Penjelasan Pathogenesis di tengah Pro Kontra Vasektomi. (Foto: Sefya Hayu Istighfaricha)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Vasektomi merupakan suatu tindakan medis operatif yang masih saja menuai pro-kontra. Perdebatan ini terjadi karena sampai saat ini mekanisme perubahan jaringan prostat pada penderita pasca vasektomi belum jelas.

Persoalan tersebut dikemukakan Dr. Muhammad Ishaq Hardiansyah, Sp.U saat mempresentasikan hasil disertasinya melalui Ujian Doktor Terbuka Program Studi Jenjang Doktor Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) dengan disertasi berjudul “Dampak Vasektomi pada Kelenjar Prostat” yang berlangsung di Aula FK UNAIR, Jumat (28/8).

Sampai saat ini, pelaksanaan metode kontrasepsi pada pria masih menimbulkan suatu perdebatan, mengingat sejumlah laporan menyatakan bahwa ada hubungan positif antara vasektomi dengan keganasan prostat.

Beberapa sumber bahkan melaporkan bahwa pada pria yang telah mengalami vasektomi kemungkinan memiliki resiko lebih tinggi mengalami kanker prostat. Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh peneliti lainnya yakni Stephen, dkk (1991), yang melaporkan bahwa tidak ada hubungan antara vasektomi dengan terjadinya kanker prostat.

Meski sejumlah laporan dari peneliti sebelumnya menyatakan bahwa ada keterkaitan antara vasektomi dengan karsinoma prostat, namun untuk mencegah keraguan terhadap terjadinya kanker prostat pada akseptor KB pria yang di vasektomi, maka dalam penelitian ini, Ishaq berupaya menjelaskan pathogenesis perubahan jaringan prostat setelah vasektomi.

“Berdasarkan fenomena tersebut, saya merasa tergugah untuk melakukan penelitian prostat pada pria pasca vasektomi,” ungkapnya.

Pada dasarnya, vasektomi merupakan suatu tindakan medis operatif, yaitu dengan cara melakukan pengikatan dan pemotongan vas defferent, yang mengakibatkan transportasi spermatozoa dari testis ke vesikaseminalis terbendung sehingga semen menjadi azoospermia.

Pada pria pasca vasektomi dalam tubuhnya akan terjadi peningkatan kadar testosterone. Hal ini disebabkan karena adanya penyumbatan pada vas defferen, sehingga terjadi peningkatan tekanan intratestikuler dan peningkatan jumlah aktifitas sel leydig.

Selain terjadi peningkatan kadar testosterone juga terjadi peningkatan dehidrotestoteron. Peningkatan tekanan intratestikuler akibat vasektomi ini mengakibatkan membrane sel leydig di dalam testis akan mengalami perubahan permeabelitas.

“Sementara untuk mengungkap pathogenesis tersebut, diperlukan jaringan yang berkaitan dengan sistem reproduksi pria, antara lain adalah testis dan kelenjar prostat,” ungkapnya.

Dalam kesehariannya, Ishaq berprofesi sebagai dokter spesialis urologi di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, sekaligus Ka. SMF Urologi di Unmul Samarinda-RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda.  Perjuangan berat harus dilaluinya selama menempuh pendidikan di FK UNAIR.

“Harus sering bolak-balik Surabaya – Samarinda selama kuliah. Saya sangat bangga akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan S3 di FK UNAIR,” ungkapnya.

Setelah menempuh pendidikan doktoral selama lebih dari empat tahun, pria kelahiran  16 September 1960 ini akhirnya lulus doktor dengan predikat sangat memuaskan. Ishaq tercatat sebagai lulusan program studi jenjang doktor FK UNAIR ke-808.

Usai menyerahkan ijazah kelulusan, pemimpin sidang sekaligus guru besar bidang ilmu urologi FK UNAIR Prof Dr. Soetojo,Sp.U(K) berharap agar penelitian ini dapat terus dikembangkan.

“Jangan sampai hanya berhenti di laci saja. Penelitian ini sebaiknya dilanjutkan agar bermanfaat untuk masyarakat,” ungkapnya.

Soetojo menekankan, penelitian ini baru awal dan belum dapat membuktikan bahwa vasektomi bisa memicu kanker prostat. “Masih perlu pendalaman lebih lanjut. Dan belum mengarah ke sana,” ungkapnya. (*)

Penulis : Sefya H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone