Lestarikan Permainan Tradisional, Ghardana Dekan Cup FIB Lombakan Gobak Sodor

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILMU sejarah sebagai tim penerobos berusaha meloloskan diri dari hadangan tim studi kejepangan sebagai tim penjaga. (Foto: Panitia)
ILMU sejarah sebagai tim penerobos berusaha meloloskan diri dari hadangan tim studi kejepangan sebagai tim penjaga. (Foto: Panitia)

UNAIR NEWS – Ghardana Dekan Cup 2018 merupakan wadah untuk menyelenggarakan kegiatan rutin dari BEM FIB setiap tahunnya. Kegiatan itu diadakan sebagai wadah pengaktualisasian minat dan bakat mahasiswa  Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga.

Tahun ini Ghardana Dekan Cup mengusung tema ”Nirwana” atau Unite The Difference With Nirwana, yang memadukan konsep permainan tradisional dengan modern. Tujuannya adalah untuk menerima budaya modern dan menjaga kelestarian budaya tradisional.

Dalam merealisasikan hal tersebut, panitia mengadakan perlombaan gobak sodor di FIB pada Jum’at (21/9). Menurut Ketua Panitia Izzudin Ma’ruf, dipilihnya permainan tersebut karena gobak sodor adalah permainan tradisonal yang cukup populer di masyarakat.

”Hampir di semua daerah di Indonesia memiliki permainan tradisional sejenis gobak sodor,” terangnya.

”Selain itu, filosofi dari permainan gobak sodor itu menarik. Sebab, permainannya untuk menerobos dan mempertahankan benteng dari (serangan, Red) lawan,” tambahnya.

Cara Bermain

Permainan tradisional itu terdiri atas dua nomor, yakni putra dan putri. Dilaksanakan dua tim yang beranggota lima orang. Tim itu berasal dari setiap jurusan, yaitu Ilmu Sejarah, Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, serta Studi Kejepangan.

Dalam permainan tersebut, terdapat dua tim penjaga dan tim penerobos. Tim penjaga bertugas menjaga pos serta menghadang tim penerobos ke pos selanjutnya. Yakni, dengan memperhatikan batasan gerak pada garis horizontal (tali) yang dibuat panitia.

Sementara itu, bagi tim penerobos, tugas mereka adalah untuk meloloskan diri dari tim penjaga dan mengambil bendera jurusan yang masing-masing berada di sisi kanan dan sisi kiri tim penjaga. Tim penerobos akan dinyatakan gugur jika tim penjaga menarik udeng yang terikat pada lengan mereka

”Perhitungan pemenang dihitung dari banyaknya jumlah bendera yang berhasil tim penerobos kumpulkan hingga di pos terakhir,” terang mahasiswa studi kejepangan itu.

Adapun hasil dalam perlombaan tradisional tersebut, untuk putra dimenangkan tim dari bahasa dan sastra Indonesia sebagai juara I, ilmu sejarah juara II, serta studi kejepangan juara III. Sementara itu, untuk putri, juara I diperoleh studi kejepangan, juara II diperoleh ilmu sejarah, serta juara III diperoleh bahasa dan sastra Indonesia.

Harapan setelah perlombaan itu, menurut Izzudin, adalah adanya keinginan untuk menyatukan mahasiswa dari keempat jurusan dalam rumah Fakultas Ilmu Budaya. ”Sebab, di kompetisi ini euforianya tidak hanya bangga jurusan, tapi juga bangga FIB, dengan paduan seni (permainan) tradisional,” ujarnya. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifa’I

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu