Prof. Dr. Med Puruhito, dr., SpB (K) TKV saat memberikan kuliah tamu membahas kurikulum abad 21, Jumat (21/9). (Foto: Binti Q. Masruroh)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Mempersiapkan SDM yang mampu bersaing di era revolusi industri 4.0, Universitas Airlangga menggelar kuliah tamu membahas kurikulum abad 21. Pertemuan yang berlangsung Jumat (21/9) ini membahas kerangka pengembangan kurikulum pendidikan tinggi, untuk mempersiapkan SDM Indonesia tahun 2045 saat kemerdekaan Indonesia masuk usia ke-100 tahun.

Kuliah tamu ini menghadirkan tiga narasumber. Ialah Prof Nancy Margarita Rehatta, dr., Sp.An., KK., KNA, (Fakultas Kedokteran UNAIR), Prof. Dr. Med Puruhito, dr., SpB (K) TKV (Fakultas Kedokteran UNAIR), dan Prof Debra Si Mui Sim, MD., PhD. (University of Malaya).

Sesuai laporan yang diterbitkan oleh Pricewaterhouse Coopers (PwC), Indonesia diprediksi akan menjadi negara terkuat kelima di dunia di bawah China, Amerika, India, dan Jepang di tahhun 2030. Terkait hal itu, Prof Puruhito mengungkapkan bahwa perguruan tinggi harus mampu menyiapkan SDM yang dapat bersaing dengan dunia global.

“Kita (perguruan tinggi, Red) harus punya kemampuan multidisiplin. Dasarnya kemampuan menguasai teknologi informasi,” terang Prof Ito, sapaan karibnya.

Dikatakan Prof Ito yang merupakan Rektor UNAIR tahun 20001-2005 bahwa perubahan konsep kurukulum pendidikan itu dimulai dari general education. Liberal arts, dimana semua ilmu masuk. Sehingga orang menjadi generalis. Dengan dasar generalis itu maka masing-masing akan jadi sarjana yang mana dasarnya sama.

Selain liberal arts, konsep pendidikan yang harus diberikan untuk menyiapkan SDM adalah penguasaan teknologi informasi (IT). Sebagai contoh, saat ini beberapa alat pendeteksi penyakit mulai bermunculan. Lantas, bagaimana seharusnya dokter bersikap? Prof Ito mengatakan, dokter harus mampu membaca apakah alat kesehatan mampu mendiagnosis sesuai dengan keadaan sebenarnya?

“Artinya, waktu kita menjadi dokter, kita tidak hanya membaca alat, tapi perilaku pasien. Untuk itu seorang dokter juga harus menguasai teknologi dan juga sosiologi,” papar Prof Ito.

Ketiga, diperlukan adanya resource share. Tanpa resource share, lanjut Prof Ito, perguruan tinggi lemah. Masing-masing orang memiliki kekuatan tapi tidak mengetahui hal itu. Untuk itu, perlu men-share mengetahuan antar masing-masing pelaku disiplin ilmu.

Menurut Prof Ito, ada tujuh keterampilan khusus yang diperlukan dalam era Revolusi Industri 4.0. Ketujuh keterampilan itu adalah critical thinking, people management, emotional intelligence, judgement, negotiation, cognitive flexibility, dan knowledge production and management.

“Kesanalah kita akan menuju. Nanti perguruan tinggi akan jadi satu: menciptakan manusuia super yang bisa menguasai banyak bidang, dengan kaliber atau dasar yang sama. Karena yang kita hadapi adalah dunia yang serba diatur oleh IT,” paparnya.

Terkait kurikulum abad 21 ini, perguruan tinggi menjalankan programnya masing-masing. Kemristek-dikti memberikan bantuan berupa dukungan teknis dan pendanaan, dan perguruan tinggi yang menjalankan program. Sehingga, antara program perguruan tinggi satu dengan yang lain bisa berbeda. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone