Peserta menyimak materi dari pembicara School of Journalism, di Aula Mindrowo, Kampus B UNAIR (8/9) (Foto : Rolista Dwi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa SEKTOR Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga mengajak mahasiswa bergelut dengan dunia jurnalistik. Untuk itu, mereka mengadakan acara bertajuk School of Journalism dengan mengangkat tema ‘Membara Bersama Pena dan Kamera’ di Aula Mindrowo Kampus B, Sabtu (8/9).

School of Journalism  mengundang tiga pembicara bidang kepenulisan, baik dari kalangan mahasiswa maupun praktisi. Mereka adalah Moh. Wahyu S, Musahada, dan Wirasakti Setyawan. Pengalaman yang dibagikan oleh para pembicara meningkatkan motivasi para peserta.

Musahada editor Surya Online mengatakan bahwa menjadi jurnalis terikat dengan kode etik, memiliki skill khusus, dan terikat aturan perusahaan. Sedangkan reporter warga harus bertanggung jawab pada diri sendiri dan tidak terikat etika kerja wawasan profesional.

Bekal menjadi reporter khusunya, terdiri dari tiga haluan. Pertama skeptis; kedua curios atau memiliki rasa ingin tahu yang tinggi; dan ketiga nose, memiliki ‘penciuman’ yang tajam. Di sisi lain, terdapat bekal yaitu observasi, kepribadian yang luwes, serta daya ingat yang tajam.

Sementara itu, penulis buku Pelangi Diri dan 46 buku antologi Moh. Wahyu mengatakan bahwa ia memiliki target untuk bisa menerbitkan satu buku dalam satu semester.

“Menjadi penulis buku awali dengan niat. Dalam satu semester saya menarget minimal ada satu buku yang diterbitkan,” ujarnya.

Wahyu sapaan akrabnya, menerapkan target dengan meluangkan waktu tersendiri. Yaitu, sepertiga malam setelah tahajud merupakan waktu yang cocok untuk berinteraksi dengan kata.

Sementara itu, Wirasakti Setyawan yang dikenal sebagai seorang fotografer handal dan sajak yang diciptakannya mampu menerbitkan buku berjudul Temu. Buku itu menceritakan perjalanannya hingga menginjakkan kaki di Amerika. Hingga naskah ini diterbitkan, akun Instagram miliknya dengan nama @terjebakrindu telah diikuti 21.3K followers.

Menurutnya, dunia perkuliahan tidak terbatas dari angka 0 hingga angka 4. Hal itu mampu membawa semangat dan kebangkitan bagi mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Ia mengatakan, memotret tidak hanya dari kamera yang mahal dan tidak harus memiliki kamera sendiri. Memotret bukan juga dari kesukaan, tapi skill yang dimiliki. Lalu, lakukan pengeditan gambarmu dengan aplikasi Photoshop dan sejenisnya.

Sajak Wirasakti yang cukup terkenal yaitu “Ketahuilah bahwa cinta bukanlah takaran gelas. Ia laut yang berombak bebas”. Maka, lakukanlah kebiasaanmu dengan konsisten untuk hasil yang dituju. Karena setiap orang memiliki daulat penuh untuk menentukan kemana ia harus ‘pergi’. (*)

Penulis : Rolista Dwi Oktavia

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone