Pusat Karir Perguruan Tinggi Se-Indonesia Sharing Tantangan di UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ASOSIASI Pusat Karir Indonesia atau Indonesia Carier Center Network (ICCN) menggelar pelatihan di Ruang Sidang Pleno, Lantai 3, Kantor Manajemen UNAIR, pada Rabu (19/9). (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)
ASOSIASI Pusat Karir Indonesia atau Indonesia Carier Center Network (ICCN) menggelar pelatihan di Ruang Sidang Pleno, Lantai 3, Kantor Manajemen UNAIR, pada Rabu (19/9). (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)

UNAIR NEWS – Sebanyak 68 perwakilan perguruan tinggi seluruh Indonesia membahas tantangan pengembangan karir mahasiswa di Universitas Airlangga. Pembahasan tersebut terangkum dalam kegiatan bertajuk Career Center Officer Program (CCOP). Yakni, sebuah program pelatihan dan peningkatan pengetahuan dan kapasitas yang dirancang untuk pengelola pusat karir perguruan tinggi di Indonesia.

Pertemuan tersebut resmi dibuka langsung oleh Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt., pada Kamis pagi (19/9). Bertempat di Ruang Sidang Pleno, Lantai 3, Gedung Manajemen UNAIR, pertemuan tersebut dilanjutkan dengan penyampaian materi hingga Kamis (20/9).

Ketua Pusat Pengembangan Karir dan Kewirausahaan (PPKK) UNAIR Dr. Elly Munadziroh, drg., MS., sekaligus ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu program tahunan dari Asosiasi Pusat Karir Indonesia atau Indonesia Carier Center Network (ICCN). UNAIR mendapat kehormatan menjadi host pelaksanaan kegiatan CCOP 1.0.

”Ini (CCOP 1.0, Red) menjadi yang kali ketiga. Sebelumnya di Bandung,” ujarnya.

”Tujuannya, sharing bagaimana pengelolaan atau manajemen pengembangan karir yang baik. Ini diikuti perguruan tinggi dari Samarinda, Pontianak, Makassar, Batam, dan beberapa kota di Jawa” imbuhnya.

Sementara itu, terkait dengan pergelaran kegiatan tersebut, Junaidi mewakili UNAIR sangat menyambut baik. Problem pengembangan karir mahasiswa saat ini menjadi problem bersama yang tidak mudah. Terutama pengaruh perkembangan era yang disebut Revolusi Indutri 4.0.

”Strategi langkah-langkah yang tepat diperlukan agar mampu memanajemen karir para mahasiswa. Karena itu, ini (CCOP 1.0, Red) sangat penting digelar. Khususnya sesi sharing antar lembaga pengembangan karir,” katanya.

Junaidi menambahkan, faktanya, persentase peminat karir mahasiswa di interpreneurship lebih tinggi dibanding entrepreneurship. Artinya, yang berminat menjadi pegawai lebih banyak daripada yang ingin menjadi pengusaha. Idealnya, lanjut dia, keduanya harus seimbang.

Karena itu, diperlukan penguatan kelembagaan dari setiap pusat pengembangan karir di perguruan tinggi masing-masing. Salah satunya, melalui penguatan organisasi jaringan atau network antar-pusat karir dengan kegiatan pelatihan semacam itu. Khususnya melalui ICCN dengan komitmen yang kuat.

Problem Terkini

Beberapa akreditasi perguruan tinggi saat ini turut menyertakan borang terkait dengan pengembangan karir oleh perguruan tinggi. Hal tersebut memberikan indikasi adanya problem mahasiswa pascakampus yang mesti disiapkan lebih dini oleh perguruan tinggi. Khususnya bidang karir.

Dalam paparan materi pertama, Dr. Elly menyampaikan bahwa ada beberapa problem mahasiswa saat ini yang mesti segera dihadapi. Yakni, terkait dengan pengembangan soft skill. Saat ini yang dibutuhkan adalah mahasiswa yang memiliki kemampuan inovasi dan kreasi.

”Kita harus membiasakan mahasiswa untuk inovatif dan kreatif,” ujarnya.

Dr. Elly menambahkan, yang terpenting soft skill itu adalah mindset entrepreneur. Menurut dia, seseorang boleh saja berkarir dalam ranah interpreneurship. Namun, pola pikir tetap harus entrepreneur. Yakni, tetap berorientasi pada job creator bukan Job seeker. Dia mencontohkan keberhasilan alumnus UNAIR Iganasius Jonan saat mampu mengubah manajemen dan kinerja PT Kereta Api Indonesia (KAI). (*)

 

Penulis: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu