GRISELDA Malindda Eliza Putri, dua dari kiri, bersama sejumlah peserta dari negara Asia Pasifik. (Foto: Istimewa)
GRISELDA Malindda Eliza Putri, dua dari kiri, bersama sejumlah peserta dari negara Asia Pasifik. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat PSDKU UNAIR di Banyuwangi lolos program Youth Camp APACT (Asian Pacific Conferrences on Tobacco or Health) 12th pada Sabtu (15/5). APACT Youth Camp merupakan wadah atau ruang bagi pemuda dari negara-negara di Asia Pasifik untuk turut menjawab tantangan epidemik tembakau. Yakni, melalui konferensi bertajuk APACT Ke-21 di Bali.

Kegiatan tersebut berisi beberapa kegiatan. Di antaranya, workshop kampanye digital marketing, advokasi, youth mixer dinner, serta pemaparan ide dan kegiatan kampanye anti tembakau. Adalah Griselda Malindda Eliza Putri yang berhasil lolos dan menjadi peserta Youth Camp APACT.

”Awalnya saya mendapat informasi mengenai adanya program Youth Camp APACT 12th ini dari grup WhatsApp kelas. Yang informasinya dikirimkan salah satu dosen. Setelah membacanya, saya tertarik untuk mencoba. Pikiran saya, If I don’t try this and make challenge, then when I’ll got the chance. Jadi, akhirnya saya mencobanya,” ujarnya saat ditemui tim UNAIR NEWS.

Griselda berhasil menembus ketatnya seleksi program tersebut atas keterbiasannya dengan tema problem tembakau. Keberaniannya untuk mendaftar pada program itu bermula dari pengalamannya mengikuti salah satu kampanye pengendalian rokok di kampus. Program Studi Kesehatan Masyarakat PSDKU UNAIR di Banyuwangi menggelar kampanye pengendalian rokok bertajuk Sosialisasi Serentak (Soser).

Kegiatan Soser itu melibatkan masyarakat untuk turut mendeklarasikan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Termasuk penandatanganan petisi KTR dan long march yang diakhiri di taman Blambangan Banyuwangi.

Griselda akhirnya memberanikan diri untuk ikut seleksi program Youth Camp APACT 12th pada Rabu (12/9) hingga Sabtu (15/9). Tepatnya di Parumahan Meeting Room Hotel Hilton Bali Resort, Nusa Dua.

Selain itu, pengalaman sebagai panitia sosialisasi serentak penegakan perda (peraturan daerah) bupati Banyuwangi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan KTM (Kawasan Terbatas Merokok) menjadi bagian yang tak kalah penting bagi Griselda. Khususnya dalam turut mengantarkannya bisa lolos. Hal itu menjadi salah satu pertimbangan atas bukti kontribusinya dalam pengendalian rokok di daerahnya.

Keberhasilannya itu juga tak terlepas dari dosen pembimbingan Susy K. Sebayang, S.P., M.Sc., Ph.D, salah seorang dosen FKM UNAIR di Banyuwangi. Tahap demi rahap akhirnya mampu dilewati Griselda dengan baik sehingga lolos Youth Camp APACT 12th .

”Selama di sana, saya mendapat banyak ilmu include fakta-fakta mengenai tembakau di Indonesia maupun dunia. Kebohongan industri rokok dan dampak merokok, khususnya dalam pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) 2030,” kata Griselda.

”Peran pemuda dalam kampanye pengendalian rokok, bertukar ide dengan pemuda se-Asia Pasifik about how to solve the cigarette problem, menjalin koneksi dengan pemuda-pemuda hebat dari berbagai penjuru dunia,” imbuh mahasiswa semester V itu.

Pada akhir, Griselda berharap bisa mengimplementasikan ilmu yang dapatkannya selama di sana. Khususnya untuk menerapkan upaya pengendalian tembakau di Banyuwangi, juga Indonesia. Pengalaman yang menarik membuat Griselda berharap bisa kembali mengikuti Youth Camp APACT 13th berikutnya di Bangkok pada 2020. (*)

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone