Ilustrasi: Istimewa
Ilustrasi: Istimewa
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

AKU baru saja menutup pintu pagar ketika sebuah sepeda tua melintas di jalan depan rumah. Melaju pelan, membunyikan bel. Lelaki itu tersenyum, mengangguk samar. Aku membalasnya. Semua orang mengenalnya, Pak Eko si pendongeng. Sudah hampir sepuluh tahun ini, ia menghidupkan dunia anak-anak Kampung Turi. Meski terhitung paruh baya, lelaki itu masih kuat mengayuh sepeda dari satu desa ke desa lainnya. Menjajakan hiburan dengan cerita-cerita pembuai imajinasi.

Lelaki itu pandai mencuri hati. Tak butuh waktu lama, anak-anak desa sudah akrab bergaul dengannya. Tiap Sabtu siang atau sore, bocah-bocah itu akan bergerombol di pos ronda. Menunggu detik-detik Pak Eko datang menuntun sepeda kumbang, dengan sekeranjang buku yang dapat dipinjam bergantian. Sebab, tak ada perpustakaan. Hadirnya Pak Eko seperti oase di tengah kerontangnya pengetahuan dan akses informasi di desa kami. Sesekali lelaki itu juga menjadi guru les dadakan. Pos ronda pun menjelma jadi taman belajar tiap petang menjelang.

Anehnya, ia tak pernah mau dibayar. Selama hampir sepuluh tahun itu pula, aku bertanya-tanya. Dari mana ia dapat uang? Mungkinkah dia konglomerat yang tengah mendedikasikan diri? Ah, mungkin pula ia masih bekerja di usia senjanya. Tak pernah ada yang mengetahuinya. Aku tak pernah bertanya dari mana orang tua itu berasal. Aku sering mendengarnya bercerita, tapi lelaki itu tak pernah menceritakan banyak hal tentang dirinya. Yang pasti, semenjak kedatangannya sepuluh tahun lalu, Pak Eko menjadi figur idola baru. Nyaring bel sepedanya selalu ditunggu. Sayangnya, lelaki itu hanya datang tiap Sabtu.

***

Sabtu itu, Pak Eko datang lagi. Dari jauh, anak-anak bersorak, berlari menyambut lelaki tua bertopi fedora yang tampak payah mengayuh sepeda.

”Pak Eko datang!”

Seperti dikomando, bocah-bocah itu berjajar menyanyikan lagu selamat datang sambil bertepuk tangan. Lelaki itu melambaikan tangan dari kejauhan. Bunyi kring bel sepedanya disambut riuh anak-anak yang tak sabar mendengarnya merajut kisah fiksi.

”Halo, anak-anak!” serunya tatkala melewati barisan.

Anak-anak itu bergegas mengikuti. Terus membuntuti hingga lelaki tua itu menepikan sepedanya di pos ronda. Seloroh anak-anak membuatnya terkekeh. Ia mengisyaratkan agar anak-anak itu duduk rapi membentuk beberapa sab barisan. Tak perlu dua kali perintah, mereka segera menertibkan diri.

”Apa kabar hari ini?” di balik guratan usia di wajahnya, senyum lelaki itu tak pernah berubah, selalu semringah.

”Luar biasa!” anak-anak menyahut kompak.

”Siap mendengar Pak Eko bercerita?”

”Siaaap!”

Semua tampak tak sabar mendengar Pak Eko mulai mendongeng. Lelaki itu menarik napas panjang, kemudian berdeham.

”Hari ini, Pak Eko akan bercerita tentang Kisah Si Badut dan Penyihir.”

Semua bersiap, mencari posisi duduk yang paling nyaman. Lelaki tua itu mengambil atribut dongeng berupa boneka-boneka tangan.

”Di suatu desa, hiduplah seorang badut yang selalu berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Setiap hari, ia berkeliling untuk menyebarkan kebahagiaan. Ia selalu berusaha membuat orang-orang tertawa. Mengusir kesedihan dan duka cita. Si badut sangat ramah dan baik hati. Karena kemurahan hatinya, semua orang menyukainya.”

Lelaki itu sejenak berhenti. Kemudian melanjutkan ceritanya lagi.

”Akan tetapi, ada peyihir jahat yang rupanya tidak suka melihat orang-orang bahagia sebab ulah si badut. Ia pun menyebarkan berita bohong tentang si badut. Dikatakannya kepada warga di penjuru desa, bahwa badut itu suka mencuri. Bukan hanya mencuri uang atau benda berharga, melainkan juga menculik anak-anak!”

”Mengapa badut itu menculik anak-anak?” sahut seorang anak yang duduk di barisan depan.

Pak Eko tersenyum.

”Sebenarnya badut tidak pernah mencuri atau menculik anak-anak. Penyihir itu berbohong. Ia berharap dengan begitu, orang-orang akan menjauhi si badut atau bahkan mengusirnya. Namun penyihir itu gagal melakukan aksinya. Orang-orang tidak percaya, dan tetap berkawan baik dengan si badut,” sambungnya.

”Si penyihir tidak kehabisan akal. Ia pun menjebak si badut. Ia merubah dirinya menyerupai badut, lalu mengajak anak-anak berjalan mengikutinya. Anak-anak tidak tahu jika itu adalah badut palsu. Mereka pun terus berjalan hingga menyeberangi sungai. Karena alirannya yang deras dan cukup dalam, anak-anak itu kesulitan menyeberang. Mereka berteriak minta tolong, namun penyihir itu hanya tertawa. Si badut yang mendengar teriakan anak-anak itu pun berlari dan mencoba menolong. Seketika penyihir mengubah dirinya ke wujud asli. Ia memberikan kabar bahwa si badut telah mencelakai anak-anak penduduk. Mendengar hal itu, warga berduyun-duyun pergi ke sungai. Dilihatnya si badut tengah berenang menghampiri anak-anak yang nyaris tenggelam. Beberapa di di antaranya hanyut tak terselamatkan. Penduduk pun marah. Mereka menyangka si badutlah yang melakukan semuanya. Badut itu pun diarak beramai-ramai, dilempari kotoran dan batu bahkan nyaris dibakar hidup-hidup.”

”Kasihan sekali badut itu.”

”Untung saja ada seorang anak bernama Jojo yang menyelamatkan si badut dari amukan warga. Dia menceritakan bahwa sejak pagi badut itu bermain bersamanya. Jadi tidak mungkin anak-anak itu pergi ke sungai karena mengikuti si badut. Semua terhenyak, mereka terkejut mendengar pengakuan Jojo.”

”Si penyihir jahat terus menghasut warga. Ia bersikeras bahwa si badut harus diusir dari desa itu. Warga pun menyetujuinya. Mereka menganggap Jojo hanya berimajinasi. Si badut pun akhirnya pergi dan tidak boleh kembali lagi.”

”Sudah selesai?”

Lelaki tua itu menggeleng. Ia tersenyum melihat wajah-wajah kecil yang penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

”Semenjak badut pergi, anak-anak menjadi murung. Derai tawa tak terdengar lagi. Banyak orang-orang mengalami kesedihan. Desa menjadi suram dan muram. Hal itulah yang diinginkan si penyihir. Dengan begitu, orang-orang akan datang padanya meminta ramuan kebahagiaan. Namun, khasiat ramuan itu tidak pernah bertahan lama. Tak lama kemudian, warga desa kembali diselimuti duka. Kepala desa pun bingung melihat kondisi warganya. Ia teringat akan sosok badut yang dulu pernah diusir. Ia percaya bahwa badut itu bisa mengembalikan keceriaan seperti semula. Dicarinya badut itu ke mana-mana, namun tak ada yang menjumpainya.”

”Ke mana perginya si badut?”

”Badut itu jatuh sakit. Ia sedih mengingat anak-anak yang tak bisa diselamatkannya di sungai. Meskipun itu bukan salahnya, tetapi si badut berduka karena kehilangan kawan-kawan kecilnya. Ia tak lagi tampak bahagia. Badut itu bersembunyi di lereng gunung. Dia hidup bersama peri hutan.”

Lelaki itu berhenti sejenak. Usia yang tak lagi muda membuat napasnya mudah tersengal.

”Suatu hari, ada dua orang pencari kayu di hutan. Mereka berbincang tentang desa sebelah yang mengkhawatirkan. Anak-anak sering menangis, banyak orang jatuh sakit. Si badut yang tengah duduk di atas pohon tanpa sengaja mendengarkan percakapan dua orang pencari kayu. Ia pun bergegas menemui peri hutan untuk mengantarnya pergi.”

”Apa badut itu disambut penududuk kembali?”

“Nah, ternyata, kedatangan si badut disambut dingin seperti sebelumnya. Semua orang menutup dan mengunci pintu rumah, melarang anak-anak bermain di luar. Melihat hal itu, si badut pun kecewa.”

”Ketika mereka hendak memutuskan kembali ke hutan, si badut dan peri bertemu Jojo, anak laki-laki yang dulu  pernah membelanya. Jojo sangat senang si badut telah kembali. Ia pun membawa si badut bertemu dengan kepala desa. Melihat si badut datang, raja nampak senang. Kepala desa menceritakan apa yang telah terjadi semenjak si badut pergi. ‘Apakah kau mau mengembalikan keceriaan di desa ini?’ tanya kepala desa. ‘Tapi aku sudah tidak diharapkan lagi oleh mereka,’ jawab si badut.

‘Semua ini akibat ulah penyihir yang dianggap warga sebagai tabib. Setiap hari mereka meminta ramuan kebahagiaan. Tapi rupanya ramuan itu justru memperparah keadaan. Penyihir itu juga yang menyebabkan si badut diusir dari desa. Ia tidak suka melihat orang-orang bahagia.’

Semua yang ada di situ terkejut. Jojo terdiam cukup lama. Air mukanya tampak berubah. Ia menunduk kemudian melanjutkan cerita.

‘Penyihir itu telah memperbudakku. Aku lah yang mengajak si badut bermain saat penyihir itu menggiring anak-anak ke sungai. Hanya karena imbalan sebuah permen aku menuruti perintahnya. Tapi kemudian aku sadar bahwa penyihir itu jahat. Aku sangat menyesal.’ Ungkap Jojo.

‘Penyihir itu harus diberi pelajaran!’ peri hutan menimpali.

‘Bagaimana kita bisa mengalahkannya?’

‘Aku tahu. Kekuatannya akan lenyap oleh energi positif manusia. Saat ia berbuat jahat, kita tidak boleh terpancing emosi. Emosi negatif justru membuat kekuatannya semakin bertambah.’

‘Jadi, kita harus membalas perbuatan jahatnya dengan perbuatan baik?’

Jojo mengangguk.

‘Bagaimana caranya?’

‘Kudengar penyihir itu tengah terbaring sakit akibat salah meminum ramuannya sendiri. Kurasa kita harus menjenguknya.’

”Keesokan hari, merekapun menjalankan misi. Si badut berkunjung ke pondok penyihir dengan membawa sekeranjang kue labu. Jojo dan peri hutan mengawasinya dari jauh. Mereka akan segera bertindak jika terjadi sesuatu. Si badut mengetuk pintu pondok kayu. Tak berapa lama, pintu itu terbuka. Di sudut ruangan, si penyihir tampak terkejut melihat kedatangannya.

‘Apa yang kau lakukan di sini makhluk konyol?’ tanya si penyihir.

‘Kudengar kau sakit. Aku datang menjengukmu, kawan.’ Si badut tersenyum, berjalan mendekat.

‘Aku membawa kue labu kesukaanmu. Coba lah, ini enak sekali. Apakah kau sudah makan?’

Penyihir itu tambah geram. Dilemparnya benda-benda di dekatnya untuk mengusir si badut.

‘Enyah kau dari hadapanku! Dasar makhluk bodoh!’

Lagi-lagi badut hanya tersenyum. Diletakkannya keranjang kue itu di meja. Diambilnya sepotong, diberikannya kepada penyihir yang terbaring lemah.

‘Aku terlahir untuk berbagi kebaikan dan menebarkan kebahagiaan. Aku tak punya niat jahat untuk menyakiti siapapun. Percayalah, aku datang untuk menjengukmu.’

‘Enyah, kau!’ Diarahkannya tongkat sakti penyihir pada si badut. Nihil, manteranya tak membuahkan hasil. Dicobanya berkali-kali, namun tak pernah berhasil. Kekuatan si penyihir telah lenyap. Menyadari itu, ia lantas tersedu-sedu. Badut itu duduk di tepi dipan, tempat si penyihir berbaring. Penyihir itu melempar tongkatnya, ia menangis, menyesali perbuatannya.

‘Kau benar-benar tulus dan baik hati. Aku telah mempermalukan diriku sendiri.’ Isak si penyihir. Si badut tersenyum. Diraihnya sepotong kue di meja, lalu disuapkan pada penyihir dengan hati-hati.

‘Maafkan aku, aku telah berbuat jahat padamu.’

‘Aku sudah memaafkanmu. Setelah sembuh, berhentilah menjadi penyihir jahat. Kau harus berubah menjadi orang yang baik. Kau bisa menggunakan kemampuanmu untuk menolong sesama.’

”Penyihir mengangguk pelan. Diperhatikannya si badut yang merawat dirinya dengan sabar. Selama tujuh hari, si badut selalu mengunjungi penyihir hingga sembuh. Ia datang membawa obat dan makanan. Si penyihir kian yakin jika badut benar-benar baik hati. Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahat lagi. Namun, si penyihir memilih meninggalkan desa itu. Ia pergi mengasingkan diri untuk mengubur kenangan buruknya dan memulai kehidupan baru.”

”Perlahan suasana pulih seperti semula. Si badut kembali disambut dengan suka cita. Derai tawa anak-anak mulai terdengar. Tak ada lagi duka dan sedih berkepanjangan. Desa itu pun diselimuti kebahagiaan dan keceriaan seperti sedia kala. Tamat.” Pak Eko mengakhiri cerita.

Anak-anak bertepuk tangan. Beberapa di antara mereka tampak menyeka sudut mata. Entah karena terharu atau sebab menguap. Usai menamatkan cerita, seperti biasa ia akan membagikan hadiah kepada anak-anak. Entah sebungkus permen atau sekeping roti, ia tak pernah lupa berbagi.

Dari jauh, aku diam-diam memperhatikan. Cerita itu pernah kudengar sebelumnya. Pada hari dan waktu yang sama, tujuh tahun lalu. Hanya ada kami berdua ketika itu. Aku bertanya, apakah dongeng hanyalah imajinasi, interpretasi mimpi, atau sebuah ironi.

”Dongeng tak selalu menjual fantasi. Ia hanya kiasan yang tak jauh-jauh dari pengalaman hidup itu sendiri. Kau tahu, Nak, fiksi adalah salah satu cara terbaik menyampaikan fakta. Fakta yang disulap menjadi narasi,” jawab lelaki itu sembari memasukkan buku-buku ke dalam keranjang.

Aku mengangguk, lantas tersenyum.

”Saya paham. Badut dalam cerita ini adalah Pak Eko sendiri kan?”

Ganti lelaki itu tersenyum. Ia meraih sepeda yang tersandar di dinding pos. Bersiap-siap pergi.

“Nak, aku lah tokoh yang tengah berusaha menepati janji pada si badut itu.”

Sesaat aku terhenyak, mengangguk, tanpa bertanya lagi.“

 

Penulis: Zanna Afia Deswari

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone