Pakar kesehatan anak FK UNAIR Mahendra Tri Arif Sampurna, dr., SpA saat memberikan pelatihan di Hall Airlangga Medical education Center (AMEC) FK UNAIR, Rabu (12/9). (Foto: Sefya Hayu Istighfaricha)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebagai upaya menurunkan angka kematian bayi baru lahir, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan bakti sosial berupa pelatihan stabilisasi bayi baru lahir, di Hall Airlangga Medical education Center (AMEC) FK UNAIR, Rabu (12/9). Kegiatan pelatihan ini diikuti puluhan peserta dari kalangan dokter umum, bidan, dan perawat di Surabaya.

Berdasarkan evaluasi Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015, kasus kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia masih pada posisi 305 per-100.000 kelahiran. Padahal target yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah 102 per-100.000 kelahiran.

Pakar kesehatan anak FK UNAIR Mahendra Tri Arif Sampurna, dr., SpA mengungkapkan, kematian bayi baru lahir paling banyak disebabkan oleh asphyxia yang terjadi saat 1 jam pertama setelah dilahirkan. Asphyxia merupakan kondisi dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur.

Dalam hal ini dokter, bidan, dan perawat adalah satu tim dan harus kompak. Selain perlu didukung dengan ketersediaan alat-untuk menstabilkan bayi baru lahir, juga diperlukan pengetahuan serta skill yang mumpuni agar tim medis di puskesmas dapat berupaya dengan cara yang tepat saat menghadapi kasus tersebut.

Mengingat penanganan asphyxia tergolong darurat, maka diperlukan kesiapan bagi tenaga medis untuk melakukan resusitasi dan stabilisasi bayi pada setiap pertolongan persalinan. Jika tidak, maka dikhawatirkan dampak asphyxia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna.

Sebelumnya telah dilakukan sebanyak 18 kali kegiatan pelatihan tentang resusitasi, stabilisasi, serta transportasi ke seluruh puskesmas dan rumah sakit di Surabaya.

“Hasilnya, terjadi penurunan angka kematian yang cukup drastis hingga mencapai 6,8%, namun itu hanya di Surabaya saja. Sementara di luar itu kami tidak bisa mengendalikan,”ujarnya.

Pihaknya bahkan telah melakukan serangkaian penelitian di delapan puskesmas di Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan serta skill para petugas medis di puskesmas, termasuk bidan dan perawat di dalamnya.

Dengan begitu, tim peneliti dapat memiliki dasar penilaian untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan skill para petugas kesehatan dalam menangani permasalahan yang terjadi pada proses persalinan.

Upaya FK UNAIR menurunkan angka kematian bayi juga mendapat dukungan banyak pihak. Bersama Dinas kesehatan Kota Surabaya, FK UNAIR membina sejumlah puskesmas. Bahkan, beberapa tahun lalu telah dicanangkan program Penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak (PENAKIB) yang dikelola bersama oleh Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNAIR, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR serta Organisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

“Selama beberapa tahun, program ini sudah menunjukkan penurunan angka kematian bayi,”jelasnya.

Tak hanya itu, IDAI bersama Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR serta Dinas Kesehatan Kota Surabaya  juga menghadirkan mobil ambulance bernama NETS (Neonatal Emergency Transport Service). Kendaraan ini disediakan untuk mempermudah proses akomodasi para pasien bersalin rujukan dari puskesmas ke rumah sakit regional.

Cukup menghubungi 112, maka ambulance akan menjemput para bidan atau pasien bersalin yang dirujuk dari puskesmas menuju rumah sakit regionalnya.

“Sudah ada ambulance NETS 1, rencananya nanti akan ditambah lagi. Bu Risma sangat mendukung program kami  untuk keselamatan ibu dan bayi,” ungkapnya.

Mahendra mengatakan, sekitar 68% persalinan dibantu oleh bidan. Dengan demikian bidan juga punya andil untuk mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka kematian bayi baru lahir. Mahendra berharap dengan mengikuti pelatihan ini para dokter bidan dan perawat dapat meng-upgrade pengetahuan dan skill mereka tentang cara melakukan resusitasi dan stabilisasi bayi baru lahir secara benar dan efektif. (*)

Penulis : Sefya H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone