Panitia dan peserta peringatan “World Suicide Prevention Day” berfoto bersama seusai melakukan demo pentingnya pencegahan bunuh diri, di Taman Apsari, Surabaya, Senin (10/9) lalu. (Foto: Wiwik Eryanti Ningrum)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Data kesehatan dari organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization) dan International Association of Suicide Prevention (IASP) mencatat bahwa lebih dari 1 juta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Diprediksi, pada 2020, setiap 20 detik 1 orang akan meninggal karena bunuh diri.

Bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar nomor dua pada usia dewasa muda. Pada 2010 lalu, terdapat 5000 kasus bunuh diri pertahun. Sementara 2012, angka naik menjadi 10.000 kasus pertahun dan diperkirakan akan mengalami peningkatan yang pesat.

Fenomena itu yang melatarbelakangi Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melakukan peringatan ‘World Suicide Prevention Day’. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada (10/9) lalu di Taman Apsari Surabaya. Peringatan itu dibuka dengan sambutan oleh ketua acara Nalini Muhdi, dr. SpKJ (K).

Dalam sambutannya, Nalini menyampaikan keprihatinanya melihat kondisi masyarakat dunia yang mana jumlah korban bunuh diri semakin bertambah setiap hari. Adapun rangkaian kegiatan peringatan ‘World Suicide Prevention Day’ meliputi pembacaan puisi, menyalakan lilin bersama pada pukul 20.00 di seluruh dunia, pembagian leaflet tentang upaya pencegahan bunuh diri, serta membetangkan spanduk bertuliskan ‘World Suicide Prevention Day’.

“Menyalakan lilin adalah sebagai lambang harapan. Nyalanya mampu memberi cahaya bagi mereka untuk tetap bertahan hidup dan memiliki harapan seperti orang-orang pada umumnya. Pada momen ini juga sekaligus mendoakan korban-korban yang tak sempat terselamatkan agar tenang di alamnya,” jelas Damba Bestari, dr. SpKJ selaku sekretaris umum.

“Selain kegiatan ini kami juga akan memperingati kegiatan serupa pada 10 Oktober mendatang yang merupakan Hari Kesehatan Jiwa Dunia,” imbuhnya.

Kegiatan yang baru pertama diadakan oleh Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Cabang Surabaya ini tidak hanya dihadiri oleh dokter-dokter dan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Turut hadir pula berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang humanis serta seorang sukarelawan mantan pelaku percobaan bunuh diri (survivor suicide attempts).

“Dari kegiatan ini diharapkan setiap orang tidak hanya mampu menjaga kesehatan jasmani, tetapi juga kesehatan rohaninya. Serta tidak mudah menaruh stigma buruk dan mengucilkan mantan pelaku percobaan bunuh diri. Memberi mereka tempat agar tetap survive melanjutkan hidup dan mengurangi beban pikiran mereka,” pungkasnya.

Penulis : Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone