Penelitian Mahasiswa FK UNAIR Masuk 10 Terbaik Asian Pacific Stroke Conference 2018. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Di ajang Asian Pacific Stroke Conference (APSC) 2018 yang berlangsung pada pada 8-9 September 2018 di Jakarta, mahasiswa S1 Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) Rendra Dwi Putra S.Ked berkesempatan memaparkan hasil penelitiannya di depan ratusan peserta konferensi dari berbagai negara. Yang mengejutkan, penelitian itu kemudian diapresiasi oleh asosiasi stroke tingkat Asia Pasifik.

Selain berkesempatan mempresentasikan penelitian berjudul ‘Correlation Between High Blood Pressure and Bleeding Volume with Degree Of Conciousness And Mortality In Intracerebral Hemorrhage Patients In The Neurologic Section Of Rsud Dr.Soetomo In 2014’, abstrak dari penelitian tersebut juga berhasil masuk kedalam 10 best abstract from low and middle income countries. Bahkan, dokter muda ini  kembali dipanggil ke atas panggung untuk menerima  travel grant best abstract dari Asia Pacific Stroke Organization (APSO).

Dalam penelitian ini, Rendra mengemukakan adanya keterkaitan antara tekanan darah, volume perdarahan dengan derajat kesadaran serta kematian pada pasien stroke perdarahan.

Penelitian ini merupakan penelitian tugas akhir pre klinik untuk memenuhi syarat yudisium. Dari penelitian ini, Rendra mendapat pendampingan dari Mohammad Saiful Ardhie, dr., Sp.S,Djohar Nuswantoro , serta dr., MPH, Achmad Firdaus Sani, dr., Sp.S, FINS  sebagai dosen pembimbing dan penguji saat sidang.

Sampai saat ini insidensi dan angka mortalitas penderita stroke terus meningkat di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 mencatat penderita stroke di Indonesia mencapai 1.236.825 jiwa dan provinsi Jawa Timur berada pada urutan ketiga tertinggi sebagai provinsi dengan penderita stroke terbanyak, yaitu 302.987 jiwa.

Penyakit stroke beserta ancaman kematian serta kecacatan yang cukup tinggi mendorong para peneliti dunia serta pakar kesehatan khususnya bidang saraf untuk terus berupaya mengkaji permasalahan tersebut.

Untuk itu upaya memperbarui keilmuan serta memperkaya wawasan mutlak diperlukan bagi para sejawat dokter agar bisa mengikuti perkembangan teknologi pengobatan dalam hal penanganan stroke.

Tahun ini APSC 2018 digelar di Jakarta. Kesempatan yang tidak ingin dilewatkan begitu saja bagi para dokter, perawat, peneliti, mahasiswa yang berminat memperbarui keilmuan dalam hal penanganan kasus stroke.

Di acara tersebut, Rendra datang bersama sejumlah staf pengajar, termasuk dosen pembimbingnya, yakni Mohammad Saiful Ardhi dr., SpS. Saiful mengaku antusias karena tahun  ini Jakarta terpilih sebagai tuan rumah APSC 2018.

Penyelenggaraan APSC pada tahun-tahun sebelumnya berlangsung di luar negeri. Tahun 2014 di Taipei, tahun 2015 di Malaysia, kemudian di Australia, dan terakhir APSC 2017 berlangsung di China.

“Banyak hal yang bisa kami perlajari dari konferensi tersebut. Para pakar stroke berbagai negara membahas perkembangan terkini seputar diagnosis, terapi, hingga strategi pencegahan stroke,” ungkapnya.

Selain oral presentation, dalam konferensi tersebut juga ditampilkan poster ilmiah dari berbagai negara seperti  Indonesia, Australia, Amerika, Jepang, India, China, Singapura, Thailand, Taiwan, Filipina, hingga Malaysia.

Terdapat enam tulisan jurnal yang accepted dari perwakilan Departemen Neurologi FK UNAI-RSUD dr. Soetomo Surabaya. Terdiri dari lima buah poster presentation dan satu oral presentation. Tulisan-tulisan ini akan dimuat dalam jurnal terbitan Karger, yaitu supplemen jurnal Cerebrovascular Diseases. Bahkan dari UNAIR ada lima penelitian yang masuk jurnal Scopus.

Saiful berbagi pengalaman unik selama dua hari mengikuti acara tersebut. Jika umumnya panitia seminar mengadakan tour ke tempat wisata, kali ini Panitia APSC mengajak peserta konferensi berwisata malam ke Rumah Sakit PON (Rumah Sakit Pusat Otak Nasional) Jakarta.

“Ini menarik, karena kami bisa langsung melihat seperti apa fasilitas rumah sakit milik kementerian kesehatan,” ungkapnya.

Kedatangan mereka ke Jakarta ternyata juga menjadi ajang reuni dengan sesama alumni FK UNAIR yang bertugas di RS PON, yakni dr. Adin Nulkhasanah, SpS MARS (Wakil direktur SDM dan diklit RS PON), dr Ita Muharramsari SpS dan dr Diorita SpS. (*)

Penulis : Sefya H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone