Prof. Suwarno (paling kanan) bersama dosen FKH UNAIR dan peternak sapi perah Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Salah satu program tahunan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga  adalah kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas). Pengmas tersebut baik tingkat regional Jawa Timur maupun nasional. Kali ini pengmas diadakan di Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, bertempat di lereng Gunung Wilis yang berada pada ketinggian 507 mdpl. Kegiatan tersebut berlangsung Jumat, (31/8-14/9).

Wakil Dekan III FKH UNAIR Prof. Dr. Suwarno, drh., M.Si., mengatakan bahwa kegiatan pengmas di Kecamatan Sendang tersebut ialah mengenai sapi perah. Dalam pelaksanaannya, setiap departemen di FKH dilibatkan dalam pengmas. Mereka memberikan penyuluhan kepada 500 peternak sapi perah jenis FH (Fries Hollands) yang tergabung dalam Koperasi Tani Wilis.

“Kami memilih Tulungagung karena merupakan penghasil susu terbesar di Jawa Timur setelah Malang dan Pasuruan. Di sana juga ada alumni FKH yang merupakan manajer dari KUD Tani Wilis,” tambahnya.

Prof. Suwarno menambahkan, kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Sri Pantja Madyawati, drh., M.Si selaku ketua pengmas. Tujuannya, guna memberikan penyuluhan dengan tema ‘Aplikasi Dot Pedet Pengganti Susu Induk’.

“Respon masyarakat sangat baik. Terbukti, mereka mau menyerap ilmu yang kita sampaikan. Mereka juga belum mau beranjak walaupun waktu sudah pukul 24.00 dini hari,” tambah Prof Suwarno.

Mengenai aplikasi dot pedet pengganti susu induk, Prof Warno menuturkan, agar sapi dapat memproduksi susu kembali, maka anak sapi (pedet) setelah lahir tidak boleh langsung menyusu kepada induknya. Pedet harus langsung disapih dengan memberi susu induknya yang mengandung kolostrum melalui botol atau dot selama 3-5 hari.

“Setelah 3-5 hari susu yang mengandung kolostrum akan berubah menjadi susu biasa yang harus disetorkan ke koperasi. Sebagai pengganti susu induk, pedet tadi akan diberi susu formula,” tambahnya.

Kelebihan pengmas kali ini, lanjut Prof Warno, adalah pada pada penggunaan dot. Yang mana, biasanya peternak memberikan susu tidak menggunakan dot melainkan menggunakan bak yang diletakkan di tanah. Hal itu akan menyebabkan pedet terlalu membungkuk dan susu akan langsung masuk ke rumen pedet. Sedangkan rumen dari pedet itu belum siap untuk mengolah susu.

“Rumen dari pedet itu digunakan untuk mengolah rumput. Kalau pedet meminum susu dan susu itu mengalir ke rumen yang belum siap, maka pedet akan mengalami diare,” tambahnya.

Teknik tersebut adalah salah satu teknik yang berguna untuk mengurangi kematian pada pedet akibat salah minum. Terbukti, populasi sapi yang dimiliki mayarakat Sendang sebanyak 9.500 ekor. Selain itu, pada tahun 80’an, jumlah susu yang bisa diproduksi sekitar 1000 liter/hari. Saat ini, susu yang dihasilkan KUD Tani Wilis ialah 54.000 liter/hari.

“Kami berpesan, jika mau bersungguh-sungguh dalam produksi susu, maka harus dilakukan dengan niat serta hati yang ikhlas. Kerjaan ini memang berat, namun kalau kita mengerjakan dengan ikhlas maka kita akan mendapatkan income yang besar,” pungkasnya. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone