untuk linen operasi, pen untuk operasi-operasi tulang, dan sebagainya,” kata dr. Budiman seperti dikutip Didiek Rachmadi di GWA Perduli Palu. (*)

Penulis: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone