AMR
Prof. Kuntaman saat memberikan keterangan di depan awak media. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – “Peningkatan AMR sudah mencapai fase kritikal. Masyarakat dihimbau untuk tidak membeli antibiotika yang dijual secara bebas tanpa resep. Konsumsi antibiotik harus terkontrol untuk menekan resistensi antimikroba (AMR),” papar Prof., Dr.,dr., Kuntaman MS. Sp. MK(K).

Profesor dokter spesialis Mikrobilogi Klinik itu menyatakan bahwa resistensi antimikroba dapat mempercepat kematian, sebab pasien tidak efektif lagi menggunakan antibiotik untuk penyembuhan penyakitnya. Dekade ini, peningkatan AMR begitu pesat, sehingga menjadi ancaman bagi dunia kedokteran. Data menunjukkan pada tahun 2000 di RSUD Dr. Soetomo AMR mecapai 9 %, kemudian pada tahun 2005 meningkat hingga 20 %.

Pada tahun 2013 ranah penelitian diperluas ke 3 kota besar yakni Surabaya, Malang, dan Semarang. Terbukti ada peningkatan angka AMR menjadi 40 %. Lalu pada tahun 2016 penelitian diperluas lagi secara nasional, hasilnya begitu memprihatinkan. AMR mengalami peningkatan sebesar 20 % menjadi 60 %.

Kondisi itu mendorong Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) menggelar konferensi pers pada Jum’at, (21/09) di Ruang Pertemuan Instalasi Mikrobiologi Klinik, Gedung Pusat Diagnostik, Lantai 5 RSUD Dr. Soetomo. Acara diwakili oleh 3 dokter spesialis Mikrobiologi Klinik dari FK UNAIR sebagai pembicara, yakni Prof., Dr.,dr., Kuntaman MS. Sp. MK(K), Dr. Eko Budi Koendori SpMK(K), dan Prof. dr., Maria Lucia Inge Lusida M.Kes.,Ph.D.

Konferensi pers secara general membahas tentang peningkatan AMR yang diwujudkan melalui penyelenggaraan forum KONAS PAMKI 10. KONAS PAMKI adalah pertemuan tiga tahunan yang dilaksanakan di berbagai kota berbeda. Tahun 2018 KONAS PAMKI 10 dilakukan di Surabaya. KONAS PAMKI 10 mengambil topik “Update on Prevention and Control of Infectious Disease in the era of Antimicrobal Resistance”. Pada forum ini, Prof. Kuntaman berharap pemecahan masalah penanganan penyakit infeksi, khususnya yang disebabkan oleh mikroba resisten dapat segera diatasi.

Tahun ini, lanjutnya, KONAS PAMKI 10 akan digelar serentak bersama 1st International Scientific Meeting on Clinical Microbiology and Infectious Diseases dan 12 th National Symposium of Indonesia Antimicrobal Resisten Watch pada (13-14/10). Selain itu, beberapa workshop akan digelar di FK UNAIR pada (11-12/10).

“Tidak hanya para microbiologist, pharmacist, clinicist, dan tim investigasi kontrol saja yang mengatasi permasalahan ini, masyarakat harus turut berkolaborasi” pungkasnya

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone